Banyak teman yang bertanya kepada saya: “Mana yang lebih sehat, sedikit, sedang atau banyak makan nasi? Pertanyaan-pertanyaan ini tentulah berangkat dari situasi di dalam masyarakat kita. Ada yang mendapat jawaban dengan mengikuti saran dari orang lain yang mendapat informasi setengah-setengah bahkan ada yang mendapat jawaban karena rasa bukan data. Hal-hal inilah yang membuat bingung.

Ada yang mengatakan: “Nasi bukanlah masalah, yang penting kenyang”. Yang lain: “Saya mulai tidak menyentuh nasi sejak setahun yang lalu karena saya ingin menurunkan berat badan. Hasilnya memang berat badan saya turun secara signifikan”. Komentar lain: “Saya tidak makan nasi samasekali dan menggantikan dengan banyak makan daging. Sebab, kata orang-orang sekolah dengan pola makan seperti ini kita bisa mengurangi banyak risiko sejumlah penyakit”. Manakah yang benar?

Untuk menjawab pertanyaan dan pendapat di atas, mari kita ikuti bersama hasil penelitian terbaru mengenai hal ini. Studi terbaru, dikeluarkan oleh lembaga yang sangat disegani di Dunia Kedokteran yakni: The Lancet Public Health. Lembaga ini telah melakukan penelitian mengenai masalah konsumsi karbohidrat dengan jumlah sampel yang besar: 15.428 orang selama 25 tahun. Banyangkan dan pikirkan saudara-saudara. Selama 25 tahun. Lama kan? Menurut saya, 25 tahun itu jangka waktu yang lama sehingga hasil penelitian ini sangat credible. Sabar dulu. Jika ada yang suka dengan kegiatan research, pasti akan bertanya lebih detail kepada saya: dimana penelitian ini dilakukan, golongan umur berapa saja yang masuk dalam penelitian ini, dengan metode apa Lancet gunakan? Untuk pertanyaan jenis ini mari kita duduk untuk mendiskusikannya secara intens di lain kesempatan.

Jadi, The Lancet Public Health mempublikasikan hasil penelitian mereka seperti ini: “Mereka yang diet rendah karbohidrat memiliki rata-rata usia lebih pendek empat tahun dibandingkan diet dengan karbohidrat sedang”. Pasti ada yang bertanya lagi, bagaimana dengan mereka yang diet tinggi atau bahkan ekstra karbohidrat? “Ya, pasti hasilnya adalah obesitas, dan obesitas adalah pintu masuk banyak masalah kesehatan”. Itu tadi adalah hasil penelitian yang pertama.

Hasil penelitian oleh Lancet ini kemudian digunakan oleh peneliti dari Amerika Serikat: Sara B Seidelmann, untuk dipadukan dengan hasil penelitiannya. Hasilnya: “Mereka yang diet rendah karbohidrat dan menggantikannya dengan protein dan lemak hewani memiliki usia harapan hidup yang lebih pendek jika dibandingkan dengan mereka yang mengganti karbohidrat dengan lemak dan protein nabati/tumbuhan”.

Baiklah, kita simpan dulu hasil penelitian itu. Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Pertama, Manakah yang lebih sehat, makan sedikit, sedang atau banyak nasi? Jawabannya: Makan nasi dalam porsi sedang.

Kedua, Nasi bukan masalah, yang penting kenyang. Saya mau mengomentari seperti ini: “Zaman now, kenyang itu tidak cukup. Kandungan gizi perlu diperhatikan”.

Ketiga, Tidak makan nasi putih untuk turunkan berat badan. Jangan lakukan itu sebab makanan pokok kita adalah nasi. Jika makanan pokok kita seperti orang barat: kentang, pasta, sereal bolehlah kita tidak makan nasi. Tetapi ingat bahwa makanan pokok seperti nasi itu haruslah tersedia setiap saat. Jadi, janganlah bersusah-susah untuk mencari makanan lain. Nikmati yang ada. Mudah bukan? Karbohidrat bisa juga didapatkan dari sayur, buah, gula.

Keempat, Tidak makan nasi dan hanya makan daging. Jangan lakukan itu. Alasannya: baca lagi hasil penelitian di atas.

Beberapa Anjuran Kesehatan hari ini:

  1. Makan secukupnya. Semua boleh dimakan asalkan jangan makan hati.
  2. Jangan malu bertanya agar tidak sesak di jalan.
  3. Tinggalkan hal-hal yang tidak barbasis data sebab ini zaman now.

 

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “NASI PUTIH DAN KESEHATAN ANDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *