Tepat satu bulan yang lalu saya dan 4 orang teman lain mulai menulis setiap hari. Kami menamakan kegiatan itu dengan nama “Proyek Menulis Petra“. Sebab, proyek ini tercipta di Klub Buku Petra. 

Pada diskusi buku bulan Januari 2020 di Klub Buku Petra, saya mengajak Hermin, Cici, Feby dan Rio untuk terlibat dalam kegiatan “menulis 1000 kata setiap hari. Awal tahun depan, tahun 2021, kami ingin sekali menerbitkan buku. Itulah tujuan awal kami berlima. 

Kami sepakat bahwa keinginan menerbitkan sebuah buku, entah itu kumcer, novel, esai, dan apa pun juga, tidak akan terjadi jika tidak ada tulisan yang dihasilkan. Bercita-cita setinggi langit, tetapi tidak melakukan sesuatu adalah sia-sia. Kurang lebih begitu pendapat kami. 

Awalnya saya tidak menyangka bahwa ide tentang proyek menulis itu diterima oleh keempat teman lain. Tetapi, setelah saya membuat grup WhatsApp dan memasukkan nama-nama mereka, ngobrol dan diskusi di dalam group itu begitu seru. Semangat anak-anak muda ini menggebu-gebu.

Saya mengirimkan beberapa aturan dalam melaksanakan proyek ini dan semuanya setuju. Aturan-aturan itu adalah sebagai berikut:

1. Topik dan jenis tulisan boleh apa saja. Bisa cerpen, esai, opini, bahkan curahan hati diperbolehkan. 

2. Jumlah kata setiap tulisan adalah 1000. Tidak boleh kurang, boleh lebih. 

3. Tulisan yang dikumpulkan adalah tulisan terbaru dan dilarang keras mengcopy paste tulisan orang lain.

4. Tulis di MS Word.

5. Jadwal menulis dari hari Senin sampai Sabtu. Minggu adalah waktu beristirahat.

6. Batas waktu pengiriman tulisan ke grup WA adalah pukul 12 malam. Lebih dari waktu itu, dianggap tidak menulis dan dikenakan denda sebesar 20.000 rupiah per hari. 

Itulah aturan-aturan yang harus kami taati bersama. Setelah dihitung-hitung, jika proyek ini selesai, masing-masing dari kami akan menghasilkan 30 buah tulisan. Menarik sekali, bukan? 

Dalam jangka waktu satu bulan bisa menghasilkan tulisan sepanjang 30.000 kata. Kalau ditambah menjadi dua atau tiga bulan saja, sebuah novelet bahkan novel pun akan jadi. Sesederhana itu? Ya, itulah keajaiban dari sebuah kedisiplinan. 

Pada kesempatan ini saya menuliskan 5 manfaat menulis setiap hari. Berbagai manfaat ini tentunya adalah pendapat pribadi saya sejak mengikuti proyek ini. 

Bagi para penulis papan atas, bacaan ini mungkin tidak penting. Sebab, apa yang akan saya tuliskan ini adalah beberapa hal yang mungkin akan memotivasi para penulis pemula, seperti saya. Mari kita simak manfaat-manfaat itu.

Manfaat pertama yang saya rasakan adalah menjadi lebih memperhatikan kejadian-kejadian di sekitar. Menulis setiap hari sangat membutuhkan topik-topik baru setiap hari. Topik-topik itu harus ada setiap pagi. Jika telat mendapatkan ide tulisan, pasti akan sulit menyelesaikan tulisan sepanjang 1000 kata setiap hari.

Memperhatikan lingkungan sekitar adalah hal yang positif. Bukan hanya berguna untuk bahan tulisan, tetapi memang seharusnya begitu sebagai manusia. Apatis terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita adalah sifat yang tidak terpuji dan mengkerdilkan arti sebagai manusia, makhluk sosial. 

Memperhatikan keluhan-keluhan sakit dari pasien yang datang berobat, membuat saya bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar sakit atau sekadar datang berobat sebab biayanya sudah dibayarkan pemerintah? Melihat fenomena itu, saya mendapat ide sebagai bahan tulisan dengan judul “10 Tips Menjadi Pasien Cerdas”. 

Begitu juga saat memperhatikan dengan lebih cermat keluhan-keluhan pasien saat berhadapan dengan dokter. 80 sampai 85 persen pasien mengeluhkan susah buang air besar. Keluhan ini menjadi pertanyaan untuk saya, apa penyebab mereka susah buang air besar? 

Dari hasil penelusuran lebih lanjut ternyata karena konsumsi serat yang sangat kurang. Banyak dari mereka yang setiap harinya hanya makan nasi putih dan jenis makanan instan buatan pabrik. Hasil penulusuran itu saya tuliskan dengan judul “Cara melancarkan BAB”. 

