Dua hari yang lalu, teman saya bercerita bahwa semua ayam bangkok peliharaannya di rumah mati. Kurang lebih berjumlah 15 ekor. Mulai dari anak ayam sampai ayam dewasa,  pergi untuk selamanya. Setelah melakukan observasi, teman saya menegakkan diagnosa: Bambo. Sekarang giliran saya yang bingung.

“Apa gejala yang kamu lihat saat observasi itu?” Selidik saya.

“Mata berair dan merah, keluar cairan bening dari kedua hidung, banyak lendir di saluran nafas alias ngorok.”

“Oh, begitu”.

Setelah teman saya pulang, saya tidak tahan untuk tidak membuka dunia maya, mencari jalan keluar untuk teman saya yang kehilangan seluruh ayamnya karena sebuah penyakit: bambo. Hasil pencarian terhadap penyakit bambo sampailah saya pada bahasa jawa. Bambo sama dengan penyakit tetelo. Nah, tetelo ini jika dipadankan dengan bahasa ilmiah atau bahasa orang sekolah adalah Newcastle Disease Virusdan biasa disingkat NDV. Disitu saya merasa sedih. Eh, salah. Sampai disitu saya cukup puas. Sisa langkah terakhir: menghubungi teman yang adalah dokter hewan ternama di kota saya untuk menanyakan apa itu NDV.

“Teman, NDV itu adalah penyakit yang sering menyerang ayam-ayam kita. Penyebabnya adalah virus. Tidak ada obat untuk mengobati virus ini. Sekali kena langsung parah, bahkan 80-90% populasi mati, yang tersisa biasanya membawakan kecacatan permanen. Tidak ada obat tetapi kita bisa mencegahnya dengan pemberian vaksin. Nama vaksinnya, vaksin ND. Jika vaksinasi ND tidak diberikan kepada ayam-ayam kita, maka bisa dipastikan kejadian akan sama persis seperti yang dialami oleh teman punya teman itu. Biasanya, dalam satu tahun virus ini menyerang dua kali, teman. Menjelang musim hujan dan kemarau”. Jelas Dokter Hewan berapi-api sambil menunjukkan foto di smartphone:

Apa yang dipelajari Dokter Hewan di kampusnya rupanya mirip dengan apa yang saya pelajari. Hanya berbedanya pada obyek pembelajaran. Hewan versus Manusia. Bukannya manusia juga hewan? Ayam adalah hewan berkaki dua. Manusia? Oh, saya ingat. Dulu, waktu di Sekolah Dasar, guru saya pernah memfatwahkan bahwa manusia juga adalah hewan. Tetapi hewan yang berakal budi. Maaf para pembaca, sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang berkelindan di otak saya tentang manusia dan hewan, tetapi biarkan pikiran itu saya yang pikirkan, kamu teruslah membaca tulisan ini.

Yang saya mau tulis adalah tentang vaksinasi MR. Vaksin MR adalah kependekkan dari vaksin Measles (campak) dan Rubella. Vaksin MR berisi virus MR hidup yang dilemahkan kalau orang medis bilang virus yang live attenuated. Dengan pemberian vaksin ini, tubuh kemudian akan membentuk kekebalan sehingga jika virus beneran menyerang tubuh kita, maka sudah ada perlawanan yang berarti.

Program pemberian vaksin ini dicanangkan oleh Pemerintahan Pak Jokowi sejak tahun lalu. Tahun 2017 dilakukan di Pulau Jawa dan tahun 2018 di luar Pulau Jawa. Bukan untuk pencitraan periode kedua menurut saya, tetapi ini merupakan program anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu juga karena telah ada 141 negara yang telah melaksanakan program ini, termasuk 40 negara islam. Ditinjau dari tiga aspek penilaian: segi mutu, segi keamanan dan segi khasiat maka sejak tahun 2017, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) juga telah memberikan izin edar untuk vaksin MR ini. Sekarang tinggal menunggu Sertifikasi Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mudah-mudahan kerja sama antara produsen vaksin MR dengan MUI segera menghasilkan keputusan yang baik. Sehingga seluruh warga negara Indonesia akan mendapatkan vaksin MR, tidak seperti ayam-ayam bangkok teman saya yang tidak divaksinasi.

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “INILAH ALASAN VAKSINASI ITU PENTING

Leave a Reply

Your email address will not be published.