Bagian 1.

Kapan pertama kali saya bertemu Orang Tionghoa?

Persis seperti itu, jiwa arkeolog saya mulai memeriksa kenangan masa lalu. Memberi label semua kenangan, mengelompokkan dan menganalisa. 

Jadi, kapan pertemuan pertama itu terjadi? Sejauh yang saya ingat, sekitar tahun 1959 atau 1960. Apa pentingnya mengingat secara tepat waktu pertemuan itu? Tahun 59 dan 60 layaknya saudara kembar yang susah dibedakan. Bahkan jika saya memiliki mesin waktu untuk kembali pada masa itu, saya ragu bisa menentukan secara tepat.

Walaupun demikian, saya tetap berusaha sekuat tenaga. Menggali ingatan-ingatan demi mengisi kekosongan memori yang hilang. 

Baiklah, seingat saya, Johansson dan Patterson bertarung merebut gelar kelas berat dunia, di tahun itu. Berarti, saya harus mencari kejadian olah raga penting di tahun-tahun tersebut. Sepertinya saya akan mendapat jawaban. 

Di suatu pagi, saya naik sepeda ke perpustakaan. Tepat di sebelah pintu masuk perpustakaan, entah dengan tujuan apa, ada kandang ayam berisi lima ekor ayam yang sedang menikmati makan pagi atau makan siang mereka. Hari itu adalah hari yang cerah. Sebelum masuk ke dalam perpustakaan saya menyalakan sebatang rokok dan duduk di trotoar dekat kandang ayam tersebut. Ayam-ayam mamatuk makanan dengan gesit seperti kerja kamera menangkap beberapa gambar dalam hitungan detik. 

Selesai merokok, dua pertanyaan muncul dalam benak saya seketika. Mungkin karena melihat lima ekor ayam atau karena lenyapnya asap rokok, tidak bisa saya pastikan. Dua pertanyaan itu: pertama, siapa yang tertarik dengan tanggal yang tepat saya bertemu Orang Tionghoa pertama kali? Dan kedua, apakah jawabannya akan saya temukan di dalam perpustakaan?

Pertanyaan yang bagus. Saya menyalakan rokok sebatang lagi, kembali ke sepeda dan mengucapkan selamat tinggal kepada lima ekor ayam dan pulang. Jika burung-burung di langit tidak pernah memikirkan nama mereka, biarkan ingatan saya juga terbebas dari memikirkan tahun itu. 

Memang, saya sering melupakan waktu sebuah kejadian. Ingatan saya benar-benar untuk waktu yang sangat singkat. Sangat tidak bisa diandalkan, namun seringkali saya ingin membuktikan sesuatu dengan ingatan itu. Bagaimana saya membuktikannya? Akurasi ingatan yang kacau tentu saja tidak bisa membuktikan apa-apa. 

Pokoknya – atau lebih tepatnya – ingantan saya sangat rapuh. Saya seringkali salah dalam mengingat sesuatu. Kadang-kadang apa yang saya ingat merupakan kejadian yang orang lain alami. Pada saat yang sama, bisakah Anda mengatakan bahwa itu adalah ingatan saya? Bacalah kejadian saat saya di Sekolah Dasar (masa kejayaan demokrasi setelah perang). Ada dua kejadian: Pertama adalah tentang Orang Tionghoa, kedua adalah cerita pertandingan bisbol pada suatu sore saat liburan musim panas. Di pertandingan itu, saya bermain di lapangan tengah, dan tiba-tiba jatuh pingsan. Alasannya, karena kami hanya diperbolehkan bermain di salah satu sudut kecil lapangan olahraga sekolah, saat berlari dengan kencang, kepala saya menabrak tiang bola basket yang ada di dekat tempat kami bermain. 

Ketika saya sadar, ternyata saya telah dibaringkan di sebuah bangku panjang, hari sudah mulai gelap, dan hal pertama yang saya rasakan adalah aroma basah dan kering dari sarung tangan kulit yang diletakkan di bawah kepala saya sebagai bantal. Muncul rasa nyeri di pelipis. Saya yakin mengatakan sesuatu, namun saya tidak ingat. Kemudian seorang teman yang menjaga saya berkeliling memberi tahu yang lain. Yang saya katakan tadi adalah; tidak apa-apa, tolong bersihkan debu di badan saya atau kamu bisa memakannya. 

Saat ini, jika mengingat-ingat, dari mana datangnya kalimat itu? saya tidak tahu. Mungkin saya sedang bermimpi tentang makan siang. Hingga dua dekade kemudian, kalimat itu selalu muncul menendang-nendang di dalam kepala saya. 

“Tidak apa-apa, tolong bersihkan debu di badan saya atau kamu bisa memakannya.”

Kalimat itu membuat saya berpikir tentang hidup seorang manusia dan hal-hal yang akan dihadapinya. Salah satu hal-hal itu adalah kematian. Membayangkan kematian, setidaknya bagi saya, adalah gambaran yang sangat absurb. Dan, kematian, untuk beberapa alasan, mengingatkan saya pada Orang Tionghoa. 

***

Tulisan di atas adalah bagian pertama dalam cerpen Haruki Murakami, berjudul “A Slow Boat to China”. Cerpen ini saya terjemahkan dari antologi cerpen Murakami: The Elephant Vanishes. Terjemahan dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris dilakukan oleh Alfred Birnbaun dan Jay Rubin. Terbit pada July 1994, Vintage International, hal. 217 – 220.

Saya mau bahas tentang judul. Usaha menerjemahkan “A Slow Boat to China”, jika saya pikir-pikir, akan memakan waktu yang tak terhingga. Bisa diterjemahkan seperti ini, bisa juga seperti itu. Tidak ada yang paling tepat. 

Tentu banyak nasihat untuk urusan ini. “Kamu harus membaca secara keseluruhan isi cerpen ini. Dari awal hingga akhir. Bila perlu membaca berulang-ulang agar dapat menentukan judulnya dengan tepat”. Nasihat seperti ini tentu berasal dari seorang politikus. Mereka pandai menganjurkan sesuatu, namun tidak pernah mengerjakannya. 

“Untuk menentukan judul yang tepat, kamu harus memahami budaya di mana tulisan asli ditulis. Pahami budaya mereka lalu ditulis kembali sesuai dengan budaya kita!” Ini tentunya nasihat dari orang yang cita-citanya menjadi penerjemah, namun gagal. 

Mendengar kedua nasihat di atas, tidak memberikan jalan keluar apa-apa terhadap masalah penentuan judul yang tepat. Akhirnya saya memutuskan saja judulnya, menjadi: “Berlayar ke China”. 

“Loh, mana kata “A Slow Boat”? Tidak kamu terjemahkan? Jangan asal-asalan loh, menerjemahkan sesuatu.” Komentar ini tentu akan muncul pertama kali. Saya berani jamin. 

Tujuan saya melakukan alih bahasa – tidak mau menggunakan kata “terjemahkan” – adalah untuk senang-senang. Sesuatu yang menyenangkan itu jika dikerjakan tentu tanpa beban. Terjemahan judul seperti yang saya lakukan di atas sangat memuaskan hati dan pikiran. Cerpen itu menjadi cerpen saya banget, bukan Murakami banget. Nah, inilah yang menurut saya, menjadi masalah terpenting. 

Unsur-unsur khas Murakami menjadi hilang jika diterjemahkan. Bukan lagi menjadi cerpen bergaya Murakami melainkan Kamimura. Bukan lagi orang Jepang melainkan orang Indonesia yang tinggal di Flores.  

Dalam konsep seperti di atas itulah yang ingin saya capai. Saya ingin belajar menerjemahkan karya seseorang yang saya kagumi. Namun, tidak menghilangkan rasa bahasa, gaya bahasa dan cara penulisan yang digunakan penulis aslinya. Ini tentunya tidaklah gampang. Saya sadar itu. Namun, bukankah tulisan-tulisan fenomenal itu harus dinikmati melampaui wilayah dan zaman serta bersifat subjektif? 

Ada 5 bagian cerpen ini. Mudah-mudahan proses alih bahasa bagian-bagian selanjutnya bisa segera dituntaskan dan ditayangkan.

Ada tiga buah cerpen yang dihasilkan Murakami di awal-awal proses kreatifnya sebagai penulis besar. Yang pertama adalah “A Slow Boat to China”, kedua: “A Poor Aunt Story”, ketiga: “New York Mining Disaster”. Cerpen-cerpen itu ditulis pada tahun 1980, saat Murakami berusia 31 tahun, kini 71 tahun.  

Cerpen yang ketiga sudah saya terjemahkan dan Anda bisa menikmatinya di sini. Untuk membaca lanjutan kisah “A Slow Boat to China” bagian 2, silakan pantau di sini

Karot, 16 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.