Bagian 2.

Ada sebuah sekolah dasar untuk Orang Tionghoa di sebuah bukit (maafkan saya, nama sekolah itu benar-benar saya lupa, jadi saya menyebutnya “Sekolah Orang Tionghoa”), dan saya harus ke sana untuk mengikuti ujian kemampuan dasar. Dari beberapa lokasi ujian, Sekolah Dasar Tionghoa yang paling jauh, dan saya satu-satunya dari kelas yang mengikuti ujian di sana. Bisa jadi ini adalah akal-akalan kepala sekolah. Teman-teman kelas lain mengikuti ujian di tempat yang lebih dekat. 

Sekolah dasar Orang Tionghoa?

Saya bertanya kepada semua orang apakah mereka tahu tentang sekolah dasar orang Tionghoa ini. Tidak ada satu pun yang tahu. Saat itu, saya belum pernah pergi kemana-mana sendirian. Jadi menurut saya sekolah itu mungkin berada di ujung dunia dan bumi.

Di hari Minggu dua minggu kemudian, saya berada di dalam kamar dan sedang meruncing selusin pensil, memasukkan bekal makan siang dan sandal ke dalam tas sekolah, sesuai perintah guru. Hari itu sangat cerah, mungkin terlalu hangat untuk musim gugur, mamaku menyuruh mengenakan sweater. Saya naik kereta sendirian dan berdiri terus sambil memandang ke luar jendela kereta, takut turun di stasiun yang salah.

Dari kejauhan saya bisa melihat sekolah itu tanpa memperhatikan peta yang tercetak di belakang formulir pendaftaran. Yang saya lakukan kemudian adalah mengikuti anak-anak sekolah dengan sandal dan kotak makan siang yang dimasukkan ke dalam tas sekolah mereka. Ada puluhan, mungkin ratusan, anak-anak yang akan mengikuti ujian. Saya terkagum-kagum. Tidak ada yang menendang bola, tidak ada yang menarik topi teman; semua orang berjalan dengan tenang. Saat mendaki bukit, saya mulai berkeringat karena sweater tebal. 

Berbeda dengan apa yang saya bayangkan, sekolah dasar Orang Tionghoa tidak jauh berbeda dengan sekolah saya. Bahkan lebih bersih. Gang yang panjang dan gelap serta udara yang apak….Apa yang saya bayangkan selama 2 minggu sebelum ke tempat ini terbukti tidak benar. Melewati gerbang besi yang megah, saya berjalan mengikuti jalan setapak berbatu di antara pepohonan menuju pintu masuk utama, dimana terdapat sebuah kolam bening dan bercahaya karena sinar matahari pukul 9 pagi. Di sekeliling kolam berdiri barisan pohon, masing-masing dengan sebuah plakat tertulis nama pohon dalam bahasa China. Ada beberapa huruf yang bisa saya baca, namun beberapa, tidak. Setelah pintu masuk, terdapat halaman luas, di sudut-sudutnya ada petung perunggu seseorang, alat pengukur curah hujan dan tempat olah raga. 

Sepatu saya lepas di pintu masuk sesuai instruksi, lalu menuju ruang kelas. Pencahayaan ruang kelas sangat terang, meja-meja sejumlah 40 buah disusun dalam baris, masing-masing ditempel nama murid-murid. Saya duduk di baris paling depan dekat jendela; mungkin karena nilai saya jelek.

Papan tulis berwarna hijau tua; di atas meja guru terletak sekotak kapur dan vas berisi bunga krisan putih. Papan pengumuman bersih, tidak ada gambar atau kertas yang ditempel. Mungkin sudah diturunkan agar tidak menganggu kami selama ujian. Saya mengambil tempat duduk, mengeluarkan kotak pensil dan buku tulis, menopang dagu, dan menutup mata. 

Lima belas menit kemudian, ketika pengawas ujian masuk, membawa setumpuk lembar ujian di tangannya. Dia tidak melihat ke arah kami, tetapi terus berjalan dengan tongkat dan menyeret kaki kirinya yang sedikit pincang. Tongkat itu terbuat dari kayu ceri, agak kasar, dan merupakan barang yang dijual sebagai suvenir di jalur pendakian ke sekolah ini. Tongkat murah itu sebenarnya tidak banyak membantu. Empat puluh pasang mata terfokus pada pria ini, atau lebih tepatnya, pada ujian, dan semuanya diam membisu. 

Pengawas ujian duduk di depan kelas, meletakkan kertas-kertas ujian di atas meja dan tongkatnya di samping meja. Dia memeriksa satu per satu kursi yang telah terisi, terbatuk, dan melirik arlojinya. Kemudian, sambil memegang pinggir meja dengan kedua tangannya, dia memandang ke sudut langit-langit kelas. 

Suasana hening. 

