Kata disruption pertama kali diperkenalkan oleh Clayton M. Christensen pada tahun 1997. Saat itu, disruption adalah istilah untuk menggambarkan cara berbisnis model baru. Bisnis cara baru tersebut menggunakan aplikasi-aplikasi teknologi informasi dengan jaringan internet sebagai fondasinya.

Lebih konkret, Christensen menjelaskan bahwa disruption menggantikan ‘pasar lama’, industri, teknologi, dan menggantikan suatu kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan kreatif (Kasali, 2019, hal. 35)

Disrupsi menurut Rhenald Kasali adalah sebuah inovasi. Inovasi inilah yang merupakan ancaman terbesar bagi incumbent. Eit, ini bukan omong politik. Ini membahas ilmu bisnis.

Inovasi seperti apa yang dapat mengancam bisnis model yang sudah mapan? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita lihat terlebih dahulu ciri khas bisnis model yang sudah mapan tersebut. 

Bisnis model yang sudah mapan itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Time series , owning economy, on the line economy, supply-demand tunggal, lawannya jelas (hal. 21)

Time series itu bisa diartikan seperti ini: memprediksi sesuatu yang akan terjadi di waktu yang akan datang dengan data sekarang. Misalnya, kebutuhan obat sebuah rumah sakit, klinik dan apotek pada tahun depan biasanya dihitung berdasarkan data tahun ini ditambah 10%.

Era disrupsi, membuat cara kerja seperti ini tidak relevan lagi. Yang dibutuhkan sekarang adalah real time. Saat dibutuhkan, saat itu pula dipesan dan didapatkan. Beberapa perusahaan obat sudah mulai menggunakan aplikasi pemesanan/pengiriman obat real time.

Stok obat di fasilitas kesehatan terhubung secara online sehingga bisa diakses perusahaan obat. Begitu tinggal sedikit, perusahaan obat sudah mengirimkan obat yang dibutuhkan. Tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar sekaligus. Berapa yang diambil, sejumlah itu saja yang dibayar. Efisien, kan?

Akibatnya, proses tender obat yang kacau tidak diperlukan lagi. Tindakan copy paste kebutuhan obat tahun kemarin kemudian ditambah 10% tidak perlu dilakukan. Karena hal itu adalah kesia-siaan belaka. 

Bayangkan seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia sudah terhubung secara online dengan perusahaan-perusahaan obat. Tentu ketersediaan obat selalu terpenuhi. Namun, ada satu syarat bahwa para pemimpin dari pusat sampai daerah juga paham tentang disrupsi. Jika tidak, kita akan berjalan di tempat. 

Owning Economy bisa diartikan sebagai ekonomi memiliki. Untuk memulai suatu usaha, kita harus membangun sendiri bangunannya. Kalau tidak ada alat transportasi untuk angkut barang yang dibutuhkan, maka kita harus membeli. Zaman ini sering dikeluhkan sebagai zaman modal. Yang mempunyai modal saja yang bisa memulai usaha bisnis. 

Zaman disrupsi adalah sharing economy. Ekonomi berbagi. Tidak membutuhkan modal besar. Semua orang bisa memulai usaha. Contohnya adalah jualan online. Mulai dari pendaftaran sebagai anggota, pembelian dan pengiriman barang hingga tiba di depan rumah para konsumen hanya lewat aplikasi online

Inilah yang paling ditakuti oleh para pebisnis lama. Karena sepi yang datang membeli di tokonya, pemilik toko akan bilang bahwa daya beli masyarakat kurang. Ternyata bukan daya beli yang kurang. Para konsumen sudah beralih ke cara pembelanjaan jenis baru. Jika tidak paham disrupsi, mereka akan runtuh. Seberapa besar pun modal dan aset milik mereka. 

Ciri bisnis yang ketiga adalah on the lane economy versus on demand economy. Zaman sebelum disrupsi, jika datang berbelanja ke sebuah toko dan ternyata barang tersebut tidak tersedia, tuan toko akan mencatat dan memesan barang ke kota besar.

Zaman disrupsi, para konsumen tidak ingin menunggu lama. Mereka dapat membeli langsung secara online barang tersebut dan tentu akan tiba lebih cepat dibandingkan yang dipesan tuan toko. Bahkan untuk barang yang kecil sekalipun tersedia di toko online. Tidak percaya? Berarti Anda belum hidup di zaman disrupsi. 

Yang keempat adalah Supply-demand tunggal versus supply-demand dengan jejaring. Bisnis-bisnis yang menjual barang pada zaman dahulu hanya menyediakan barang-barang kebutuhan masyarakat yang terbatas. Jika bisnis jual barang ada di ibu kota kabupaten, maka hanya orang-orang kabupaten itu saja yang akan datang membeli. Zaman disrupsi, menjual barang bisa melampaui wilayah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kopi biji, hasil kebun di Manggarai, bisa dibeli dan dikirimkan ke Amerika hanya karena sebuah aplikasi penjualan online kecil. Walaupun hanya satu bungkus dengan berat kurang-lebih 250 gram, namun jika disukai orang Amerika, bisa jadi permintaannya berlanjut dengan volume yang lebih besar. 

Ciri terakhir dari dunia bisnis model lama adalah lawannya jelas versus lawan yang tak terlihat. Saya baru-baru ini membaca sebuah tulisan di surat kabar online tentang penolakan masyarakat setempat akan hadirnya sebuah aplikasi taksi online

Di dalam buku disruption, Prof. Rhenald Kasali memulai contoh kasus taksi online Uber saat masuk ke Amerika. Saat Uber masuk ke negara Amerika, banyak yang protes. Begitu juga saat masuk ke Indonesia. Perusahaan taksi nasional yang berwarna biru itu mengalami penurunan omset yang tidak sedikit. 

Apa yang terjadi kemudian, negara adidaya saja akhirnya menerima aplikasi taksi online karena tidak ada jalan lain. Di Indonesia juga sama. Disrupting atau disrupted? Hanya itu pilihannya. Indonesia menerima aplikasi itu selayaknya kita sebagai orang tua menerima jika anak kita lebih memilih main game di hape daripada membaca pelajaran sekolah. 

Kembali ke kasus penolakkan taksi online di suatu daerah. Apa yang bisa dilakukan masyarakat? Mereka melapor kepada pimpinan daerah, kemudian mendapat jawaban bahwa pimpinan akan menolak masuknya taksi online tersebut.

Bagaimana caranya? Bagaimana cara kita mengetahui bahwa calon penumpang menggunakan aplikasi taksi online atau tidak saat keluar dari airport? Kalau ada jalan keluar, tentu negara adidaya di dunia sudah memakainya. Lawan itu tidak kelihatan namun membunuh.

Saat saya tinggal kurang lebih dua minggu di Jakarta, sekali waktu saya menemani seorang teman yang mengunjungi aplikasi kesehatan online. Teman saya sedang sakit perut yang tak tertahankan.

Singkat cerita, teman saya sudah melakukan video call lewat aplikasi kesehatan tersebut dan berbicara layaknya sedang berkonsultasi di ruangan praktek dokter.

Dokter memberikan diagnosis diakhir konsultasi tersebut dan yang mengejutkan adalah dalam waktu 10 menit obat sudah diantar dan sampai ke tangan teman saya.

Saat itu juga teman saya minum obatnya dan 15 menit kemudian kami berdua sudah berada di sebuah restoran untuk menyantap hidangan yang lagi happening di daerah Jakarta Pusat. Luar biasa. Dunia benar-benar sudah selebar daun kelor. 

Saat berada di dalam perjalanan pulang dari Jakarta, saya membayangkan jika aplikasi kesehatan online itu datang ke daerah saya. Akankah saya memimpin pasukan untuk melakukan demo besar-besaran di alun-alun kota?

Apakah saya akan memprotes karena aplikasi tersebut tidak mengindahkan etika profesi kedokteran? Jika saya lakukan itu, mungkin Prof. Rhenald akan menertawai saya dari kejauhan sebab saya tidak mengerti apa yang telah saya baca. 

Ada beberapa konklusi yang saya petik dari membaca buku ini. Pertama, tidak boleh mengatakan tidak ada modal untuk memulai suatu usaha bisnis. Sebab pola pikir itu sudah ketinggalan zaman. Kedua, untuk menghadapi zaman disrupsi ini, kita memerlukan jurus-jurus dari Prof. Rhenald. Anda ingin mengetahuinya? Silakan mencari, membeli dan membaca buku bagus ini hingga tuntas. 

Jakarta, 8 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.