Musim Hujan Telah Tiba
Memasuki musim hujan, penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai mengintai. Flores Pos, Edisi 31 Oktober dan 1 November 2018 menurunkan berita bahwa penyakit ini sudah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) sebab sudah ada warga setempat yang meninggal dunia.

Lebih lanjut, terdapat polemik mengenai pengasapan (fogging) yang hanya dilakukan di rumah sakit yang semestinya dilakukan di rumah-rumah penduduk.

KLB dan Pengasapan (fogging) adalah dua isu yang ingin saya uraikan dalam opini sederhana ini.

Pengertian KLB
KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu (Permenkes RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004). KLB dalam dunia kesehatan merupakan situasi genting dan perlu segera ditangani dengan membentuk tim/satuan khusus untuk mengambil data, menganalisa dan kemudian mencari solusi yang tepat.

Koordinasi yang baik antara tim khusus ini dengan Kepala Dinas Kesehatan sebagai penanggungjawab teknis dan Bupati sebagai Kepala Daerah maka Status KLB bisa diumumkan ke publik atau masyarakat.

Jadi tidak semua orang di suatu daerah tertentu dapat dengan mudah menyatakan bahwa status penyakit tertentu adalah KLB.

Jika semua orang dapat dengan mudah mengatakan bahkan mempublikasikan baik di media cetak, media sosial dan media lain yang sifatnya umum tentang status KLB suatu penyakit di suatu daerah, betapa kacaunya daerah kita nantinya. Hiruk pikuk dan kesimpangsiuran akan terjadi.

Baca juga: Inilah Cara Membunuh Bakteri.

Kriteria KLB
Dalam menggali informasi tentang KLB ada beberapa syarat KLB yang harus dipenuhi (Keputusan Dirjen No. 45/91):

  1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
  2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
  3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
  4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

Dari 4 kriteria KLB yang sudah saya tuliskan di atas, hal yang sangat diperlukan adalah kesahihan dan keakuratan data. Data memegang peranan sangat peting.

Mencari Data itu Bijaksana
Berapa jumlah kejadian DBD yang terdata di puskesmas, klinik, dokter praktek serta di Dinas Kesehatan? Jika tidak kita dapatkan data tersebut, tentulah masih sangat jauh untuk kita serukan status KLB di suatu daerah.

Bisa saja kita katakan bahwa suatu daerah berstatus KLB demam berdarah dengue karena sudah ada 1 kematian. Tetapi kita tidak mengetahui bahwa data tahun sebelumnya juga kematian akibat DBD hanya satu. Dengan demikian maka penyakit ini tidak masuk kriteria KLB.

Contoh lain misalnya, angka kesakitan akan penyakit DBD di suatu kabupaten pada tahun sebelumnya adalah 100 orang, pada suatu saat Anda berkesempatan pergi ke sebuah desa dan mendapat laporan dari warga bahwa di desanya banyak yang menderita DBD. Banyak itu berapa? 10, 20, 30 kasus? Apakah ini termasuk KLB? Saya rasa belum bisa dipastikan jawabannya sebab data yang dibutuhkan tidak adekuat.

Hal yang paling bijak dalam mencari jawaban tepat adalah mencari informasi lebih lanjut di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam hal ini di Puskesmas dan jejaringnya sampai ke Dinas Kesehatan atau di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL) yakni Rumah Sakit, untuk mendapatkan data secara akurat.

Sehingga untuk menyampaikan sesuatu khususnya yang bersingungan dengan kepentingan orang banyak adalah salah jika didasarkan pada perasaan belaka atau karena suara orang banyak maka kita mengikuti atau lebih parah lagi hanya untuk menyenangkan bahkan merugikan orang lain.

Data itu Penting
Teringat sebuah opini bagus di Koran Kompas, 31 Juli 2018, berjudul “Bahaya Buta Data”. Jousairi Hasbullah sang penulis dengan sangat geram menuliskan demikian: di Indonesia, karena tingginya tingkat buta data, debat pembangunan cenderung verbal: suara kencang dan terkadang terdengar indah, tetapi dengan pijakan yang rapuh. Karena sifatnya yang verbal, dan berpotensi otoriter, maka celaan, umpatan dan syak wasangka justru banyak mendominasi hari-hari kita. Kecendrungan ini sangat tidak menguntungkan, bahkan berbahaya bagi kelangsungan hidup kita sebagai bangsa.

Sekarang mengenai pengasapan atau dalam Bahasa Inggrisnya fogging. Pengasapan sejatinya dilakukan hanya dapat membunuh nyamuk dewasa. Nyamuk yang masih kecil atau larva tidak tereliminasi.

“Mati satu tumbuh seribu” adalah frasa yang tepat untuk menganalogikan kegiatan pengasapan ini.

Bahaya Pengasapan/Fogging
Asap dari kegiatan pengasapan ini juga akan berbahaya bagi manusia jika terhirup dalam jumlah yang banyak. Alih-alih melindungi manusia dari nyamuk, malah manusia yang keracunan insektisida: “Senjata Makan Tuan”.

Ada satu penelitian tentang pengasapan ini, bahwa terlalu sering melakukan pengasapan akan menyebabkan nyamuk kebal terhadap insektisida jenis ini.

Sehingga, pengasapan sudah tidak lagi menjadi senjata yang bisa diandalkan dalam mencegah penyakit demam dengue. Tetapi, penelitian ini masih perlu dilanjutkan lagi untuk dapat dibuktikan dengan baik di kemudian hari.

Baca juga: Pendekar: Pendek dan Kekar.

Solusi untuk Masalah Demam Berdarah
Terinspirasi dari buku: Sehat itu Murah karya Dr. Handrawan Nadesul, jalan keluar yang ingin saya sampaikan adalah : tidak perlu mengharapkan bahkan menunggu Dinas Kesehatan setempat atau rumah sakit daerah menjalankan program pengasapan lagi, marilah sebagai individu dan anggota masyarakat mulai melakukan ini:

Pertama, membuang atau mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air. Misalnya, botol bekas minuman, vas bunga yang ada air, kaleng-kaleng yang sudah tidak terpakai serta plastik-plastik pembungkus makanan instan yang berserakan di sekitar rumah.

Jangan lupa juga bahwa menggantung baju yang sudah dipakai di dalam rumah akan menjadi tempat nyamuk ini bersarang.

Selain itu, selalu menutup tempat penampungan air agar tidak menjadi tempat bersarangnya nyamuk sebab nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus dengue ini sangat senang membuat sarang pada air bersih. Sehingga menaburkan atau meneteskan larvasida (abate) merupakan tindakan yang bijaksana.

Kedua, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal kita. Bangsa kita terkenal dengan bangsa ‘gotong royong’. Karena itu, mari kita tingkatkan kegotongroyongan ini dalam membersihkan lingkungan kita paling kurang sekali seminggu.

Ketiga, bagi para tenaga medis: dokter, perawat, bidan, petugas kesehatan masyarakat dan lingkungan dari tingkat puskesmas sampai dinas kesehatan, rumah sakit serta semua organisasi kesehatan yang ada marilah kita tingkatkan sosialisasi mengenai cara pencegahan demam berdarah di tempat kita bertugas.

Keempat, demam berdarah dengue dapat menyerang siapa saja. mulai dari anak-anak sampai lanjut usia. Karena itu, jika ada panas dan demam, segeralah datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk memeriksakan kesehatan khususnya memeriksa darah lengkap. Sehingga, deteksi dini demam berdarah dengue dapat dilakukan.

Banyak kasus kematian akibat DBD terjadi karena telat membawa pasien ke fasilitas kesehatan. Sampai di puskesmas atau rumah sakit, pasien sudah dalam keadaan sindrom renjatan dengue (Dengue Shock Syndrome).

Pemberantasan DBD tidak perlu mengandalkan pengadaan alat kedokteran dan teknologi canggih, yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat bersama-sama peduli akan kebersihan kamar, rumah, dan lingkungan tempat tinggal kita demi mencapai masyarakat yang sehat. Semoga.

Tulisan opini pernah dimuat di Koran Flores Pos, edisi 19 November 2018. Judul dan bentuk paragrafnya saya ubah agar cocok untuk tampilan di blog ini. 

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “DEMAM BERDARAH MENYERANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *