Membaca “Burung-Burung Rantau” karya Y.B Mangunwijaya

Novel ini adalah novel pertama di tahun 2015 yang saya baca. Tidak ada yang terlalu istimewa dari novel ini. Kecuali bahwa dialog-dialog yang menggerakkan cerita begitu nyata dan terasa sekali ide/pikiran dari penulis di hamparkan begitu jelas kepada kita yang membacanya.

Mengenai plot cerita novel ini sederhana saja. Tidak berbelit-belit dan kita akan terbawa terus untuk mengikuti kisah-kisah selanjutnya dari tokoh-tokoh yang juga tidak begitu banyak. Tetapi kesan saya selama membaca, dialog-dialog yang sudah saya katakan terasa nyata malah membuat novel ini berjalan lambat sehingga jalan cerita yang seharusnya bisa dipercepat akhirnya berjalan pelan dan terkesan terseok-seok.

Novel ini bercerita mengenai satu keluarga dengan kepala keluarganya adalah seorang Letnan-Jenderal bernama Wiranto dan istrinya bernama Yuniati dengan lima orang anak. Anak sulung bernama Anggraini, seorang wanita karier yang menjalankan bisnis besar. Anak yang kedua bernama Wibowo, seorang pakar fisika nuklir dan astro-fisika yang bekerja di Jenewa. Anak yang ketiga bernama Candra seorang Letnan-Kolonel sebagai seorang instruktur pesawat jet pemburu di Madiun. Anak yang ketiga adalah Neti seorang sarjana Antropologi yang bekerja di sebuah kampung kumuh untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Anak bungsu dari keluarga ini tidak diceritakan secara terinci hanya dikatakan sudah meninggal pada usia remaja akibat terjerumus menggunakan narkoba.

Harus saya tuliskan secara lengkap anggota keluarga ini, karena seluruh dialog dan jalan cerita hanya berputar pada tokoh-tokoh itu. Konflik pertama di awal cerita ini adalah konflik antara Ibu Yuniati dan putrinya, Neti, mengenai memakai bra/BH. Kemudian konflik meluas pada anak kedua, Wibowo yang akan membawa calon istrinya dari Yunani ke Indonesia,dst.Novel setebal 400-an halaman ini ternyata terbit pertama kali pada tahun 1992 (kurang lebih 23 tahun yang lalu). Yang membuat saya kagum bukanlah bahwa novel ini sudah lama ada dan saya baru membacanya sekarang, bukan. Yang membuat saya kagum adalah bahwa penulis novel ini, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, menulis dan meyelesaikan novel ini pada usia 63 tahun. Luar biasa. Dari mana energi dan semangat itu?

Romo Mangun begitu ia biasa disapa, sangat terkenal dengan novelnya yang berjudul “Burung-Burung Manyar”. Sebagai seorang rohaniwan, urusan berkotbah adalah tugas pokok, tetapi berkotbah lewat sebuah novel adalah hal lain lagi yang bila tidak memiliki teknik menulis yang mumpuni akan terasa hambar dan membosankan sebab yang terbaca akan seperti nasehat atau pidato panjang dan melelahkan.

Novel ini terdiri dari 19 bab, dengan judul dari masing-masing bab tersebut mewakili tema masing-masing bab tersebut, tetapi tidak jarang pula beberapa judul bab akan sangat susah untuk dicari kecocokannya dengan isi bab tersebut. Mungkin saja ini pendapat pribadi saya. 

Hal lain yang menarik untuk disimak adalah diksi dan metafora yang dipakai sangat khas Romo Mangun. Ditambah lagi dengan bahasa Belanda yang diselipkan cukup banyak dalam dialog-dialog, ini menunjukkan bahwa Romo Mangun juga fasih dalam berbahasa Belanda. Bahasa Inggris pun sangat piawai dipakai dalam kalimat-kalimat dialog sehingga terkesan tidak “patah-patah” jika disanding atau disatukan dengan kalimat bahasa Indonesianya. 

Tak kalah penting adalah “humor kering” yang sesekali dilemparkan dalam novel ini sangat elok untuk disimak. Seperti yang tertulis pada bagian belakang novel ini bahwa latar tempat pun indah sekali digambarkan seperti Jakarta, Yunani, Swiss, India dan kepulauan Banda.

     Akhirnya, jika ditanya apa maksud judul novel ini? Kira-kira bahwa yang dimaksud oleh Romo Mangun adalah kita semua manusia yang hidup di dunia ini adalah “Burung-Burung Rantau”. Tidak ada satu pun dari kita mengetahui akan jadi apa nantinya, semuanya adalah misteri ilahi yang bisa kita lakukan adalah berbuat banyak untuk kebaikan maka semua yang baik itu akan ditambahkan kepada kita oleh Pemberi Kehidupan.

Ruteng, 5 Januari 2015, 01.21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *