Di suatu pagi yang cerah, Bapak Kapolres – yang baru saja dilantik – diwawancarai oleh seorang wartawan dari sebuah situs berita online lokal. 

“Setelah Anda dilantik beberapa hari yang lalu, kira-kira langkah apa yang menurut Anda paling penting dan harus segera dilaksanakan agar keadaan kota ini sesuai dengan cita-cita Anda?” Tanya wartawan, membuka pembicaraan.

“Saya mempunyai tekad untuk menghilangkan semua jenis perjudian di kota ini. Baik judi kupon putih, judi kartu, judi sabung ayam, maupun bentuk judi yang lain.” Jawab kapolres singkat dan jelas.

“Wah, sepertinya tugas yang akan Anda kerjakan itu sangat berat. Apakah Anda yakin perjudian ini akan segera lenyap ditelan gerakan pasukan buru sergap Anda?” Pancing wartawan itu lagi.

“Saya yakin. Mulai besok team saya akan bekerja. Saya telah memerintahkan Kepala Satuan Buru Sergap menindaklanjuti tekad saya itu.”

“Loh, ini off the record atau on, Pak? Kalau berita ini saya turunkan besok, semua penjudi pasti tahu operasi team buru sergapnya. Nanti hasilnya nihil. Sebab, zaman sekarang para penjudi sudah gemar membaca, Pak.” Jelas wartawan.

“Ya, on the record, dong. Besok itu bukan berarti Hari Rabu karena hari ini Hari Selasa. Besok untuk team saya artinya futureFuture itu bisa berarti lima menit dari sekarang, satu jam, bisa juga dua atau tiga hari lagi. Mengerti kamu?”

Sambil mengangguk-anggukan kepala, wartawan itu diam sesaat. Kemudian meluncurkan pertanyaan lebih menusuk. 

“Kalau boleh tahu kira-kira strategi apa yang akan bapak pakai untuk membekuk para penjudi, yang katanya lebih lihai dari polisi itu?”

“Waduh, kalau yang ini rahasia. Yang jelas saya tetap akan memakai cara konvensional dengan sedikit modifikasi.” Jawab kapolres dengan senyuman kecil.

Naluri wartawan ini bekerja.

“Konvensional? Cara konvensional itu seperti apa, Pak?”

Kembali Bapa Kapolres tersenyum dan melanjutkan. 

“Ini off the record ya. Saya bekuk semua penjudi itu. Mulai dari jaringan sampai bandar atau otaknya. Kalau cara konvensional itu namanya KUHP: Kasi uang habis perkara. Nah, cara ini sudah saya modifikasi menjadi seperti ini: setelah membekuk mereka, kemudian saya akan meminta uang tebusan yang tinggi sekali agar bisa bebas. Saya yakin, tidak akan ada seorang pun yang sanggup memenuhinya. Dengan demikian, mendekamlah mereka dalam tahanan selama-lamanya. Beres, kan?” Setelah menjalaskan seperti itu, tawa kapolres berderai, membanggakan ide cemerlangnya.

Tawa kapolres itu dirasakan oleh sang wartawan sebagai sebuah ejekan. Secara spontan wartawan itu memotong dengan sebuah pertanyaan lagi.

“Maaf, Pak. Bukannya cara yang bapak ceritakan sama saja dengan cara konvensional? Cara itu namanya UUD juga kan Pak? Maksudnya, Ujung-Ujung Duit.”

“Ya, benar. Saya sudah mengatakan bahwa cara itu adalah cara konvensional, tetapi sudah sedikit dimodifikasi. Yang namanya modifikasi itu tidak menyimpang dari esensi lama. Paham, kamu?” Tanya kapolres sedikit memaksa.

“Wah, bangsat juga kapolres ini. Mulutnya cukup tangkas.” Bisik sang wartawan dalam hati. Malang nasibnya, kapolres tahu bahwa ada sesuatu yang baru dikatakan wartawan itu. Sekalipun hanya dikatakan dalam hati.

“He, kamu bilang apa? Saya memang bukan orang asli sini, tetapi saya sudah lama tinggal di kota ini. Karena itu saya sangat mengerti watak dan bahasa orang sini. Orang-orang di daerah ini wataknya pengecut. Tidak berani mengatakan sesuatu secara jelas dan terbuka. Nanti kalau sudah mulai banyak orang yang menghasut baru akan berpikir dan bertindak. Seperti kamu ini. Coba, apa yang kamu katakan tadi dengan diam-diam?” Tanya kapolres sengit.

“Tidak, Pak. Tadi saya mengatakan bahwa saya begitu jauh ketinggalan di bawah kecerdasan bapak sebagai kapolres. Ide yang bapak ceritakan untuk membekuk para penjudi ini belum pernah saya pikirkan dan belum pernah juga saya mendengarnya dari orang lain.” Sang wartawan mendeham. Kemudian ia melanjutkan. 

“Ini membuktikan bahwa ide Bapak sangat orisinil. Bukan jiplakan dari pemimpin-pemimpin yang sudah-sudah.” Jelas wartawan itu sedikit membungkuk.

Mendengar itu, Bapak Kapolres riang gembira. Ia pun mempersilakan sang wartawan untuk minum kopi yang sudah disediakan.

Keesokan harinya, berita wawancara itu muncul di media online. Headlinenya berbunyi: “Tekad Kapolres Memberantas Perjudian.”

Setelah membaca headline dan isinya, Pak Anus tidak bisa tenang. Ia gelisah, meradang dan kemudian menumpahkan isi kepalanya kepada semua orang di rumahnya.

“Sudah gila kapolres ini. Mau berantas perjudian? Tahi kucing!” Teriak Pak Anus. Sambil mengambil koran lokal itu, Pak Anus membaca dengan suara nyaring hingga terdengar sampai ke seluruh ruangan. Istrinya yang lagi masak di dapur juga mendengar protes suaminya.

“Kapolres kembali mengingatkan kepada masyarakat bahwa judi itu tidak baik.” Setelah selesai membaca, koran itu dibuang ke atas meja tamu dan menyenggol vas bunga yang ada di atasnya. Kemudian vas bunga itu jatuh sehingga menimbulkan bunyi pecahan dan membuat suasana semakin mencekam. setelah itu, semuanya hening.

“Ada apa, Pak? Pulang-pulang sudah marah-marah?” Tanya istrinya memecah keheningan. Yang ditanya tetap diam. Kemudian, Linus, anak sulung Pak Anus keluar dari kamar dan bertanya.

“Apa bapak tidak setuju dengan ide kapolres itu?”

“Ya, jelas tidak setuju. Ide itu sudah dari dulu dikumandangkan kapolres-kapolres sebelumnya. Hasilnya, nihil! Kapolres sekarang hanya mengulang-ngulang ide yang sama dengan para pendahulunya. Tidak  ada yang orisinil lagi. Tidak orisinil karena tidak mau berpikir. Pantesan harga otak orang Indonesia paling mahal. Sebabnya jarang dipakai alias masih orisinil.” Balas Pak Anus berang.

“Loh, iya kan, Pak. Karena belum berhasil menuntaskan masalah perjudian, makanya Pak Kapolres masih memakai ide kapolres-kapolres sebelumnya. Itu namanya berkesinambungan, Pak.” Jelas Linus tak kalah sengit.

“Ok, baik. Bapak mengerti. Tetapi untuk apa memberantas perjudian, ha?” Pak Anus bertanya dengan muka semakin memerah ke arah Linus, anaknya.

“Itu tadi bapak sudah membacakannya, bahwa judi itu tidak baik.”

“Kata siapa judi itu tidak baik? Ayo, buktikan! Judi itu sudah menjadi bagian dalam kehidupan. Sudah menjadi darah dan daging kita. Ketika kita lahir, kita juga berjudi. Sebab, sebenarnya tidak ada satu manusia pun yang ingin lahir dari ayah dan ibunya yang miskin. Kalau kamu menang, wow, kamu dilahirkan di lingkungan yang serba ada. Kalau kalah, ya, seperti keadaan kamu sekarang ini.” Pak Anus berhenti sebentar untuk minum air putih, kemudian sambil memandang Linus dan ibunya, ia melanjutkan.

“Jadi, sebenarnya kapolres itu harus diberikan pengertian bahwa perjudian itu ibarat bakteri atau mikroorganisme yang hidup di seluruh tubuh manusia. Di dalam tubuh kita ada yang namanya bakteri jahat dan yang baik. Kalau bakteri yang jahat itu bisa menimbulkan penyakit. Berbahaya dia. Tetapi, bakteri yang baik tidak berbahaya. Jadi tidak diperlukan obat untuk menghilangkannya. Justru bila diberikan obat, malahan akan menganggu ekosistem kehidupan mereka. Dan mereka – mikroorganisme yang baik itu – akan berubah menjadi jahat. Jadi, menurut saya, perjudian itu sama dengan bakteri yang baik dan tidak perlu diberantas tuntas.”

Linus bingung tujuh keliling. Ia tidak dapat menangkap maksud ayahnya. Untuk menghargai penejelasan ayahnya, ia menyodorkan pertanyaan lagi dengan harapan akan mendapatkan penjelasan panjang sehingga nanti ayahnya lelah sendiri menjelaskannya.

“Mungkin maksud Pak Kapolres itu agar masyarakat tidak mencari nafkah dengan berjudi, Pak. Jadi harus bekerja. Sebab menurut agama, bekerja itu ibadah. Bagaimana menurut Bapak?”

“Sekali lagi, bapak sangat mengerti apa yang kamu maksudkan, Linus. Bahwa judi itu bisa menghabiskan harta benda, rumah dan tanah. Itu memang benar. Tetapi, bukannya berdagang juga sama? Lihat saja si Latus, adik ibu kamu itu. Ia membuka toko dengan mendapat kredit dari bank. Hasilnya, setelah dua tahun, ia tidak sanggup membayar. Toko bahkan rumah tinggalnya pun sudah disita pihak bank. Apa bedanya? Sama saja dengan judi, kan?” Pak Anus sampai terbatuk-batuk dan kembali meneguk air putih untuk melonggarkan tenggorokannya.

Linus mulai merasa tergugah untuk bertanya lebih lanjut. 

“Tetapi, Pak, sekarang banyak sekali orang-orang di kota ini mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Apakah hal ini sama dengan berjudi?”

“Betul, anakku. Judi dan maju sebagai calon anggota DPR itu, sama. Ada yang berusaha sekuat tenaga, jiwa dan raga, tetap tidak terpilih. Yang terpilih malah mereka yang tidak berbuat sesuatu sama sekali. Bagi mereka yang belum terpilih, seperti bapakmu ini, belum menyerah untuk tetap maju dan berharap terpilih sebagai wakil rakyat di waktu yang akan datang. Bapak sudah maju untuk yang ketiga kali, ternyata tidak terpilih juga. Akhirnya, bapak memutuskan untuk menunggu sambil terus belajar lebih banyak. Entah itu belajar berjudi kupon putih, berjudi kartu, berjudi sabung ayam sambil menunggu momen yang pas buat berjudi pada skala yang lebih besar dan lebih rumit.”

Begitu selesai bicara, Pak Anus menoleh ke kiri dan kanan, Linus sudah tidak ada. Kemudian ia menjerit: “Linus, kemana kamu?”

Karot, 16 Januari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.