Saya mendapat pesan lewat WhatsApp dari seorang teman. Ia adalah direktur utama sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Bersama keluarganya, ia ingin berlibur ke Labuan Bajo. 

Karena begitu hebohnya berita tentang penularan Virus Corona asal Wuhan, teman saya ini sedikit ragu untuk datang ke Labuan Bajo. Dalam pesan pendeknya ia menulis: “Bro, Di Labuan Bajo ada prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi Virus Corona?” 

Saya bingung menjawabnya. Alasan pertama, karena saya tahu bahwa infrastruktur bidang kesehatan di daerah saya masih jauh dari harapan. Walaupun, jarak tempat tinggal saya ke Labuan Bajo kurang lebih 4 jam perjalanan darat, kondisi infrastruktur kesehatannya tidak jauh berbeda. 

Harapan banyak orang tentang layanan kesehatan tentu harus meningkat dari waktu ke waktu. Dulu, semua orang yang demam didiagnosis sakit malaria. Semua yang demam itu harus minum obat malaria super pahit. 

Sekarang, banyak orang sudah paham. Jika demam, saya tahu bahwa harus memeriksa darah apakah ada plasmodium malaria atau tidak. Kalau hasilnya positif, baru minum obat malaria. Jika negatif, jangan minum obat malaria. Jika sebaliknya yang dilakukan, ibarat ingin menembak burung, namun yang terkena peluru adalah orang yang sedang buang air besar di sungai. Kasihan, kan? Mengganggu orang yang sedang menikmati panggilan alam.

Kesalahan seperti itulah yang membuat obat-obat malaria yang ampuh zaman dulu sudah tidak berfungsi sama sekali di zaman sekarang. Plasmodium malarianya sudah kebal. 

Contoh lain: hingga kini saya masih mendengar cerita-cerita bualan para dukun zaman dulu. Ceritanya begini: ada pasangan suami-istri yang belum mempunyai anak bertahun-tahun lamanya. Oleh para dukun, pasangan itu belum mempunyai anak lantaran hubungan mereka tidak direstui sang leluhur. 

Agar sang leluhur merestui hubungan itu, pasangan tersebut harus melakukan upacara-upacara yang dianggap penting oleh sang dukun. Seperti, membunuh seekor kerbau, sapi, babi, atau ayam putih untuk dipersembahkan kepada leluhur. Acara tersebut haruslah mengundang seluruh keluarga, bahkan kalau bisa seluruh masyarakat. Pola pikirnya, jika banyak yang menyantap hidangan maka banyak yang mendoakan agar pasangan itu mempunyai anak. Ternyata, setelah menyantap hidangan pesta itu, semuanya pulang rumah dan tidur nyenyak, karena kekenyangan dan gratis, tanpa doa.

Karena layanan kesehatan di daerah saya sudah semakin baik, maka masalah pasangan suami-istri tersebut banyak menemukan jalan keluarnya, walaupun belum semua. Dari hasil pemeriksaan dan analisis sperma di laboratorium, saya mengetahui ternyata sang lelaki tidak mempunyai sel sperma. Pada pasangan lain yang belum memiliki anak, ternyata sang istri memiliki gangguan pada kandungannya. Misalnya ada kista, mioma, infeksi virus, dan lain sebagainya. 

Ada bagian yang lebih seru tentang menangani masalah pasangan suami-istri yang belum mempunyai anak tersebut. Sang dukun menganjurkan agar perut sang istri diurut agar peredaran darah lancar. Sang dukun yang adalah lelaki berhasil membuat sang istri hamil. Anak yang lahir kemudian wajahnya lebih mirip sang dukun daripada suaminya. Ini cerita pada zaman dahulu. Bukan kisah pada zaman sekarang. Zaman sekarang tidak mungkin terjadi seperti itu lagi. Saya yakin.

Alasan kedua mengapa saya bingung menjawab pertanyaan teman saya dari Jakarta itu adalah karena daerah saya tidak mempunyai uang yang cukup. Pendapatan daerah saya sangat rendah dibandingkan daerah lain di Indonesia. Karena tidak mempunyai uang maka tidak bisa membuat program pencegahan dan pengendalian infeksi Virus Corona itu. 

Uang yang sedikit itu diprioritaskan untuk membangun jalan-jalan daerah yang masih buruk. Selain untuk jalan, uang itu digunakan untuk membangun gedung-gedung pemerintahan yang belum memenuhi standar. Bahkan masih ada Satuan Kerja Perangkat Daerah yang belum memiliki gedung atar kantor sendiri.

Pendapatan daerah yang sangat kecil itu juga harus dikeluarkan secara rutin untuk menggaji para Aparatur Sipil Negara yang sudah bekerja siang dan malam demi mewujudkan status Wajar Tanpa Pengecualian. 

Itu baru membahas penggunaan anggaran di bidang Pekerjaan Umum dan Kepegawaian. Di bidang kesehatan? Di bidang kesehatan, program yang sedang gencar-gencarnya dilaksanakan adalah menurunkan angka gizi buruk dan stunting

Saya sebenarnya malu mengetahui tingginya angka gizi buruk dan stunting itu. Daerah saya lahannya masih sangat luas untuk ditanami segala jenis tanaman. Apa saja yang ingin ditanam, pasti tumbuh subur seperti syair lagu Koes Plus; “tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”. Namun, mengapa masih banyak yang mengalami gizi buruk? Jawabannya belum ditemukan. Maka dari itu, program kesehatan fokus pada program penanggulangan gizi buruk dan stunting itu. 

Masalah di bidang kesehatan berikutnya yang menjadi prioritas adalah menurunkan angka kematian ibu dan anak-anak. Masih banyak ibu yang meninggal setelah melahirkan. Begitu juga banyak anak yang gagal lahir, lahir mati atau mati di usia-usia yang tidak seharusnya. Namun, sampai sekarang pun belum menemukan jalan keluar yang tepat. 

Karena banyak uang yang harus dikeluarkan untuk masalah-masalah di atas, maka belum bisa memikirkan masalah-masalah kesehatan lain, seperti; penyediaan air bersih, penanggulangan diare akibat kontaminasi air, mempromosikan cara hidup bersih dan sehat, membuang sampah pada tempatnya, dan masih banyak lagi. 

“Bro, Di Labuan Bajo ada prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi Virus Corona?” 

Pertanyaan itu muncul lagi. Ingin menjawab: “tidak ada,” saya takut teman saya tidak jadi datang ke Labuan bajo. Padahal sudah saya promosikan bahwa surga itu tidak ada di telapak kaki ibu melainkan di Labuan Bajo.

Jika ia benar-benar tidak datang tentu orang-orang yang mempunyai pertanyaan seperti dia juga urung ke Labuan Bajo. Kalau sedikit yang datang, maka pedapatan daerah semakin sedikit. Tapi, omong-omong, sebenarnya yang medapatkan (uang) keuntungan dari banyaknya turis datang ke Labuan Bajo itu, siapa? Apakah masyarakatnya atau perusahaan penerbangan dan pemilik-pemilik hotel? Banyak yang bilang masyarakatnya. Betul? Yakin? Saya kurang yakin. 

Jika saya menjawab sudah ada prosedur pencegahan dan penanganan infeksi Virus Corona, saya takut salah. Sebab hingga sekarang belum ada berita tentang itu. Kalau hanya memasang termometer di airpot, itu namanya bukan program. Itu namanya “lagak”. Anda tahu apa itu lagak? Lagak itu artinya berbuat sesuatu supaya dikatakan berbuat tetapi ternyata tidak berbuat. Anda mengerti maksudnya? Mudah-mudahan.

Nah, karena daerah tidak mempunyai uang yang cukup, maka harus meminta bantuan ke pemerintah pusat. Harapannya pemerintah pusat bersedia mengalokasikan dana yang besar lewat “Belanja Negara”. 

Begitu presiden baru terpilih, permintaan dari daerah saya mendapat jawaban. Pemerintah pusat merancang Labuan Bajo menjadi tempat wisata “berkelas” dengan menggelontorkan dana besar untuk membangun banyak fasilitas pendukung. 

Yang daerah inginkan adalah pemerintah pusat memberikan dana yang besar, biarkan daerah yang mengelola semuanya. Yang pemerintah pusat inginkan adalah dialah yang merancang serta membangun. Sebab anggarannya dari dia. Di situlah letak ketidaksepahaman mengenai membangun Labuan Bajo menjadi wisata “berkelas” di Indonesia. 

Karena sudah satu jam saya belum membalas pesan teman itu, akhirnya saya memutuskan menulis begini: “Bro, belum ada program pencegahan dan pengendalian infeksi Virus Corona. Hanya pakai doa. Sebab, banyak pendoa di daerah saya yang ilmunya adiluhung.” 

Karot, 22 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.