Dari manfaat pertama itu, saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa (seharusnya) tidak ada penulis hebat yang hanya menghabiskan waktunya di rumah sepanjang hari demi menghasilkan karya-karya menakjubkan. Jika ada penulis seperti itu, saya yakin karyanya tidak dibaca banyak orang. 

Manfaat kedua adalah menjadi disiplin. Disiplin menulis itu penting. Namun, disiplin itu akan muncul jika memiliki tujuan yang jelas. Tujuan kami berlima adalah menghasilkan buku pada awal tahun depan. Walaupun belum jelas benar buku jenis apa yang ingin kami hasilkan, paling kurang kami sudah mempunyai banyak tulisan. Akan lebih baik daripada ingin dikatakan penulis, cerpenis atau novelis tetapi tidak pernah menghasilkan satu tulisan pun. 

Disiplin yang kami jalankan juga bersifat reward and punishment. Memberi penghargaan terhadap diri sendiri tetapi juga memberi hukuman jika diri kita tidak mampu mengatur waktu yang baik. Punishment dalam proyek ini adalah berupa uang sebesar 20.000 rupiah. 

Hingga hari terakhir proyek ini berlangsung, telah ada uang sejumlah 300.000 rupiah di bendahara proyek. Artinya dari kami berlima telah ada yang tidak disiplin menulis setiap hari. 

Tidak disiplin itu bisa saja terjadi karena skala prioritas yang masih kabur. Sebagai contoh, saya masih lebih memilih berlama-lama ngobrol dengan teman daripada menulis di waktu-waktu kosong.

Saya tahu nanti malam harus hadir sebuah undangan acara nikah. Bukannya mulai menulis di pagi hari, namun tetap berpikir nanti malam setelah balik dari acara baru mulai menulis. Alhasil, balik dari acara, karena terlalu banyak melempar senyum, tenaga sisa seperempat dan kantuk datang menyerang. Didendalah 20.000 rupiah. 

Karena cuaca yang tidak bersahabat, badan dan kepala kita menjadi sakit. Bukannya beristirahat, malah tetap bergadang. Akhirnya bukan hanya kepala dan badan yang sakit, seluruh badan terasa mau copot. 

Dengan alasan sakit ini, disiplin menulis dilanggar. Denda tetap dijalankan walaupun alasan tidak menulis sangat kuat. Ini mengajarkan kepada kita untuk tetap hidup sehat setiap saat. Jika tidak hidup sehat, jangankan menulis, mengerjakan apapun pasti tidak bisa dilakukan.  

Manfaat ketiga adalah membuat saya lebih banyak membaca. Membaca apa saja untuk mendapat ide tulisan. Benar kata penulis-penulis senior bahwa untuk bisa lebih banyak menghasilkan tulisan, harus membaca lebih banyak.

Selama mengikuti proyek ini, setiap pagi saya lebih rajin membaca. Tetapi, tentunya bukan membaca status orang di facebook. Status-status itu justru mematikan niat mencari ide tulisan. 

Semakin lama membaca status semakin hilang waktu untuk menulis. Jadi, saran saya, jika ingin menulis, singkirkan hape. Barang haram jadah itu tidak boleh ada disamping komputer saat menulis. Percayalah, saudara-saudaraku. 

Manfaat keempat adalah terlatih menulis cepat. Menulis cepat itu penting. Ide yang ada di kepala bisa muncul dan hilang seketika. Jika tidak cepat ditangkap, ide itu akan menguap dan hilang tanpa pernah dituliskan. 

Menulis dengan cepat menurunkan kualitas adalah hipotesis yang menurut saya tidak bisa diterima. Sebab, masih ada waktu untuk mengedit tulisan itu nantinya. Pada proses editing itulah tulisan akan dihaluskan, diluruskan dan diperkaya dengan pemikiran-pemikiran baru. 

Manfaat kelima adalah lebih memahami proses kerja seorang penulis. Penulis itu kerjanya menghasilkan tulisan. Jika tidak menghasilkan tulisan, mungkin dia bukan penulis, melainkan pembual sejati. 

Proses kerja penulis itu bukan sekali jadi. Sekali duduk, tulisan selesai. Butuh berjam-jam untuk menghasilkan sebuah tulisan. Di dalam proses menulis itu banyak ilmu yang bisa diambil. Misalnya, bagaimana memilih topik yang menarik, bagaimana memulai kalimat pertama agar kalimat-kalimat berikutnya lancar jaya. Semua itu hanya bisa dirasakan dan dipahami oleh penulis yang melakukan proses penulisan. Tanpa pernah menyelesaikan sebuah tulisan, sebenarnya ia bukanlah penulis. 

Terima kasih untuk Hermin, Feby, Cici dan Rio. Kalian benar-benar penulis sejati. Semangat kalian membuat saya ingin hidup 1000 tahun lagi. Semoga kita bisa menerbitkan buku di tahun 2021. Tuhan memberkati kita semua. Amin. 

Karot, 28 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.