Setelah semua kesan saya catat, kemudian saya ingin membagi kesan-kesan tersebut kedalam unsur-unsur penyusun sebuah novel.

unsur-unsur itu adalah: tokoh dan penokohan(T/5), tema(TM/28), plot(P/-), gaya bahasa(GB/10), sudut pandang(SP/-), dan  seting(S/13).

Dari penjumlahan tersebut, tema memiliki porsi terbesar dan disusul seting dan gaya bahasa.

Plot dan sudut pandang dalam novel ini bukannya tidak ada tetapi untuk saya tidak ada hal yang menarik dari kedua unsur tersebut dalam novel ini.

Maka dalam pembahasan selanjutnya tentulah tema dan seting mendapat perhatian yang besar untuk dikritisi lebih lanjut. Jika penokohan, plot, gaya bahasa dan sudut pandang dieliminasi maka;

1.    Novel ini dibuka dengan kisah duka orang-orang yang tersengat bisa mematikan dari ular botek. (I)

2.    Pulau Rinca dan Pulau Komodo. (II)

3.    Kain Songke. (III)

4.    Sepertinya permasalahan novel ini adalah: keseringan seorang perempuan pergi ke rumah Pastor. (I)

5.    Hari pasar di Nangalili. (II)

6.    Gaji kecil yang sering terlambat. (I)

7.    Guna-guna Baltazar. (III)

8.    Rambut yang dikeramas dengan santan kelapa. (II)

9.    Sup brenebon dengan iga sapi. (II)

10. Tanah yang terjatuh dari sela atap alang-alang. (II)

11. Membicarakan orang lain dengan dugaan yang busuk. (I)

12. Loma mata. (III)

13. Langit-langit: lima keeping kayu dadap yang kering melengkung. (II)

14. Majalah Basis. (II) 

15. Belis. (III)

16. Puru-caci. (III)

17. Belis sebagai lambang agar mereka yang mau menikah tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing. (III)

18. Padang disulut dari segala penjuru. (II)

19. Agustus, 1961. (I)

20. Reo-Pelabuhan Kedindi. (II)

21. Memasak makanan babi. (II)

22. Menganyam tikar. (II)

23. Burung lawelenggong. (II)

24. Tua golo-Kepala Adat. (III)

25. SD di Ranggu. (II)

26. Jerat Burung tekukur, cari kayu bakar dan daun pakis. (II)

27. Ende, Kota Ruteng. (II)

28. Seminari Kisol-Ngada, songke untuk laki-laki dan untuk perempuan, Nangahale, Seminari Mataloko. (II)

29. Sumpah adat. (III)

30. Stella Maris-sekolah perawat. (II)

31. Hadiah dari Pastor, Baju pengantin dari Surabaya, baju kotak-kotak dari Gersik. (II)

32. Burung Ngkiong. (II)

33. Kapal Misi Stella Maris dan Ratu Rosari. (II)

34. Film Ria Rago-Ama Woda-Pastor Simon Buis. (II)

35. Mata Sui-mata sipit-bagaimana. (III)

36. Frambusia/patek-obat salvarsan, malaria-kinine. (I)

37. Lingko-tanah ulayat, lele-banding. (III)

38. Nuca Nepa-pulau ular, Florete Flores. (III)

39. Berjudi untuk kelahiran seorang anak. (I)

40. songke wela nggorang-bunga padang. (III)

41. Adat kita tidak membolehkan jenazah disemayamkan di dalam rumah.(III)

Langkah berikutnya adalah menciptakan gagasan oposisi biner untuk lebih menjelaskan keunggulan dan keunikan novel ini. Oposisi biner yang telah saya dapatkan adalah:

I.     Kisah Duka dan Kisah Suka

1)    Novel ini dibuka dengan kisah duka orang-orang yang tersengat bisa mematikan dari ular botek. 

2)    Sepertinya permasalahan novel ini adalah: keseringan seorang perempuan pergi ke rumah Pastor. 

3)    Gaji kecil yang sering terlambat. 

4)    Membicarakan orang lain dengan dugaan yang busuk.

5)    Agustus, 1961.

6)    Frambusia/patek-obat salvarsan, malaria-kinine.

7)    Berjudi untuk kelahiran seorang anak.

II.   Desa dan Kota

1)    Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

2)    Hari pasar di Nangalili.

3)    Rambut yang dikeramas dengan santan kelapa. 

4)    Sup brenebon dengan iga sapi.

5)    Tanah yang terjatuh dari sela atap alang-alang.

6)    Langit-langit: lima keeping kayu dadap yang kering melengkung.

7)    Majalah Basis.

8)    Padang disulut dari segala penjuru.

9)    Reo-Pelabuhan Kedindi.

10) Memasak makanan babi.

11) Menganyam tikar.

12) Burung lawelenggong.

13) SD di Ranggu.

14) Jerat Burung tekukur, cari kayu bakar dan daun pakis.

15) Ende, Kota Ruteng.

16) Seminari Kisol-Ngada, songke untuk laki-laki dan untuk perempuan, Nangahale, Seminari Mataloko.

17) Stella Maris-sekolah perawat.

18) Hadiah dari Pastor, Baju pengantin dari Surabaya, baju kotak-kotak dari Gersik.

19) Burung Ngkiong.

20) Kapal Misi Stella Maris dan Ratu Rosari.

21) Film Ria Rago-Ama Woda-Pastor Simon Buis. 

III. Tradisional dan Modern

1)    Kain Songke.

2)    Guna-guna Baltazar.

3)    Loma mata.

4)    Belis.

5)    Puru-caci. 

6)    Belis sebagai lambang agar mereka yang mau menikah tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing.

7)    Tua golo-Kepala Adat.

8)    Sumpah adat.

9)    Mata Sui-mata sipit-bagaimana.

10) Lingko-tanah ulayat, lele-banding.

11) Nuca Nepa-pulau ular, Florete Flores.

12) songke wela nggorang-bunga padang.

13) Adat kita tidak membolehkan jenazah disemayamkan di dalam rumah.

Untuk membaca bagian terakhir dari tulisan ini, silakan klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *