Dunia kesehatan tahun ini kembali memperingati Hari Diabetes Sedunia dengan tema Keluarga dan Diabetes yang jatuh setiap tanggal 14 November. Keluarga menjadi kelompok penting dalam menjaga pola hidup khususnya pola makan anggota keluarganya. Di dalam kehidupan keluarga terbentuk pola hidup dasar yang akan diteruskan oleh setiap anggotanya sampai ke turunan berikutnya. Kebiasaan sarapan pagi di dalam sebuah keluarga akan berlanjut terus ketika si anak berada di luar rumah.

Pola hidup satu keluarga tentunya akan sangat berbeda dengan pola hidup keluarga lainnya. Ambil saja contoh jam makan siang. Ada keluarga yang jam makan siangnya setelah jam pulang kantor kira-kira jam 3 siang, ada keluarga yang jam 12 atau jam 1 siang sudah harus makan. Itu baru dari sisi jam makan. Belum lagi dari menu makanan hariannya, apalagi jika di dalam anggota keluarganya, misalnya ayah dan atau ibu menderita peyakit diabetes atau kencing manis, tentunya pola makan yang diterapkan sangat berbeda dengan keluarga lain. Perbedaan kecil tersebut tidaklah terlalu masalah yang terpenting kandungan gizinya terpenuhi. Anggota keluarga menjadi orang terdekat yang harus mendukung perubahan pola hidup ke arah yang lebih sehat.

Dalam sebuah survei yang dilakukan di Jakarta, sebanyak 87,5 persen responden mengaku butuh dukungan orang terdekat untuk mengingatkan tentang pola hidupnya. (Kompas, 11 Agustus 2018). Jika ingin anggota keluarganya tidak menjadi obesitas alias kegemukkan, maka ayah dan ibu harus menunjukkan dengan tidak makan gula berlebihan yang akan memicu obesitas dan akhirnya bisa mengidap penyakit diabetes. Kurang lebih demikian jika penulis membaca hasil survei di atas.

Adagium “Ada gula, ada semut” paling cocok untuk mengingatkan kita akan bahaya konsumsi gula yang berlebihan. Sehingga adalah tepat jika penulis menganalogikan adagium di atas menjadi “Dimana ada gula, di situ penyakit mengintai”.

Konsumsi gula yang berlebihan dapat meningkatkan resiko penyakit jantung, memicu obesitas, melemahkan kekuatan otak, dan masih banyak dampak negatif lainnya. Gula bahkan bisa bersembunyi di makanan yang kita anggap tidak manis, seperti saus tomat, biskuit, dan roti. Selain itu, konsumsi gula berlebihan tentu saja memicu penyakit diabetes. (Saitya, 2018).  Literatur lain menambahkan bahwa diabetes bisa merusak organ ginjal, hati, saluran pencernaan, dan mata, serta dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi organ seksual. (Taufik, 2010). Itulah beberapa hal yang akan terjadi jika kita mengkonsumsi gula berlebihan. Pertanyaan lebih lanjut, berapa batasan konsumsi gula yang tidak berlebihan itu? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan konsumsi gula maksimal 10% dari total kalori yang dikonsumsi per hari, sedangkan Kementrian Kesehatan RI menyarankan batas konsumsi gula adalah 50 gram (4 sendok makan) per hari. Sekali lagi, 50 gram per hari. Jika kita minum kopi sehari 4 gelas dan dianggap setiap gelas kopi gulanya 1 sendok makan, maka batas maksimum konsumsi gula kita pada hari itu sudah maksimal. Jangan lagi ditambah makanan atau pun minuman manis jika Anda tidak ingin berat badan anda bergeser lebih jauh ke kanan pada timbangan berat badan.

