Kamus mendefinisikan balada sebagai sajak sederhana tentang cerita rakyat. Bisa dinyanyikan, bisa pula berbentuk dialog. Benar bahwa Novel Balada Supri adalah cerita (rakyat) namun bentuk dialog yang dipakai agak lain dari biasanya. Keunikan inilah yang mungkin menjadi keunggulannya.

Menjadi pemenang ketiga sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2018, novel ini memberi harapan yang tinggi. Tentu ada sesuatu yang layak dipertimbangkan sehingga para juri menempatkannya di urutan ketiga terbaik.

Saya setuju dengan para juri. Mereka memilih jenis novel yang saya sukai. Kisah cerita yang mirip dongeng adalah favorit saya. Mungkin karena saya lebih suka dibuai cerita klasik dan sederhana.

Dimulai dengan adegan bunuh diri Supri Kumbang di halaman pertama namun batal oleh kehadiran temanya, menjadikan kisahnya menarik untuk diikuti terus. Mengapa ia memilih untuk bunuh diri? Siapakah teman yang menggagalkan aksi bunuh diri itu? Dua pertanyaan itu memantik minat.

Teknik bercerita menarik. Novel karya Eka Kurniawan dengan judul Lelaki Harimau juga memakai teknik yang sama. Kisah di awal novel adalah akhir cerita sekaligus klimaks.

Klimaks sebuah kisah langsung disampaikan tanpa perlu disembunyikan. Tujuannya tentu bukanlah klimaks itu melainkan cerita di baliknya. Dengan teknik seperti itu, penulis telah membingkai atau membatasi sebuah kisah. Tinggal mengisinya dengan berbagai gambaran kisah menarik lain ke dalam bingkai. 

Jika Lelaki Harimau menjalin hubungan kisah demi kisah begitu unity, Balada Supri malah menjadikannya terpecah dan terkesan menambah kisah Angsa Mei agar tampilan novelnya lebih tebal. Penulis (mungkin) menganut aliran “Lebih Tebal, Pasti berkualitas”.

Tantang realisme magis. Untuk yang satu ini, penulis membuat saya terkesan. Hadirnya adegan-adegan magis serasa alamiah, bukan hal yang dipaksakan. 

Kehadiran nenek yang adalah dukun beranak adalah wajar tanpa pengecualian. Si nenek selalu hadir dalam empat generasi keluarga Supri Kumbang. Tidak dapat dipikirkan secara logika. Ia hanya perlu dirasakan dan dinikmati. Itulah kehebatan magis.

Namun, mulai sedikit agak menganggu saat para genderuwo dan kuntilanak diajak terlibat dalam kisah pelarian Supri Kumbang. Sebenarnya masih saya anggap wajar, tetapi dengan pengecualian. Jika berusaha berlebihan lagi dalam penggambaran sesuatu yang magis, bersiaplah untuk menjadi roman picisan.

Saya, sebagai pembaca terlalu berharap lebih. Bagaimana tidak? Novel ini bersaing dengan ratusan kiriman novel lain dalam sayembara itu. Telah pula dibaca oleh para juri yang mumpuni. Tentu hasilnya akan luar biasa. Ternyata tidak selalu demikian.

Menghasilkan karya tidaklah mudah. Butuh keterlibatan beberapa orang, yang mana, semua keterlibatan mereka itu sangat dibutuhkan peran aktifnya. Beberapa orang yang saya maksudkan itu adalah penulis, editor, desain sampul, tata letak, ilustrator, proof reader dan sebagainya.

Dalam proses penerbitan novel ini, peran aktif dari beberapa orang tersebut tidak kelihatan. Terkesan: asal novel sudah ditulis, langsung saja diterbitkan tanpa perlu melakukan revisi atau pengeditan. Hal ini tentunya fatal. Sebab, kepuasan para pembaca adalah taruhannya.

Para pembaca telah mengeluarkan uang untuk membelinya. Sudah sepatutnya mereka dibuat puas. Betul bahwa kepuasan itu adalah subjektif, namun tetap bisa diantisipasi dan diukur secara lebih baik.

Selain itu, waktu yang pembaca siapkan untuk membaca sebuah novel perlu juga menjadi pertimbangan. Mungkin saja para pembaca melakukan tindak korupsi dengan mencuri waktu kerjanya di kantor hanya untuk membaca novel ini. Dosanya jadi bertambah. Sudah korupsi, malah bacaannya tidak membebaskan pembaca dari rasa berdosa.

Bisa juga para pembaca mencuri waktu tidur malam untuk membacanya. Namun, akan sangat disayangkan jika pembacaan novel ini membuat tidur malam para pembaca diikuti mimpi buruk setelahnya karena terganggu tulisan kata serta kalimat yang tidak enak dinikmati. 

Yang akan saya sajikan di bawah ini adalah kesalahan penulisan kata-kata dalam novel besar ini. Sebenarnya kesalahan-kesalahan itu bukanlah kerja pembaca. Tetapi, jika mereka (seperti yang disebutkan di atas) tidak mampu mengerjakan pekerjaannya, maka terimalah persembahan pembaca yang kurang nyaman ini. 

