Bagian 3. 

Kota saat saya di SMU adalah kota pelabuhan, di situ ada beberapa orang Tionghoa. Mereka tidak tampak berbeda dengan kita, juga tidak memiliki sifat yang spesial. Mereka berbeda satu sama lain, karena itu mereka sama dengan kita. Ketika saya memikirkan hal itu, rasa ingin tahu tentang keunggulan individu mereka melebihi semua gambaran yang dapat diberikan oleh buku.

Beberapa anak Tionghoa ada di kelas saya. Ada yang mendapat nilai bagus, ada yang tidak. Ada tipe ceria, ada yang pendiam. Sebagian dari mereka tinggal di rumah besar, sebagian lagi tinggal di dapur yang tidak mendapat sinar matahari. Sungguh, mereka bermacam-macam. Walaupun demikian, saya tidak pernah benar-benar dekat dengan mereka. Saya bukanlah tipe orang yang mudah berteman. Bagi saya, Jepang atau China atau apa pun, tidak ada bedanya. 

Namun, saya akhirnya bertemu dengan salah satu dari mereka sepuluh tahun kemudian. Kisahnya akan saya ceritakan di bagan akhir. 

Mari ke beralih ke Tokyo.

Orang Tionghoa berikutnya – tidak termasuk teman-teman Tionghoa di sekolah – adalah seorang gadis pemalu yang saya kenal di tempat kerja paruh waktu selama musim semi tahun kedua kuliah. Usianya sembilan belas tahun, seperti saya, mungil dan cantik. Kami bekerja selama tiga minggu saat liburan itu. 

Dia sangat rajin bekerja. Saya mengerjakan bagian saya, bekerja sekeras yang saya bisa, saya kira, saat menoleh ke arahnya, ia juga demikian. Sepertinya kami berdua mempunyai prinsip yang sama: “Jika melakukan sesuatu, lakukanlah dengan baik dan benar.” Kebanyakan orang tidak mungkin bisa mengikuti prinsip kerjanya; cepat atau lambat mereka akan menyerah dan frustrasi. Satu-satunya orang yang bertahan hingga akhir bekerja dengannya adalah saya. 

Meskipun begitu, kami berdua hampir tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun pada awalnya. Saya mencoba untuk memulai percakapan beberapa kali, tetapi dia tampaknya tidak terlalu tertarik, jadi saya mundur. Pertama kali kami benar-benar duduk dan berbicara adalah dua minggu setelah mulai bekerja bersama. Pagi itu, selama setengah jam, dia diliputi kepanikan. Hal itu belum pernah terjadi padanya. Penyebabnya adalah kurangnya sedikit perhatian, dan barang menjadi rusak. Tentu saja, itu adalah kesalahannya, tanggung jawabnya, tetapi dari yang saya lihat sepertinya itu adalah kecelakaan biasa. Hilang konsentrasi sesaat, kecelakaan terjadi. Hal itu bisa terjadi pada siapa saja. Tetapi tidak untuknya. Dia benar-benar panik. Kehilangan kata-kata dan terdiam lama. Itu adalah pemandangan yang menyedihkan seperti sebuah kapal yang tenggelam perlahan di lautan pada malam hari. 

Segera saya menghentikan pekerjaan, mendudukkannya di kursi, melepaskan jari-jemarinya yang terkepal satu per satu, membuatkan segelas kopi panas untuknya. Kemudian saya mengatakan padanya, tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak ada yang terlambat untuk diperbaiki, kamu hanya perlu mengulangi pekerjaan itu dari awal dan tidak akan ketinggalan jauh dalam pekerjaan berikutnya. Walaupun jika kamu sedikit ketinggalan, itu tidak akan membunuhmu. Ia memandang ke bawah dan mengangguk tanpa suara. Secangkir kopi membuatnya lebih tenang. 

“Maaf,” bisiknya.

