Sampailah di bagian akhir. Di bagian ini, saya sudah mempunyai tiga hal yang ingin saya tulis (analisa), yakni: kisah duka – suka, desa – kota, tradisional – modern.

Hasil akhir dari analisis struktural yang iseng-iseng saya lakukan adalah dua buah tulisan pendek di bawah ini, yang sangat bisa dikembangkan lebih lanjut di kemudian hari.

Kisah Duka dan Kisah Suka

Novel ini dibuka dengan cerita tentang ular botek yang telah banyak makan korban di suatu daerah yang disebut Padang Ara.

Kisah duka yang dialami beberapa anggota masyarakat akibat sengatan ular ini tidak selalu dianggap kedukaan wajar yang perlu ditangisi tetapi malah dianggap sebagai silih atas dosa yang dilakukan korban seperti memperkosa, mencuri dan mengintip orang yang sedang bersengama. 

Ular botek dianggap sebagai hakim alam dan selalu memutuskan yang pantas dan jarang meleset (hal.1).

Jika demikian bagaimana jika ada seseorang yang meninggal akibat digigit ular botek karena ketidaktahuannya akan keberadaan ular botek ini dan kemudian ia adalah seorang guru agama terpandang di Desa Padang Ara atau bagaimana jika ia adalah seorang Pastor?

Apakah orang-orang di daerah itu tetap menganggap bahwa mereka yang meninggal tersebut mempunyai kesalahan besar dan pantas dibalas dengan sebuah kematian?

Itulah alur berpikir masyarakat Padang Ara, tidak lewat logika yang menawan tetapi menurut perasaan pribadi dan menurut siapa yang akan berbicara terlebih dahulu mengenai sebab-akibat kejadian-kejadian yang menimpa masyarakatnya.

Magdalena Da Silva adalah tokoh utama novel ini dicurigai atau dibicarakan banyak penduduk Padang Ara karena lebih sering terlihat bertamu ke rumah Pastor Robert.

Para lelaki Padang Ara melihat Mawar Padang Ara sebagai sebuah dosa yang perlu dieliminasi lewat sengatan Ular botek.

Apakah orang yang sering bertamu ke rumah seseorang selalu membawa hal-hal negatif dan perlu dicurigai sedalam itu? Kembali Alur pemikiran yang kurang menawan ini diangkat sebagai sebuah kisah duka dalam tata kehidupan Padang Ara.

Begitulah kisah-kisah duka dalam novel ini ditampilkan silih berganti. Kehidupan para guru pun tidak luput. Mulai dari perintah untuk bertugas di sebuah kota tetapi tidak diberikan rumah dinas sehingga Guru Frans harus menumpang di kamar sewa temannya selama lima bulan ditambah urusan gaji kecil yang sering terlambat dan kebutuhan hidup yang mendesak setiap hari(Hal.5).

Kisah duka ini bagi orang-orang Padang Ara adalah sebuah nasib yang membuat mereka cendrung menganggap kerjanya hanya sebagai kewajiban. Hampir tidak pernah mempersoalkan hak dan tidak sempat memikirkan pekerjaannya sebagai sesuatu yang berjasa.

Kisah duka ini bagi orang-orang Padang Ara adalah sebuah nasib yang membuat mereka cendrung menganggap kerjanya hanya sebagai kewajiban. Hampir tidak pernah mempersoalkan hak dan tidak sempat memikirkan pekerjaannya sebagai sesuatu yang berjasa.

Digerakkan oleh Toma dan Matildis, kisah dalam novel ini terus berlanjut. Gosip beredar membicarakan Mawar Padang Ara dengan dugaan yang busuk.

Toma melancarkan kesaksian palsu untuk menjatuhkan Pastor Robert, di sisi lain Matildis pulang ke kampung dengan tujuan dan maksud menyiarkan kabar pembenaran ide Toma agar ia dapat dengan mulus melanjutkan hubungan bersama Guru Frans yang tidak lain adalah suami Mawar Padang Ara. 

Seting waktu dalam novel ini baru terlihat pada bab II yakni tepatnya pada saat kesebelasan Padang Ara merebut juara pertama. Agustus tahun 1961.

Secara historis adalah masa dimana Negara kita belum merdeka. Yang jelas segala sesuatu masih dalam keadaan susah dan selalu dipantau oleh para penjajah. Keadaan inilah  menurut saya adalah kisah suram atau boleh dikatakan lanjutan kisah sedih yang ingin ditampilkan dalam kisah novel ini.

Secara historis adalah masa dimana Negara kita belum merdeka. Yang jelas segala sesuatu masih dalam keadaan susah dan selalu dipantau oleh para penjajah. Keadaan inilah  menurut saya adalah kisah suram atau boleh dikatakan lanjutan kisah sedih yang ingin ditampilkan dalam kisah novel ini.