Lima belas detik tanpa suara sama sekali. Murid-murid semua tegang dan menahan napas, menatap tumpukan lembar ujian; pengawas ujian yang berkaki timpang itu menatap langit-langit. Dia mengenakan jas abu-abu dengan kemeja putih dan dasi bercorak dan warna mencolok. Kemudian ia melepas kacamatanya, menyeka lensa dengan sapu tangan, sangat elegan, dan mengenakannya kembali. 

“Saya adalah pengawas ujian kalian,” pria itu akhirnya berbicara. “Segera setelah kalian menerima kertas ujian ini, letakkan menghadap ke bawah meja. Jangan membaliknya. Pandangan tetap lurus ke depan. Ketika saya mengatakan ‘Mulai’, baru kalian membaliknya dan mengerjakan. Sepuluh menit waktu yang tersisa nanti, saya akan mengatakan, ‘Sisa sepuluh menit’. Saat itu, periksalah kembali hasil pekerjaan untuk mengurangi kesalahan-kesalahan kecil. Ketika saya mengatakan ‘Stop’, itu adalah batas waktu terakhir ujian. Balikkan kembali kertas ujian ke bawah dan letakkan tangan kalian di pangkuan. Semua paham?”

Tidak ada yang menjawab. Hening. 

Dia melihat arlojinya sekali lagi. “Masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum mulai ujian. Saya ingin berbicara sedikit dengan kalian semua. Jadi, santai saja.” Ada beberapa desahan halus sebelum ia memulai. “Saya adalah Orang Tionghoa yang mengajar di sekolah ini.”

Ini adalah Orang Tionghoa pertama yang saya temui!

Dia tidak terlihat seperti Orang Tionghoa. Tapi apa yang saya harapkan? Seperti apa seharusnya tampang Orang Tionghoa? “Di dalam kelas ini,” dia melanjutkan, “Murid-murid Tionghoa seumuran kamu juga belajar keras….Sekarang, seperti yang kalian tahu, China dan Jepang adalah negara tetangga. Agar semua orang dapat menikmati hidup yang bahagia, tetangga harus berteman. Bukankah begitu?”

Hening. 

“Tentu saja, beberapa hal tentang kedua negara ini sangat mirip dan beberapa hal sangat berbeda. Beberapa hal kami saling mengerti dan beberapa hal lain, tidak. Bukankah hal-hal itu sama dengan kamu dan teman-teman? Bahkan jika mereka adalah teman-teman kamu, banyak hal yang mereka tidak pahami. Tetapi jika kamu berusaha, mereka tetap menjadi teman dekat. Itulah keyakinan saya. Agar bisa seperti itu, kita harus mulai dengan saling menghormati…..Itu adalah langkah pertama.”

Hening.

“Contohnya. Anggap saja banyak, banyak anak-anak Tionghoa pergi ke sekolah kamu untuk mengikuti ujian. Seperti yang kamu lakukan sekarang ini, duduk di meja anak-anak Tionghoa. Coba pikirkan sejenak.”

Hmmm….

“Misalkan pada hari Senin pagi, kalian semua kembali ke sekolah masing-masing. Kamu duduk di meja. Apa yang kamu saksikan? Kamu melihat banyak coretan di seluruh meja, permen karet yang dilengketkan di bawah kursi, salah satu sandal di kelas hilang. Bagaimana perasaanmu?”

Hening.

“Misalkan lagi, kamu,” lanjutnya sambil berbalik menatapku, “Apakah kamu senang?”

Semua orang menatap saya.

Saya kaget dan menggelengkan kepala.

“Jadi, begitu.” kata orang itu dan pandangan murid-murid kembali ke arahnya, “Kalian tidak boleh mencoret-coret meja atau menempelkan permen karet di bawah kuris atau bermain-main dengan barang-barang yang ada di dalam meja. Semua mengerti?”

Semua masih terdiam.

“Anak-anak Tionghoa berbicara lebih keras ketika menjawab sebuah pertanyaan.”

“Ya, kami mengerti!” Jawab empat puluh murid. Atau, mungkin hanya tiga puluh sembilan. Sebab mulut saya terasa terkunci.

“Nah, baiklah, angkat kepala, busungkan dada.”

Kami semua mendongak dan membusungkan dada.

“Berbanggalah!”

Dua puluh tahun kemudian, saya benar-benar lupa akan hasil ujian itu. Yang masih saya ingat adalah murid-murid sekolah dasar berjalan ke atas bukit dengan tertib dan tentang seorang guru Tionghoa itu. Oh, iya. Satu lagi tentang bagaimana cara mengangkat kepala dengan penuh kebanggaan. 

Karot, 18 Februari 2020

Murakami, Haruki. The Elephant Vanishes, Vintage International, (P. 220-225).

Ingin membaca “Berlayar Ke China bagian 3”, klik di sini.

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “BERLAYAR KE CHINA (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.