“Ingih” seharusnya “ingin” (hal.9)

“Menjembut” seharusnya “menjemput” (hal. 17)

“Sirihnyanya” seharusnya “Sirihnya” (hal. 40)

“Ingin di melahirkan..” seharusnya “Ingin melahirkan…” (hal. 46)

“Si Nenek memungguingi…” seharusnya “Memunggungi” (hal. 66)

“Sembari berjalanmeninggalkan dirinya”, Seharusnya “Sembari berjalan meninggalkan dirinya”. (hal.68)

“…Yasudahlah.” Seharusnya “….ya sudahlah”. (hal. 74)

“Djoko Telu mengampirinya dan mengajaknya berdiri mengahadapnya”. Seharusnya “Menghampirinya….menghadapnya”. (hal. 76). 

“…perasaanyang gelisah” seharusnya “perasaan yang gelisah”. (hal. 93). 

“memtuskan” seharusnya “memutuskan” (hal. 102)

“Cinta yang membuanya mabuk”. Seharusnya “membuatnya” (hal. 120). 

“…malah kembali menayakan..”. Seharusnya “menanyakan”. (hal. 141).

“…keinginannya lamanya.” Seharusnya “…keinginan lamanya”. (hal. 166).

“…..menemuninya’. Seharusnya “menemuinya”. (hal. 204).

Ada juga kesalahan penulisan huruf kapital. Misalnya seperti ini:

 “…..ia langsung bertanya, Mana Ayah?” Seharusnya “mana Ayah?” (hal.17)

“…lalu tubuhnya dimakan, Jelas ibunya…. Seharusnya “jelas ibunya…..” (hal. 18).

Sampai di sini saya merasa sangat bosan. Seharusnya buku ini tidak saya baca hingga tuntas. Hanya saja Supri Kumbang terus memanggil dan mengajak ke dunianya. Saya pun berusaha membaca sampai habis dengan hati terluka dan kepala yang pening.

Selain karena Supri Kumbang yang memaksa saya membaca hingga akhir, nama besar novel ini juga adalah alasannya. Novel ini merupakan jagoan para juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Sayang untuk dilewati begitu saja. Seakan-akan merendahkan kemampuan dewan juri jika tidak membaca pilihan mereka.

Saat ngobrol dengan teman-teman tentang novel ini, mereka malah menemui banyak kalimat yang tidak efektif serta membingungkan.

“Apakah ini Joko Telu atau Joke Tole yang berbicara? Mungkin juga yang penulis maksud adalah Joko Telo.”

Sebagai catatan, kata “Telo” adalah kata gaul anak muda daerah NTT. Bisa dipakai sebagai sapaan akrab, bisa juga diartikan sebagai makian.

Hal-hal yang saya tuliskan di atas tentunya tidak akan membuat pembaca puas saat membacanya. Jika salah dalam menulis kata, tidak ada obatnya lagi dibanding jika akhir sebuah cerita tidak disukai pembaca. 

“Novel ini tidak layak terbit!” Kata teman saya dengan lantang seperti meneriaki para kompeni zaman dahulu: “Ini dadaku, mana dadamu?” Keras sekali komentar teman saya yang satu itu.

Sedangkan teman-teman yang lain hanya diam dan menyimpan semua sumpah serapah dalam hati, tetapi kemudian akan ditumpahkan saat bertemu teman-teman lain lagi. Itulah salah satu siasat mapan untuk memberitahu orang bahwa novel tersebut telah dibaca tuntas.

Sekarang mengenai tanda petik dua. Biasanya dialog-dialog dalam tulisan menggunakan tanda baca. Bisa juga tidak diperlukan, jika saja penulisnya pandai menuliskannya. 

Di dalam novel ini tidak terdapat tanda petik dua. Apakah tidak ada dialog antar tokoh? Tidak. Justru banyak dialognya. Terus, apakah ketidakhadiran tanda itu memang di sengaja oleh penulis?  Tidak bisa saya pastikan.

Yang jelas, ketidakhadiran tanda petik dua di dalam novel ini sangat membingungkan pembaca, seperti saya ini. Mungkin saja penulis menganut teori bahwa semua pembaca itu pintar. 

Pembaca dapat mengerti semua yang tertulis walaupun kalimatnya terpatah-patah. Sebab, menurut teori juga, otak kita akan menghubung-hubungkan secara otomatis. 

Namun, ketidakhadiran tanda petik dua ini menyusahkan pembaca. Semakin lama dibaca semakin bingung, kacau dan lelah. Untung saja saya tetap bertahan hanya karena Supri Kumbang lah yang menarik saya.

Saya tetap setuju dengan keputusan para juri. Kisah novel ini patut diancungi jempol. Sebenarnya tugas para juri selesai sampai di situ. Masalah kapan diterbitkan, penerbit apa yang dipilih, termasuk siapa editor yang akan dipakai, itu adalah tanggungjawab penuh sang penulis. 

Harapan saya adalah jika novel ini akan terbit pada cetakan kedua maka segala kesalahan teknis penulisan yang ada pada cetakan ini, harus dieliminasi dan disusun lebih baik lagi. Tetap semangat dan salam literasi. 

Karot, 7 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.