Dari sisi kesehatan masyarakat Padang Ara juga disodorkan dalam suasana yang serba kekurangan dan menyedihkan. Dimana penderita penyakit frambusia atau patek atau istilah yang lebih banyak dikenal adalah sakit lepra meningkat tetapi persediaan obatnya tidak cukup. Tidak ketinggalan penyakit Malaria pun demikian. 

Akhirnya puncak dari semua kisah duka tersebut adalah kisah perjudian antara Guru Kepala dan Toma.

Perjudian menjadi salah satu alternatif demi melupakan semua kesedihan bahkan dendam yang mereka alami selama ini. Dan menjadi lebih terang lagi tentang alternatif itu bahwa yang mengusulkan perjudian itu adalah seorang Guru Kepala, seorang terhormat saat itu. 

“Ya, apa salahnya? Kenapa tidak mungkin berjudi dengan keadaan tegang seperti ini? Bukankah berjudi sudah seperti lagu wajib bagi mereka?” (Hal.90).

Oposisi antara kisah duka dan kisah suka ini dapat kita jadikan salah satu model untuk melihat pasangan oposisi biner lainnya. Berikut ini adalah pasangan-pasangan oposisi yang dapat kita sejajarkan dengan oposisi kisah duka dan kisah sedih tersebut.[2]

Kisah DukaKisah Suka
Digigit ular (Hal.1)Tidak digigit ular
Gossip (Hal.2)Bicara sesuai kenyataan
Gaji Kecil (Hal. 5)Gaji besar
Menilai keburukan sesama (Hal. 11-15)Melihat hal positif seseorang
Sebelum negara merdeka (Hal.28)Sesudah Negara merdeka
Penyakit kronis (Hal.81)Penyakit akut
Berjudi (Hal. 90)Tidak berjudi

Desa dan Kota

Kesan yang paling mudah ditangkap dalam pembacaan novel ini adalah penggambaran kehidupan desa yang tersebar sejak halaman pertama sampai akhir.

Kesan kehidupan desa yang ditampilkan dalam keseluruhan novel ini tidak lain dan tidak bukan adalah hasil refleksi pengalaman pribadi penulis sehingga penggambarannya tepat.

Pulau Rinca dan Pulau Komodo pada halaman pertama langsung memberikan kita seting tempat kisah-kisah dalam novel ini berlangsung.

Membeli dan menjual barang pada saat itu dan khususnya di daratan flores adalah menunggu hari pasar. Pasar tidak setiap hari ada. Jika bukan hari pasar tidak akan ditemukan transaksi para penjual dan pembeli barang sama sekali. 

Lebih lanjut kisah-kisah kehidupan pedesaan disuguhkan dengan lebih khas.

Cerita mengenai rambut yang dikeramas dengan santan kelapa adalah hal yang sangat ndeso tetapi memiliki daya tarik yang memikat.

Di desa, kedatangan tamu adalah hal yang sangat luar biasa apalagi jika ia seorang Pastor. Maka hidangan makanan yang dihidangkan pastilah yang paling mewah: sup brenebon dengan iga rusa.

Deskripsi rumah-rumah dalam wilayah Padang Ara tidak serta merta dapat kita ketahui. Dengan membaca deskripsi rumah Mawar Padang Ara kurang lebih bahwa rumah-rumah sekitarnya mirip dengan gambaran seperti itu.

Gambaran pertama adalah mengetahui atap rumah. Saat sang Pastor makan malam di rumah Mawar Padang Ara, terlihat tanah muncul di atas kain meja. Ternyata, tanah sial itu jatuh dari sela atap alang-alang (Hal.9).

Gambaran kedua adalah saat Mawar Padang Ara berbaring menatap langit-langit kamarnya yang terdiri dari lima keping papan kayu dadap yang kering melengkung……(Hal.18). Kesimpulan yang kiranya bisa diambil adalah masyarakat Padang Ara memiliki rumah dengan atap alang-alang. 


[1] Penjelasan istilah sintagmatik dan paradigmatik saya ambil dari buku Rh.Widada berjudul Saussure untuk Sastra: sebuah Metode Kritik Sastra Struktural, Jalasutra, Oktober 2009, hal. 52-56.

[2] Kutipan dari buku Rh.Widada berjudul Saussure untuk Sastra: sebuah Metode Kritik Sastra Struktural, Jalasutra, Oktober 2009, hal. 76-77.

Demikian, keisengan saya ini. Apa yang saya tuliskan ini semata-mata hanya untuk berbagi tentang apa yang saya pikirkan. Silakan memberi kritikan di kolom komentar.

One Comment on “ANALISIS STRUKTURAL (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *