Novel Mawar Padang Ara (MPA) karya Otto J. Gaut merupakan novel yang paling ditunggu-tunggu untuk dibaca dan kemudian didiskusikan bersama para anggota dalam Klub Buku Petra.

Dari pembacaan atas novel MPA, baik secara sintagmatik dan paradigmatik[1] saya kemudian merasakan bahwa membaca dengan memiliki sebuah pisau untuk membedah sebuah karya berbeda dengan membaca tanpa memiliki “perlengkapan” yang memadai. Meminjam istilah teman saya, “Membaca harus memiliki skemata”. 

Saya mengajak untuk kembali sejenak melihat proses penulisan ini terbentuk.

Kurang lebih 5 bulan yang lalu saya mulai tertarik untuk mempelajari cara membaca sebuah novel dengan lebih ilmiah. Memangnya membaca sebuah novel bisa secara ilmiah? Bukannya novel itu sebuah hasil karya imaginatif?

Awalnya juga saya berpendapat demikian tetapi, semakin saya masuk dalam dunianya saya mulai merasa bahwa membaca dengan cara biasa tidaklah cukup.

Saya mulai membaca buku-buku kritik sastra dan sejarah kritik sastra. Dan hasilnya saya mendapat kesimpulan bahwa untuk memulai sebuah analisis atau pun kritik karya sastra mulailah dengan sebuah metode yang paling kamu sukai.

Pada akhirnya metode kritik sastra struktural yang saya pilih untuk saya dalami dengan lebih intens. Mudah-mudahan tulisan saya dibawah ini bisa membuat pembacaan atas novel MPA menjadi lebih unik.

Langkah pertama dalam menghadapi novel MPA ini adalah menggumulinya dengan membaca, membaca dan membaca berulang-ulang sampai saya merasa cukup telah mengulitinya sampai pada keadaan siap dibedah. Langkah kedua adalah dengan mencatat semua hal-hal yang menurut saya menarik. Dan catatan-catatan itu saya sajikan di bawah ini:

1.    Novel ini dibuka dengan kisah duka orang-orang yang tersengat bisa mematikan dari ular botek. (TM)

2.    Pulau Rinca dan Pulau Komodo. (S)

3.    Kain Songke. (TM)

4.    Sepertinya permasalahan novel ini adalah: keseringan seorang perempuan pergi ke rumah Pastor. (TM)

5.    Senter besar enam batu. (GB)

6.    Hari pasar di Nangalili. (S)

7.    Gaji kecil yang sering terlambat. (TM)

8.    Guna-guna Baltazar. (TM)

9.    Rambut yang dikeramas dengan santan kelapa. (TM)

10. Sup brenebon dengan iga sapi. (S)

11. Tanah yang terjatuh dari sela atap alang-alang. (TM)

12. Membicarakan orang lain dengan dugaan yang busuk. (TM)

13. Cebong-Poli Cebong. (GB)

14. Loma mata. (TM)

15. Langit-langit: lima keeping kayu dadap yang kering melengkung. (TM)

16. Majalah Basis. (S) 

17. Belis. (TM)

18. Puru-caci. (TM)

19. Belis sebagai lambang agar mereka yang mau menikah tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing. (TM)

20. Nyora. (GB)

21. Dadanya yang bernas. (GB)

22. Padang disulut dari segala penjuru. (S)

23. Agustus, 1961. (S)

24. Reo-Pelabuhan Kedindi. (S)

25. Sikap busuk dan irihati belum hilang juga. (T)

26. Memasak makanan babi. (TM)

27. Menganyam tikar. (TM)

28. Burung lawelenggong. (TM)

29. Tua golo-Kepala Adat. (TM)

30. SD di Ranggu. (S)

31. Jerat Burung tekukur, cari kayu bakar dan daun pakis. (TM)

32. Ende, Kota Ruteng. (S)

33. Kernet-Veer-onderdeel. (GB)

34. Seminari Kisol-Ngada, songke untuk laki-laki dan untuk perempuan, Nangahale, Seminari Mataloko. (S)

35. Rokok Escort. (GB)

36. Ambachtschool, fanfare, Stranger on the shore. (GB)

37. Weleng, Kaba. (GB)

38. Sumpah adat. (TM)

39. Stella Maris-sekolah perawat. (TM)

40. Hadiah dari Pastor, Baju pengantin dari Surabaya, baju kotak-kotak dari Gersik. (TM)

41. Quantus tremor est futurus, quando judex est venturus. (GB)

42. Burung Ngkiong. (S)

43. Kapal Misi Stella Maris dan Ratu Rosari. (TM)

44. Baba Liong dan Baba Ameng. (T)

45. Schoolopziener. (GB)

46. Film Ria Rago-Ama Woda-Pastor Simon Buis. (S)

47. Mata Sui-mata sipit-bagaimana. (TM)

48. Frambusia/patek-obat salvarsan, malaria-kinine. (TM)

49. Lingko-tanah ulayat, lele-banding. (TM)

50. Nuca Nepa-pulau ular, Florete Flores. (S)

51. Berjudi untuk kelahiran seorang anak. (TM)

52. Anak lahir kebiruan, ibu meninggal karena perdarahan. (T)

53. songke wela nggorang-bunga padang. (TM)

54. Guru Frans-masuk penjara-dipecat dari guru. (T)

55. Toma mati digigit ular botek. (T)

56. Adat kita tidak membolehkan jenazah disemayamkan di dalam rumah.(TM)

Tulisan ini cukup panjang, maka saya membagikannya ke dalam tiga bagian. Tujuannya adalah agar kita bisa membacanya sekali duduk.

Untuk membaca bagian kedua silakan klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *