Jika Anda patah hati, merasa dunia tidak adil atau tidak lagi merasa hidup itu indah, maka berkunjunglah ke Amerika, Mexico, Italia, Jerman, Perancis, Maroko, Jepang dan India. Mengapa demikian? Karena Itulah saran dari Andrew Sean Greer dalam novelnya, Less. 

Novel ini ditulis Bulan Juli 2017 dan memenangkan Pulitzer Prize tahun 2018. Penghargaan prestisius ini tentu bukan karena saran untuk jalan-jalan ke beberapa negara tersebut. Namun lebih kepada topik dan kisahnya yang menakjubkan.

Topik dari novel ini adalah tentang hubungan homoseksual. Laki-laki mencintai pria yang kemudian menjadi basi karena ditinggal pergi. Arthur Less adalah tokoh yang ditinggal pergi itu.

Hubungan kasih dan asmara Less dan Freddy biasa saja. Namun, apa yang membuat juri Pultzer Prize menjagokannya? Menurut saya: “kedalaman”. Novel ini dapat meresap hingga ke relung-relung hati dan perasaaan saya sebagai pembaca. Sehingga topik mengenai LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) menjadi tidak relevan lagi untuk dibicarakan. Nilai kemanusiaanlah yang layak didiskusikan. 

Semua orang mempunyai sesuatu di dalam otak dan hatinya. No bodys know! Bahkan Tuhan pun mungkin tidak mengira bahwa makhluk ciptaannya jadi seperti ini atau itu. Orang bisa tertarik dengan sesama jenis, lawan jenis, beda spesies bahkan satu keturunan. 

Kita mengatakan bahwa itu penyakit. Itu dosa. Itu aneh. Namun, menyelam di kedalaman jiwa, manusia adalah makhluk mulia sekaligus unik. Seharusnya tidak ada manusia yang bisa menghakimi manusia lain karena mereka berbeda. 

Arthur Less digambarkan sebagai seorang novelis terkenal. Diundang oleh banyak lembaga untuk memberikan ceramah literasi  di berbagai tempat dan negara. Merasa tenar dan terkenal, Less sedikit menolak undangan-undangan yang berdatangan. 

Namun, semuanya berubah saat Less mendapat surat undangan nikah mantan kekasihnya: “Request your presence at the marriage of Federico Pelu and Thomas Dennis.”

Frustrasi dengan undangan itu, Less menerima semua undangan untuk menjadi pembicara literasi di mana saja: I’m travelling around the world. Dengan itu, Less berharap dapat melupakan kenangan manis dan kekecewaaan atas keputusan Freddy. 

Biasa saja, kan? Maksudnya jika masalah kekecewaan itu ada pada hubungan antara seorang lelaki dan perempuan, sudah biasa, malah bisa dikatakan basi. Yang dikisahkan dalam novel ini lain. Kisah yang terjadi adalah hubungan lelaki dan pria. 

Keunikkan lain yang diciptakan pengarang adalah usia si Less. Ia berusia mendekati 50 tahun. Hidup bersama Freddy selama 9 tahun dan Less lebih tua 15 tahun. Kisah cinta pria setengah abad ini menjadi unik untuk diikuti. 

Saat membaca dan mengikuti watak tokoh ini, kegeraman dan kegemasan saya muncul tiba-tiba. Banyak novel selalu menggambarkan tokoh protagonisnya dengan gambaran yang aduhai bagusnya. Layaknya Rambo dalam setiap film. Masalah apa pun, sejago-jago lawannya, di akhir cerita, semuanya terselesaikan dengan kedatangan Rambo. 

Less tidak seperti itu. Dikisahkan sebagai novelis yang terkenal, namun sebenarnya novel-novel karyanya tidak banyak diminati oleh masyarakat apalagi kritikus. Bercerita mempunyai hubungan yang lama dengan pacarnya, si Freddy, namun sebenarnya hubungan itu berjarak seakan-akan tanpa cinta. Saya mendapat kesan yang aneh dengan tokoh ini. 

Apakah penulis berhasil membangun tokoh yang melekat di kepala saya? Bisa iya, tapi sulit untuk mengatakan tidak. Less menjadi sesuatu yang “aneh”. Jika ada yang bertanya kepada saya, bagaimana karakter tokoh utamanya? Susah sekali saya menjawabnya. Sebab, tidak bisa katakan A atau B. Mungkin bisa katakan A minus atau B plus. 

Saya membaca novel ini secara elektronik. Selain lebih murah, juga gampang mendapatkannya. Tinggal klik, dapat bukunya. Saat membaca-baca review dari netizen, saya terkejut. Menurut mereka buku ini penuh humor. Yang saya temukan sebaliknya: novel serius. Betul bahwa kata-kata yang digunakan ringan dan penuh sindiran. Tetapi tidak lucu. Sepertinya humor orang barat itu berbeda dengan orang Indonesia, apalagi orang Flores.

Sejak lama saya mempunyai kebiasaan mencari dan membaca judul-judul buku di dalam novel yang sedang saya baca. Keren saja menurut saya. Jika berhasil membaca buku-buku yang tertulis itu, seakan-akan saya lebih memahami kisahnya. Walaupun kita tahu banyak novel yang menempelkan saja judul-judul buku keren tanpa ada relevansinya. Saya tetap suka.

Dalam novel ini ada 3 judul novel yang ingin saya baca. Yaitu: The Old Capital oleh Yasunari Kawabata, Dark Matter oleh Blake Crouch, The Odyssey oleh Hommer. Judul-judul buku itu belum pernah saya baca. Tapi yang ditulis dalam novel ini seakan-akan menjadi syarat bahwa jika tidak membaca buku-buku tersebut saya belum pantas disebut pembaca yang mumpuni. Ini tentu saja kegalauan yang tidak perlu. Tapi, sekali lagi, saya suka. 

Selain ketiga buku itu, saya juga ingin sekali membaca buku lain Andrew Sean Greer ini. Saya ingin tahu, jika menulis topik lain, apakah masih sebagus novel ini? Apakah ada bagian lucunya? Atau malah biasa-biasa saja? 

Dari hasil penelusuran saya, buku The Impossible Lives of Greta Wells adalah buku yang harus saya baca dikemudian hari. Mudah-mudahan kalau netizen luar negeri mengatakan bahwa buku itu sedih atau lucu saya juga akan merasakan demikian. Sebab, jika belum sesuai dengan apa yang dikatakan netizen, saya pasti akan merana. 

Saat menuliskan hasil pembacaan tentang novel ini, saya teringat sebuah novel dengan judul Anak Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman. Topiknya sama, tentang LGBT. Namun, situasi dan kondisinya yang berbeda. Novel Less ini seting tempatnya di Amerika, sedangkan yang satu di Indonesia. 

Pandangan terhadap komunitas LGBT ini tentunya berbeda-beda. Orang di Barat sana mungkin sudah menganggap ini barang biasa. Namun, di Indonesia masih menjadi polemik yang tidak akan habisnya. 

Jika ada yang bertanya, apakah saya setuju dengan adanya komunitas LGBT di Indonesia? Saya dapat menjawab dengan tegas: setuju. Untuk menjelaskannya, lebih afdol jika menggunakan analogi sederhana tentang koruptor. 

Tindakan korupsi dan para koruptor adalah haram di Indonesia. Banyak undang-undang telah dibuat agar tindakan korupsi dan para koruptor dihilangkan. Namun, yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Mereka berkeliaran dengan tampilan domba tetapi pola kerja tetaplah koruptor. 

Demikian juga LGBT. Regulasi apa yang bisa membuatnya hilang dari Indonesia? Tidak ada. Semakin banyak aturan yang dibuat semakin banyak yang dilanggar. Itulah watak dan sifat manusia, sama dengan para koruptor. Sifat itu sudah melekat dan tidak ada manusia lain yang bisa menghakimi. Jika mereka bersalah, silakan melempar batu jika memang Anda juga tidak mempunyai kesalahan, kelainan dan kelalaian. 

Setelah menulis paragraf di atas, saya merenung: jangan-jangan malah komunitas LGBT ini dapat memberikan devisa bagi negara seperti yang sedang dipromosi besar-besaran di Thailand. Sedangkan para koruptor, bukannya menambah nilai bagi negara, malah mencuri kekayaan negara demi perut, kelompok dan keluarga sendiri. Mana yang lebih baik?

Karot, 14 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.