Hari Sabtu, 1 September 2018, kami berkumpul di Klinik Jiwa Renceng Mose di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai.Kami berjumlah kurang lebih 30 orang. Ada Kepala Puskesmas, para dokter dan perawat yang bekerja di sepuluh puskesmas dalam wilayah kerja Kabupaten Manggarai.

Hari ini kami berkumpul untuk membahas masalah gangguan jiwa: Depresi dan Psikosis. Depresi adalah salah satu dari banyaknya gangguan kejiwaan pada manusia. Depresi ditandai dengan gejala sedih atau murung setiap waktu, kehilangan minat pada segala sisi kehidupan, terlihat tidak bertenaga dan mudah sekali lelah. Berbeda dengan depresi, psikosis adalah tergganggunya kemampuan menilai kenyataan, emosi yang tidak sesuai, pembicaraan yang irelevan hingga kecurigaan yang berlebihan.

Jika membaca pengertian di atas tentunya kita akan berpikir: “Pengertian penyakitnya saja panjang apalagi penderita penyakit ini, pasti lebih panjang lagi urusannya”. Memang benar. Mengurus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah pekerjaan yang panjang dan juga berliku. Sebab, makhluk yang disebut manusia juga sangat kompleks baik dalam hal pikiran, perkataan, perasaan maupun perbuatan. “Mengurus orang normal saja susahnya minta ampun, apalagi mengurus Orang Dengan Gangguan Jiwa”. Kurang lebih begitu komentar banyak orang.

Manusia itu terdiri dari pikiran, perkataan, perasaan dan perbuatan. Jika salah satu dari keempat bagian ini ada yang salah, maka kemanusiaan seseorang diragukan. Saya coba memberikan contoh seperti ini: Anda mempunyai pikiran untuk pergi berlibur ke pantai saat liburan akhir pekan ini. Anda menjumpai banyak orang di tempat kerja dan mengatakan bahwa akhir pekan ini Anda dan keluarga Anda akan berlibur ke pantai. Semua teman kerja Anda pasti akan membicarakan liburan itu dengan semangat.

Kemudian, dengan perasaan yang gembira Anda balik ke rumah sambil membayangkan betapa liburan di pantai akan sangat menyenangkan, sampai-sampai Anda tidak bisa tidur di malam hari karena begitu antusiasnya Anda dengan liburan itu. Akhirnya, saat hari libur mulai, saat Anda dan keluarga Anda bersiap-siap untuk berangkat, Anda menyetir mobil Anda di jalan menuju ke pegunungan. Benarkah akhir kisah cinta ini? Maksudnya, apakah logika sepenggal cerita di atas bisa diterima? Cerita seperti ini kesannya biasa-biasa saja. Tetapi tidaklah demikian. Akan banyak komentar orang untuk memberikan jawaban bagi satu kejadian ini. Ada yang berkomentar: “Rencana berubah di bagian akhir sebab di pantai sedang ada angin kencang makannya ia ke gunung”. Baiklah, jawaban ini masih masuk logika berpikir. Jika ditanya lebih lanjut: “Apakah anggota keluarga Anda mengetahui berita angin kencang itu dan sepakat untuk ke gunung?”. Jika jawabannya “Ya”, maka pertanyaan selanjutnya adalah: “Apa perasaan Anda dengan keputusan itu?”. Jika jawabannya: “Saya tetap gembira sebab ke gunung atau ke pantai sama saja yang penting tetap liburan”. Jawaban seperti ini masih bisa diterima dan persoalan dianggap selesai. Tetapi, jika jawaban:”Tidak, keluarga saya tidak mengetahui kejadian angin kencang tersebut”. Jawaban ini masih menyimpan banyak pertanyaan susulan. Pertanyaan yang tepat untuk itu adalah:”Mengapa Anda tidak memberitahu bahwa ada angin kencang dan memutuskan untuk ke gunung?”. “Sebab, saya tidak ingin keluarga saya kecewa tidak bisa ke pantai. Jadi saya memutuskan untuk tetap berlibur walaupun tidak ke pantai tetapi ke gunung”. Sampai disini saya merasa jawaban terakhir ini masih bisa diterima walaupun dengan hati tidak puas. Ya, sudahlah. Yang penting pertanyaan-pertanyaan saya dijawab ke arah yang sesuai.

Coba Anda bayangkan pertanyaan dan jawaban seperti ini: “Mengapa Anda tidak ke pantai?”. “Karena ban mobil saya kempis, jadi setelah menggantinya dengan yang baru saya mempunyai perasaan bahwa saya harus ke gunung bukan ke pantai sebab jika saya tetap ke pantai saya melawan kehendak Yang Kuasa”. Atau yang lain: “Saya tidak jadi ke pantai, sebab semalam saya bermimpi arwah nenek moyang saya datang menyambangi saya dan mengatakan bahwa saya tidak boleh ke pantai. Jika saya tetap ke pantai akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan”. Yang lebih kacau lagi: “Saya tidak ke pantai sebab pantai yang dituju telah mendarat pasukan khusus VOC untuk kembali menjajah negara kita”.
Anda masih sehat? Semoga.

 

Gambar diambil dari sini.

2 Comments on “MARI MENGENAL DEPRESI DAN PSIKOSIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *