Keputusan Anus sudah tidak bisa diganggu dan digugat. Apa dan siapa pun tak akan bisa mengubahnya. Anus tidak akan menjual ayam bangkok itu. Walau ditawar dengan harga berapa pun tingginya, keputusan Anus sudah bulat. Tidak! Sekali merdeka, tetap merdeka! Sekali tidak, tetap tidak!

Setiap pagi saat memandikan Tendes – nama ayam bangkoknya – Anus selalu teringat saat-saat telur itu menetas dan keluarlah Tendes. Sudah sejak telur saja, Anus telah tahu bahwa jika menetas nanti akan menghasilkan ayam bangkok, sang petarung sejati.

Ayah dan ibu Tendes bukanlah berasal dari kota kecamatan juga bukan dari kampung tempat tinggal Anus. Ayah Tendes dibeli saat Anus berlibur ke Kota Bima. Saat itu Anus melihat seekor ayam bangkok yang dijemur di depan rumah Sang Juragan. 

Sejak pandangan pertama itu, hampir setiap hari selama liburan di Bima, Anus datang untuk duduk, melihat dan memandang ayam bangkok itu. Semakin lama menatap wajah ayam tersebut, Anus merasa ada sesuatu yang memanggilnya untuk tetap di tempat itu.

Di hari terakhir liburan, sebelum pulang ke kampung, Anus bertemu Sang Juragan di depan teras rumah tempat ayam bangkok itu dijemur. Sambil ngobrol ala kadarnya, Sang Juragan melirik cincin yang dikenakan Anus. Lirikan mata tersebut tertangkap otak Anus. 

Setelah ngobrol-ngobrol ke sana dan ke mari, terdengar tawar menawar antara Anus dan Sang Juragan. Mereka sepakat untuk barter. Batu akik Giok Timor untuk Sang Juragan, ayam bangkok untuk Anus. Sang Juragan membawa cincin batu akik ke dalam rumah untuk dibaca-baca sebelum mengenakannya. Anus menggendong ayam bangkok dan pulang. 

Ibu Tendes didatangkan langsung dari Surabaya. Salah seorang kenalan Anus adalah sopir truk pengangkut barang yang sering bolak-balik Surabaya. Lewat kenalan itulah Anus berpesan untuk membeli ayam bangkok betina.

Anus saat itu telah mempunyai sepasang ayam bangkok. Ia merawat dengan perhatian penuh. Makanan yang diberikan adalah keluaran pabrik bukan jagung atau beras biasa. Anus menginginkan agar sepasang ayam kesayangannya sehat fisik dan batiniah. Hanya dari orang tua yang sehatlah akan melahirkan anak-anak tangguh dan kuat. Begitu batin Anus dalam hati. 

Tiba saatnya ayam betina itu bertelur. Satu butir setiap hari. Tidak lupa Anus menulis angka di setiap telur dengan pensil sesuai dengan hari keluarnya telur tersebut. Tiba saat Anus menulis angka 7 pada telur tersebut, ia tahu bahwa telur dengan angka inilah yang akan menjadi ayam bangkok petarung sesungguhnya. “Inilah yang akan mirip Ronaldo pemain Juve itu. Sehat, kekar dan tangguh”. Anus girang bukan main. 

Total telur yang dieramin ibu Tendes berjumlah 10 butir. Dua puluh satu hari kemudian tibalah saatnya telur-telur itu menetas. Yang menetas pertama kali adalah telur nomor 7. Tepatlah nubuat Anus. Telur itulah yang akan menjadi batu penjuru. 5 cewek dan 5 cowok hasil tetasan telur-telur itu. 

Saat umur baru 10 bulan, Anus membawa CR7 ke gelanggang pertarungan. CR7 dengan mudah mengalahkan lawanya pada ronde ke dua. Rekor pertama untuk CR7. Anus pulang membawa harga diri yang tinggi dan uang banyak. 

Harga diri untuk Anus dan seluruh uang untuk istrinya. Namun, istrinya tidak sudi menerima uang tersebut.

Uang hasil keringat ayam tidak boleh dikirim untuk anak sekolah. Itu namanya, haram!” Kata istri Anus lantang. Tetapi, belum sempat Anus mengeluarkan suara, sang istri telah memasukkan uang tersebut ke saku celananya dan bergegas masuk ke dalam rumah. 

Saat Yanti, anak Anus, mengirim pesan lewat hape bahwa ia akan segera sidang skripsi dan membutuhkan uang untuk melunasi tunggakan biaya kuliah, Anus kembali pusing. Jalan satu-satunya adalah menurunkan CR7 ke kalangan aduan. Badan CR7 masih keras, wajahnya merah merona tanda tak kurang darah. Hanya saja kemarin CR7 buang air besar sedikit encer. Itulah yang dikhawatirkan Anus. Yang lain, tidak. 

“Tuhan akan selalu memperhatikan hambanya yang sedang sangat membutuhkan uang lewat cara yang jantan”. Begitu pikir Anus dalam otaknya. Anus berangkat ke kalangan aduan bersama CR7.

Benar saja. Anus pulang kembali membawa harga diri dan uang yang banyak. Urusan Yanti tentu akan beres. “Lanjutkan cita-citamu, Nak. Bapak akan mendukung dengan CR7 dan doa”. Demikian balas pesan Anus kepada Yanti. CR7 mendapat rekor yang ke 2. 

Beberapa hari kemudian, saat sedang mandikan CR7, bunyi motor berhenti di depan rumah. Anus mendengarnya, namun berpura-pura tidak. 2 orang turun dari motor dan mendapati Anus di belakang rumah sedang menjemur CR7. 

Saat asik ngobrol tentang seru dan hebatnya CR7 di pertandingan terahir, istri Anus datang membawa tiga gelas kopi. Obrolan mereka semakin seru. Mendengar puja-puji kedua temannya, Anus semakin bangga dan percaya diri. Namun, dibalik puja-puji kehebatan CR7 ada maksud yang belum terkatakan oleh salah seorang temannya. 

“Jadi, begini. Saya ke sini ingin membeli CR7. Saya mengajak saudaramu ini, si Pua, karena ia yang tahu rumah kamu.” Jelas teman Anus singkat.

Saya tidak akan menjual CR7. Itu harga mati. Dari kecil CR7 saya pelihara dan saat besar ayam ini telah memberi banyak untuk saya. Saya tidak ingin berkhianat terhadap CR7. Di situlah letak kesalahan banyak teman kita. Ayam sudah memberi kemenangan untuk kita, eh, malah dijual. Itu namanya tidak setia kawan. Saya beritahu kamu, ya, jika kita tidak setia, apa pun yang kamu lakukan akan membawa sial. Paham?” Anus menjelaskan penuh semangat nan membara. 

“Saat dalam perjalanan ke sini tadi, si Latus ingin membeli ayam kamu dengan harga yang saya rasa sangat tinggi. Jika kamu masih belum mau jual, anggap saja saya yang membelinya. Apakah kamu masih menolak?” Potong Pua sambil menatap Anus. 

Anus diam seribu bahasa. Diteguknya sedikit kopi dari gelasnya yang masih mengepulkan uap panas. Pikirannya melayang tingi. Sekali lagi Anus ingin menegaskan: tidak akan menjual CR7, namun dilema melanda hati dan pikirannya. 

Anus selalu ingat bahwa selama ini, ia banyak berhutang kepada Pua. Jika belum memiliki uang untuk dikirim ke Yanti, Pua selalu memberinya pinjaman. Pua juga pernah memberi pinjaman uang saat ingin memperbaiki atap rumahnya yang bocor. Tidak berhenti di situ saja. Selama membawa CR7 ke kalangan tempur, uang Pua lah yang dipakai Anus sebagai ikatan tanda jadi.

Anus memutuskan demikian:

“Yang adil buat saya, Pua dan Latus, lebih baik CR7 saya bawa kembali untuk berlaga sore ini. Jika nanti CR7 bisa tumbangkan lawan, CR7 boleh kamu beli. Jika tidak, CR7 tetap akan di rumah ini. Setuju?”

Latus dan Pua mengangguk setuju. Lalu pulanglah mereka berdua. Bunyi motor terdengar sayup-sayup oleh Anus. Ia tahu, CR7 belum sehat. Luka-luka di wajahnya belum sembuh sehingga belum menunjukkan warna merah merona. Badan CR7 teraba lemes.  Saat melihat kotoran CR7 berair, Anus yakin untuk tetap membawa CR7 ke kalangan tempur. “Itu namanya setia kawan.” Bisik Anus dalam hati.

Karot, 6 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.