Saat istirahat makan siang, kami ngobrol banyak hal. Saat itulah dia memberi tahu bahwa dia Orang Tionghoa. 

Tempat di mana kami berdua kerja adalah sebuah gudang penerbit kecil dan gelap di Bunkyo Ward, Pusat kota Tokyo. Sebuah selokan kecil dan kotor mengalir tepat di samping gudang itu. Pekerjaan di situ mudah, membosankan dan capek. Saya menerima slip pemesanan, menyiapkan sejumlah buku yang dipesan. Dia akan mengikat buku-buku itu dengan tali dan mencocokannya dengan catatan. Hanya begitu saja. Tidak ada pemanas ruangan di tempat itu, jadi kami harus buru-buru mengerjakan sesuatu agar tidak kedinginan. Kadang-kadang cuaca sangat dingin sehingga saya pikir lebih baik membersihkan salju di bandara sekalian.

Saat jam makan siang tiba, kami berdua pergi mencari makanan yang panas, menghangatkan diri berjam-jam hingga jam istirahat selesai. Tujuan utamanya adalah mencari kehangatan. Sejak kejadian yang membuat dia panik, kami semakin sering ngobrol. Kata-katanya mengalir perlahan, dan saya mendapatkan gambaran. Ayahnya menjalankan bisnis konveksi di Yokohama, mengimpor pakaian murah dati Hong Kong. Meskipun orang Tionghoa, dia lahir di Jepang dan belum pernah pulang ke China, Hong Kong atau Taiwan. Tambahan lagi, dia belajar di sekolah-sekolah Jepang, bukan China. Hampir tidak pernah berbicara sepatah kata pun dalam bahasa China, tetapi bahasa inggrisnya jago. Kuliah di universitas swasta khusus perempuan dan bercita-cita menjadi penerjemah. Ia tinggal di Komagome, di apartemen bersama saudara laki-lakinya yang sangat dikasihinya. Sepertinya hubungan dengan ayahnya tidak rukun. Itulah seluruh informasi yang saya dapat tentang gadis Tionghoa ini.

Dua minggu di bulan Maret berlalu saat musim hujan. Di malam terakhir kerja kami, setelah mengambil gaji dengan ragu-ragu saya mengajak rekan kerja orang Tionghoa itu pergi ke diskotek di Shinjuku. Bukan karena ingin memacarinya. Saya sudah memiliki pacar sejak sekolah menengah, dan sekarang, saya harus jujur, hubungan kami semakin renggang. 

Gadis Tionghoa itu berpikir beberapa detik, lalu berkata, “Tapi aku tidak bisa berjoget.”

“Tidak apa-apa,” kata saya. “Ini bukan perlombaan. Kita hanya goyang mengikuti irama musik. Tidak sulit.”

Saat masuk diskotek, kami dapat bir dan pizza. Tidak ada lagi pekerjaan, apalagi gudang yang dingin. Perasaan kami legah. Saya menjadi lebih periang dari biasanya; dia juga lebih banyak tertawa. Kami berjoget selama dua jam penuh. Diskotek itu sangat nyaman dan hangat. Sebuah band asal Filipina mengedor suasana dengan lagu-lagu Santana. Kami berkeringat, lalu duduk minum bir, keringat mereda, kami bangun dan berjoget lagi. Dalam sorotan lampu-lampu berwarna, dia tampak berbeda dari gadis gudang yang pemalu. Dia benar-benar menikmati malam itu.

Ketika para pengunjung mulai sepi, kami keluar dari diskotek. Malam di bulan Maret berjalan sangat cepat, di langit ada gambaran musim semi. Kami berdua masih berkeringat, jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki, tanpa tujuan, dan tangan di saku masing-masing. Berhenti sejenak di sebuah kios untuk membeli kopi, kemudian lanjut berjalan kaki lagi. Liburan masih panjang. Usia kami sembilan belas tahun. Jika ada orang yang menyuruh, kami berdua akan berenang di Sungai Tama. 

Jam sepuluh lewat dua puluh, dia bilang: “Aku harus pulang jam sebelas.” Dia meminta maaf. 

“Kenapa harus jam sebelas,” kata saya.

“Adikku adalah malaikat pelindung. Dia selalu menjagaku.” Dari caranya berbicara, saya tahu dia sangat menyayangi adiknya. 

“Jangan lupa sandal kamu,” Kata saya sambil mengedipkan mata. 

“Sandal saya?” Lima, anam langkah kemudian, dia tertawa terbahak-bahak. “Oh, maksudmu seperti Cinderella? Jangan khawatir, aku tidak akan lupa.” Kami menaiki tangga di Stasiun Shinjuku dan duduk di sebuah kursi panjang. 

“Boleh minta nomor telefon? Siapa tahu kita bisa keluar dan bersenang-senang lagi.” Kata saya. 

Dia menggigit bibirnya, menangguk, lalu memberi nomornya. Saya menulisnya di kotak korek api. Kereta datang, saya mengantarnya ke pintu kereta dan mengucapkan selamat malam. Terima kasih, malam yang menyenangkan, sampai bertemu lagi. Pintu kereta tertutup dan pergi. Saya menyeberang ke jalur lain untuk menunggu kereta menuju Ikebukuro. Bersandar pada sebuah kolom, saya menyalakan sebatang rokok sambil memikirkan malam itu. Dari restoran, diskotek, jalan-jalan dan pulang. Tidak buruk. Sudah lama saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Saya senang sekali malam itu, saya yakin, dia juga. Kami berdua bisa menjadi teman yang baik. Mungkin dia sedikit pemalu  dan punya sisi gugup. Namun, saya menyukainya. 

Rokok pertama habis. Saya menyalakan satu lagi. Suara-suara keramaian kota mulai hilang ditelan malam. Saya menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam. Tidak ada yang salah, tapi saya merasakan sesuatu yang lain. Ada yang mengganjal. Adakah sesuatu yang salah? Apakah itu? Apa yang telah saya lakukan?

Kemudian saya tersadar, tepat ketika saya harus turun di Mejiro. Dia salah naik kereta. Itu kelalaian saya.

Asrama saya ada di Mejiro, empat perhentian di depan apartemennya. Seharusnya dia bisa naik kereta yang sama dengan saya. Mengapa saya mengantarnya untuk naik kereta dengan arah sebaliknya? Apakah saya sedikit mabuk bir? Ataukah saya terlalu banyak memikirkan sesuatu dan egois? Jam di stasiun menunjukkan 10.45. Dia pasti telat tiba di rumah. Saya berharap dia menyadari dan pindah kereta. Tapi saya ragu. Dia bukan tipe seperti itu. Tapi bukankah seharusnya dia tahu tentang kesalahan itu sejak awal? Dia harusnya tahu salah naik kereta. Bagus, pikir saya. Bagus sekali. 

Jam sebelas lewat sepuluh menit dia keluar di stasiun Komagone. Ketika dia melihat saya berdiri di tangga, ekspresinya berubah, dia tidak tahu apakah harus tertawa atau tersenyum. Saya menggandengnya dan kami duduk di sebuah bangku. Dia meletakkan tasnya di pangkuan sambil meremas-remas tali tas, kakinya dibiarkan lurus ke depan. 

Saya minta maaf padanya. Saya mengatakan bahwa saya tidak tahu mengapa saya melakukan kesalahan bodoh itu. Pikiran saya pasti berada di tempat lain. 

“Kamu merasa benar-benar salah?” dia bertanya

“Tentu saja. Jika tidak, buat apa saya menunggu di sini?”

“Aku pikir kamu sengaja melakukannya.”

“Saya sengaja?”

“Aku pikir, kamu sedang marah.”

“Marah?” Saya bingung.

“Iya.”

“Kenapa kamu berpikir saya sedang marah?”