Angka diabetes, jika dilihat dari data Riset Kesehatan dasar (Riskesdas 2018) semakin tahun angkanya semakin meningkat. Tahun 2013, prevalensi jumlah penderita diabetes berdasarkan pemeriksaan darah pada penduduk umur 15 tahun ke atas sebesar 6,9 %. Jumlah tersebut meningkat menjadi 8,5% (konsensus perkeni 2011) atau 10,9% (konsensus Perkeni 2015) dari total penduduk Indonesia pada tahun 2018. Syukurlah posisi Nusa Tenggara Timur masih berada jauh di bawah angka prevalensi nasional yakni 0,9% dari 2% angka nasional berdasarkan diagnosis dokter. Namun jika dikaji lebih jauh, pertambahan angka obesitas di Indonesia semakin menyeramkan. dari 14,8 % di tahun 2013 menjadi 21,8 % di tahun 2018. Dengan besarnya peningkatan angka obesitas ini kemungkinan angka diabetes pun akan naik di tahun berikut tanpa terkecuali di wilayah NTT. Sehingga pembatasan konsumsi gula perlu diatur mulai dari kelompok terkecil yakni; keluarga.

Berbicara mengenai penyakit diabetes atau kencing manis tidak bisa dilepaskan dari membahas berat badan ideal. Untuk mengetahui berat badan ideal di dunia medis sering memakai Ideks Masa Tubuh (Body Mass Indeks) dengan rumus: berat badan dibagi massa tubuh kuadrat. Penulis lebih memilih penjelasan yang disampaikan oleh Dr. Samsuridjal Djauzi (Kompas, 8 September 2018), sebab lebih praktis dalam perhitungannya. Berat Badan Ideal adalah tinggi badan dikurangi 100, kemudian dikurangi lagi 10 %. Contohnya: tinggi badan 170 cm, berat badan 65 kg, maka Berat Badan Ideal adalah: 170 – 100 = 70 kg, kemudian dikurangi 10 persen menjadi 63 kg. Berat badan normal adalah berat badan yang berada pada kisaran +10% dan -10%. Jadi, kisaran Berat Badan normal adalah antara 56,7 kg dan 69,3 kg. Silakan Anda menghitung sendiri selanjutnya apakah berat badan Anda normal atau tidak.

Kembali ke soal memperingati Hari Diabetes Sedunia, apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih sehat dan tetap sehat tanpa dihantui rasa takut akan ancaman penyakit kencing manis ini?

Pertama, tetap menjaga berat badan ideal. Dengan bertambah berat badan maka resiko menjadi diabetes semakin besar. Caranya adalah dengan membatasi asupan gula harian kita. Tentunya tidak hanya gula saja faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga berat badan tetap ideal. Masih ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan, tetapi dalam tulisan opini ini penulis hanya membatasi pada masalah konsumsi gula saja.

Kedua, berolah raga yang teratur setiap hari kurang lebih 30 menit. Olah raga yang baik untuk dijalani adalah jalan cepat, berlari, bersepeda, dan mungkin angkat beban dengan berat yang ringan sampai sedang. Boleh memilih waktu sesuai dengan aktivitas Anda. Bisa pagi hari atau sore hari. Dengan berolah raga, tubuh akan membakar kalori yang berlebih di dalam tubuh.

Ketiga, rutinlah memeriksakan kadar gula dalam darah di fasilitas pelayanan kesehatan. Khususnya mereka yang mempunyai riwayat sakit gula dalam keluarganya atau pun untuk mereka yang mempunyai berat badan berlebih bahkan obesitas.

Diabetes adalah pembunuh ketiga terbanyak di Indonesia setelah stroke dan penyakit jantung koroner. Diabetes kini menjadi sangat darurat untuk dihentikan. Mulailah dari keluarga kita sendiri untuk mengatur pola hidup sehat: pola makan yang rendah gula adalah langkah awal dalam membentuk berat badan ideal agar jauh dari serangan buruk diabetes.

Meminjam kalimat Menteri Kesehatan Nila Djuwita Farid Moeloek pada Simposium Hari Diabetes Sedunia: dengan menjaga berat badan ideal dan mengurangi asupan gula, “Kita akan lebih sehat. Bisa menjadi manusia yang produktif. Pemerintah juga terbantu untuk mengendalikan diabetes melitus atau kencing manis di seluruh Indonesia.” Semoga.

 

Gambar diambil dari sini.

6 Comments on “ADA GULA, ADA PENYAKIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *