Bagian 4.

Cerita selanjutnya adalah tentang orang Tionghoa ketiga. 

Ia adalah seorang teman dari sekolah menengah, yang pernah saya sebutkan sebelumnya. Teman yang tidak terlalu akrab sebenarnya.

Kejadian ini terjadi saat saya berusia dua puluh delapan. Enam tahun setelah saya menikah. Melewati enam tahun itu, telah ada tiga kucing yang meninggal dan telah saya kuburkan bersama kenangan-kenangan indah. Hal itu terjadi di Tokyo.

Bulan Desember yang dingin. Tidak ada angin; awan melingkupi kota sehingga cahaya matahari redup. Dalam perjalanan menuju bank, saya singgah sebentar di Aoyama Boulevard untuk minum kopi. Sambil memegang novel yang baru dibeli, saya melihat-lihat mobil yang lewat di jalanan dari dalam kedai kopi. 

Sekonyong-konyong seorang pria telah berdiri di depan dan menyapa saya dengan nama.

“Apakah itu, kamu?” katanya.

Saya terkejut. Saya menyapa balik, namun tidak mengingat namanya. Kira-kira dia seumuran saya, memakai jas biru tua yang dijahit rapih dipadu dasi berwarna serasi. Wajah lelaki itu menampakkan aura kelelahan. Pakaian yang dikenakannya tidak cocok dengan wajahnya. Seperti hidangan yang tidak cocok ditampilkan di atas meja pesta. 

“Boleh aku duduk di sini?” katanya, sambil duduk di hadapan saya. Ia mengambil rokok dan pemantik warna emas dari saku celana. Namun, tidak menyalakan rokok; hanya diletakkan di atas meja. “Ingat aku?”

“Saya lupa,” kata saya. “Maaf sekali, saya susah sekali mengingat orang dari wajah.” 

“Mungkin karena kamu tidak ingin mengingat-ingat masa lalu yang buruk.”

“Bisa jadi.” Balas saya cepat.

Seorang pelayan perempuan datang membawa segelas air. Ia memesan Kopi Amerika.

“Lambungku sering kumat. Aku sedang berusah tidak merokok,” katanya, sambil memegang kotak rokok. Ia sukses memberikan wajah kesakitan saat mengatakan masalah lambungnya. “Ngomong-ngomong, aku sangat berbeda dengan kamu. Aku ingat semua detail kejadian di masa lalu. Buatku, itu malapetaka. Banyak hal ingin kulupakan. Tetapi semakin aku berusaha, ingatan itu semakin kuat masuk dalam ingatan. Hal itu mirip dengan ketika kamu mencoba untuk tidur, malahan kamu semakin terjaga. Aku bahkan bisa mengingat hal-hal yang tidak kulakukan sama sekali. Situasi seperti itu membuatku sangat cemas. Ingatan yang tajam sangat merepotkan.”

Saya meletakkan novel di atas meja dan meyeruput kopi. 

“Aku mengingat semua dengan sangat jelas. Cuaca hari itu, suhu, serta baunya. Pernah merasakan itu?”

Saya menggeleng tanpa sadar. 

“Aku mengingat kamu dengan sangat baik. Saat sepintas melihat kamu dari luar jendela, aku tahu itu adalah kamu. Apakah aku menganggumu?”

“Tidak,” kata saya cepat. “Tetap saja, kamu harus memaafkan saya. Sebab saya benar-benar lupa siapa kamu.”

“Tidak perlu meminta maaf. Aku yang tiba-tiba datang menghampiri kamu. Jika tiba saatnya kamu akan ingat, kamu akan ingat lagi. Begitulah cara kerja ingatan. Ingatan akan bekerja dengan berbagai cara. Ingatan kita ada kapasitas dan arahnya masing-masing. Kadang-kadang ingatan membantu kita untuk berpikir, namun seringkali juga menghambat. Tidak ada yang benar dan salah dengan itu. Bukan masalah besar.”

“Bisakah kamu memberi tahu nama kamu? Saya benar-benar lupa nama kamu. Saya malu sekali,” kata saya. 

“Kamu benar-benar tidak mengingat namaku?” dia bertanya lanjut. “Ingat atau tidak ingat namaku tidak penting. Tetapi jika hal itu sangat menganggu kamu, anggap saja kita baru bertemu pertama kali. Santai saja.”

Pesanan kopi tiba, ia menyeruputnya pelan. Saya tidak puas dengan jawabannya. 

“Sungai mengalir di bawah jembatan. Ungkapan itu ada tertulis di buku bahasa inggris sekolah menengah kita dulu. Ingat?”

Di SMU? Apakah saya pernah punya teman seperti orang ini di sekolah?

“Begitulah yang terjadi. Suatu hari, saat berdiri di atas jembatan dan memandang ke bawah, tiba-tiba kalimat bahasa inggri itu muncul di kepalaku. Jelas sekali suaranya. Mungkin begitulah cara waktu berlalu.”

Dia melipat tangan dan duduk dengan tenang. Jika ungkapan yang barusan dikatakannya dimaksudkan untuk menyampaikan makna tertentu, saya benar-benar tidak paham. Gen pembentuk ingatan pria ini juga pasti sudah aus di banyak tempat.

“Kamu sudah menikah?” dia bertanya secara tiba-tiba.

Saya mengangguk.

“Sudah punya anak?”

“Belum.”

“Aku sudah punya seorang anak laki-laki,” katanya.

“Umurnya empat tahun dan sudah sekolah di taman kanak-kanak.”

Pembicaraan tentang anak-anak sampai di situ. Kami berdua masih duduk di sana dalam diam. Saya menyalakan rokok dan dia menawarkan api dari pemantiknya. Gerakkannya cepat. Saya biasanya tidak suka orang lain menyalakan rokok atau menuangkan minuman untuk saya, tapi untuk kali ini saya biarkan.

“Kamu kerja apa?”

“Bisnis,” jawab saya. 

Mulutnya terbuka lebar dan ada kata yang terbentuk satu atau dua detik kemudian. “Bis-nis?”

“Dulu hobi kamu membaca buku,” dia melanjutkan.

“Ya, saya masih membaca buku.” Saya sedikit memaksa diri untuk tersenyum.

“Ensiklopedia?”

“Ensiklopedia?”

“Oh, iya. Kamu punya ensiklopedia?”

“Tidak.” Saya menggelengkan kepala, tidak mengerti. 

“Kamu tidak membaca ensiklopedia?”

“Mungkin orang lain suka membacanya,” jawab saya. Tentu saja, di tempat saya tinggal tidak ada perpustakaan yang menyediakan ensiklopedia. 

“Sebenarnya aku menjual ensiklopedia,” jelasnya singkat.

Oh, orang ini penjual ensiklopedia. Setengah rasa ingin tahu tentang pria ini sirna. Saya menyesap kopi yang tidak panas lagi dan perlahan meletakkannya kebali di atas piring.

“Saya sangat ingin mempunyai satu set ensiklopedia,” kata saya, “Tetapi sayangnya, saya tidak mempunyai uang sama sekali. Saya baru saja membayar cicilan kredit di bank.”

“Oh, begitu!” ia menjawab sambil menganggukan kepala. “Aku tidak sedang menjual ensiklopedia atau apa pun kepadamu. Aku, aku mungkin sedang bangkrut, tapi hidupku tidak susah. Aku tidak menjual ensiklopedia kepada orang Jepang. Itu perjanjian yang telah kubuat.”

“Tidak boleh dijual ke orang Jepang?”

“Iya, benar. Aku adalah orang Tionghoa. Aku hanya akan menjual ensiklopedia kepada orang Tionghoa. Aku mencari nama-nama orang Tionghoa di buku telefon, membuat daftar nama-nama mereka dan hanya menawarkan ensiklopedia itu kepada mereka. Aku tidak tahu apakah cara itu akan berhasil atau tidak; berjalan dari pintu ke pintu, membunyikan bel, mengatakan Ni Hao, menyerahkan kartu nama dan masuk menjumpai tuan rumah.”

Tiba-tiba ingatan saya terbuka. Pria ini adalah bocah Tionghoa yang saya kenal di sekolah menengah. 

“Aneh, kan? Bagaimana seseorang memutuskan menjual ensiklopedia hanya kepada orana Tionghoa. Aku sendiri tidak mengerti,” kata pria itu lagi seolah-olah menjauhkan segala pikiran negatif saya. “Tentu aku bisa mencari alasan-alasan yang masuk akal saat memutuskan menjual ensiklopedia. Namun, seiring berjalannya waktu, inilah saya, si penjual ensiklopedia.”

Saya dan orang ini tidak pernah berada di kelas yang sama, seperti yang pernah saya katakan, kami tidak terlalu akrab. Tapi sejauh yang bisa saya bayangkan, dia juga tidak cocok sebagai penjual ensiklopedia keliling. Dia adalah anak yang cerdas, selalu nilai yang lebih baik dari saya. Banyak teman wanita yang menyukainya. 

“Tentang pekerjaanku, ceritanya panjang, gelap dan sepi. Tidak ada yang ingin mendengarkannya,” katanya. 

Pernyataan itu sepertinya tidak menuntut respons, jadi saya mendiamkan saja. 

“Pekerjaanku tidak hanya itu,” ia mulai berbicara lagi. “Masih banyak pekerjaan lain yang bisa saya lakukan. Saat ini saya memutuskan mengerjakan itu.”

Saya masih berusaha mengingat orang ini saat di sekolah menengah dulu, tetapi ingatan itu kabur. Seingat saya, dulu kami pernah duduk-duduk di rumah seseorang, minum bir dan ngobrol tentang musik. Mungkin di suatu sore saat musim panas, tetapi saya ragu. Seperti dalam mimpi.

“Apa yang membuat kita berdua bertemu di tempat ini?” dia bertanya sambil memutar-mutar pemantik di atas meja. “jika kehadiranku di sini menganggumu, aku minta maaf.”

“Tidak sama sekali,” kata saya. Jujur saja, tidak.

Kami berdua terdiam lama. Tak satu pun dari kami yang memiliki bahan untuk dikatakan. Saya menghabiskan rokok, dia menghabiskan kopi.

“Aku harus pulang sekarang,” katanya, sambil mengantongi rokok dan pemantik. Lalu sedikit menggeser kursinya. “Sudah lama kita ngobrol. Apalagi tidak ada barang untuk dijual. Benar, kan?”

“Kamu punya brosur?” Saya bertanya.

“Brosur?”

“Brosur ensiklopedia.”

“Oh, iya. Tapi saat ini aku tidak membawanya. Kamu ingin melihat?”

“Tentu. Saya penasaran.”

“Aku akan mengirimkannya. Berikan alamat kamu!”

Saya merobek halaman buku catatan, menuliskan alamat dan memberikan kepadanya. Dia melihat sebentar, melipat menjadi empat bagian dan memasukkan ke dalam kotak kartu namanya. 

“Ini ensiklopedia bagus. Bukan karena aku yang menjualnya jadi kukatakan bagus. Serius, ensiklopedia ini dicetak dengan sangat baik. Banyak foto-foto berwarna. Sangat informatif. Aku seringkali membolak-balik halamannya dan tidak pernah bosan.

“Suatu hari nanti, ketika kapal masuk, mungkin saya akan membeli satu set.”

“Wah, bagus!” katanya, senyum cerah kembali muncul di wajahnya. “Mudah-mudahan saat itu persediaannya masih ada. Soalnya banyak orang Tionghoa yang ingin membelinya. Bisa jadi nanti aku sudah tidak menjual ensiklopedia lagi tetapi menjual asuransi atau menjual lahan pemakaman untuk orang Tionghoa.”

Saat itu ingin sekali saya mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Saya tidak pernah berjumpa pria itu lagi. Ingin sekali mengatakan sesuatu tentang orang Tionghoa kepadanya, tetapi apa? Tidak ada kata yang keluar dari mulut saya. Akhirnya kami berpisah. Hingga sekarang, saya masih tidak bisa memikirkan apa pun untuk dikatakan. 

Bagian 5

Anggap saja saya sedang mengejar bola bisbol, berlari kencang dan menabrak tiang bola basket, begitu sadar ternyata saya sedang berbaring di rumput dengan sarung tangan di bawah kepala, kata-kata bijak apa yang akan keluar dari mulut saya di usia tiga puluh tahun? Mungkin: dunia ini sangat membosankan.

Pikiran ini muncul saat berada di dalam kereta jalur Yamanote. Saya sedang berdiri di dekat  pintu, memegang tiket agar tidak hilang, menatap Gedung-gedung lewat jendela kereta. Keadaan kota, jalan-jalannya, saya tidak paham mengapa semua itu membuat saya tertekan. Awan mendung menaungi penduduk kota. Rumah kotor, keramaian, kebisingan, kereta api hilir mudik, langit kelabu, baliho di setiap sudut jalan, harapan dan kegagalan, kejengkelan dan kegembiraan. Adanya Pilihan dan kemungkinan yang tidak terbatas adalah sia-sia. Itulah kehidupan kota. Saat itulah saya ingat apa yang dikatakan gadis Tionghoa itu. 

“Kota ini membosankan.”

Saya memandang Tokyo dan berpikir tentang China. 

Itulah kisah saya dengan orang-orang Tionghoa. Banyak buku dan majalah tentang China saya baca. Informasi yang banyak itu tidak membuat saya lebih memahami China. Pengalaman bersama orang-orang Tionghoa memberikan definisi tersendiri di dalam benak saya.

Pikiran saya melayang jauh ke negeri China, walaupun secara fisik saya sedang berada di dalam kerata bawah tanah di Tokyo. Pikiran bisa pergi kemana-mana walaupun fisik tidak kemana-mana.

Saya membayangkan suatu saat nanti Tokyo hancur berkeping-keping. Semua bangunan runtuh. Saya yang sedang berada di dalam kereta dan memegang tiket akan menyaksikan itu semua. China juga mungkin akan mengalami nasib yang sama; runtuh menjadi abu, hilang perlahan hingga tidak ada yang tersisa. Kata-kata dan mimpi berubah menjadi kabut. Masa-masa kejayaan hilang selamanya.

Suatu saat nanti bisa saja kita salah didiagnosis oleh psikiater sebagai orang yang sakit jiwa. Sebab, kita tidak lagi tahu siapa diri kita sendiri. Jika demikian, adakah jalan keluar?

Saya haya ingin duduk di sebuah dermaga, memandang kapal yang melaju pelan menuju China, membawa segala harapan dan doa.

Wahai teman-teman, China itu sangat jauh.

Karot, 19 Februari 2020

Murakami, Haruki. The Elephant Vanishes, Vintage International, (P. 231-328).

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “BERLAYAR KE CHINA (4)

Leave a Reply

Your email address will not be published.