“Aku tidak tahu,” sahutnya dengan suara pelan. 

Dua tetes air mata jatuh menimpa tasnya. 

Saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya hanya bisa tetap duduk, tidak mengatakan sepatah kata pun. Kereta tiba, banyak penumpang keluar, menuruni tangga, dan sepi kembali. 

“Biarlah. Jangan dipikirkan.” Dia tersenyum, mengusap poninya ke samping. “Awalnya, aku juga berpikir salah naik kereta. Kenapa tidak naik kereta arah sebaliknya? Saat melewati Stasiun Tokyo baru kusadar. aku tidak ingin mengingat itu lagi.”

Ingin saya katakan sesuatu, namun kata-kata itu tidak ada yang keluar. Angin bertiup menerbangkan potongan-potongan koran di atas lantai stasiun. 

“Jangan dipikirkan lagi.” Dia tersenyum tipis. “Ini juga kesalahanku. Bukan hanya kamu yang salah.”

Keheningan bertambah. Perlahan saya memegang tangannya dan meletakkan di atas pangkuan. Telapak tangannya basah. 

Saya berusaha mengeluarkan kata-kata, “Ada beberapa hal tentang diri saya yang tidak bisa saya jelaskan kepada siapa pun. Banyak hal tidak saya mengerti pada diri saya. Susah sekali mengatakan apa yang sedang saya pikirkan atau inginkan. Sama sekali saya tidak bisa mengungkapkan. Jika saya terlalu memikirkan hal-hal dengan detail, semuanya jadi menakutkan. Jika hal menakutkan itu datang, saya hanya akan memikirkan diri saya sendiri. Saya menjadi benar-benar egois, dan tanpa bermaksud demikian, saya menyakiti orang lain. Jadi saya bukan orang yang sempurna.”

Saya tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Dia juga demikian. Sepertinya dia menunggu lanjutan kata-kata saya. Pandangannya tetap ke ujung sepatu. Terdengar bunyi sirena ambulans di kejauhan. Seorang petugas kebersihan stasiun sedang menyapu lantai. Petugas itu tidak melihat kami berdua. Hari semakin larut, tidak banyak kereta lagi. 

“Saya senang bersama kamu,” kata saya. “Ini serius. Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi anggap saja itu tepat. Cukup bersama kamu dan ngobrol-ngobrol adalah kebahagian saya.”

Dia menoleh dan menatap mata saya.

“Saya tidak sengaja mengantarmu masuk kereta yang salah,” kata saya. 

Dia mengangguk.

“Besok saya telfon kamu,” lanjut saya. “Kita bisa pergi ke suatu tempat dan ngobrol lebih lama.”

Dia menyeka air matanya dan memasukkan kedua tangannya ke saku. “Terima kasih untuk malam ini. Aku minta maaf untuk semuanya.”

“Tidak perlu minta maaf. Itu kesalahan saya.”

Kami berpisah. Saya tetap duduk di bangku dan menghisap rokok terakhir, lalu melemparkan bungkusan rokok kosong ke tampat sampah. Hari menjelang tengah malam.

Sembilan jam kemudian, saya menyadari kesalahan kedua saya malam itu. Rindu yang sangat. Saya benar-benar bodoh. Bersama dengan bungkus rokok, saya membuang bungkus korek api dan nomor telefonnya di tempat sampah. Saya mencari-cari ke mana-mana. Bahkan sampai menanyakan ke gudang tempat kami bekerja, tetapi mereka tidak mencatat nomornya. Mencari di buku telefon, bertanya ke kampus tempat kuliahnya, tetap tidak berhasil.

Saya tidak pernah bertemu lagi, orang Tionghoa kedua itu. 

Karot, 19 Februari 2020

Murakami, Haruki. The Elephant Vanishes, Vintage International, (P. 225-231).

Berlayar ke China bagian terakhir, klik di sini.

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “BERLAYAR KE CHINA (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published.