Arti Donor Darah

Donor darah adalah tindakan sukarela memberikan darah untuk orang yang membutuhkan. Kerelaan adalah dasar kegiatan ini. Tanpa kerelaan, kegiatan ini tidak ada artinya.

Memberikan darah dengan sukarela tidak mudah. Penyebabnya, adalah kondisi kesehatan. Tanpa memiliki kesehatan yang baik – walaupun rela memberikan – darahnya tidak dapat dipakai. 

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip memberi seperti di atas juga berlaku. Kita rela memberikan contekan kepada teman sebangku, kalau bisa menjawab soal-soal ujian. Jika kita sendiri tidak mampu, apa yang bisa kita berikan?

Rela itu bersedia dengan ikhlas hati dan tak mengharap imbalan. Memberikan darah, suatu saat saya akan mendapat darah dari orang lain. Itu bukan kerelaan. 

Kerelaan itu bukan “quid pro quo” atau dalam bahasa inggris “do ut des“. Kerelaan itu, ya, memberikan sesuatu tanpa berpikir yang lain. Saya rela memberi, titik. Bahkan, dalam konteks donor darah, seseorang rela memberikan darahnya tanpa tahu siapa yang mendapatkan darah tersebut.

Orang-Orang yang Mendonor Darah

Dalam kegiatan donor darah, ada istilah “Donor Darah Sukarela” dan “Donor Darah Pengganti”. Loh, katanya donor darah itu sukarela. Mengapa masih ada yang namanya ‘pengganti’?

Pendonor darah sukarela jumlahnya tidak banyak. Donor darah sukarela adalah mereka yang setiap 2 atau 3 bulan rutin mendonorkan darah. Darahnya untuk siapa bukan tujuannya. Secara sadar dan sukarela mereka memberikan darah bagi orang lain.

Karena keterbatasan jumlah itu lahirlah para pendonor darah pengganti. Jika ada anggota keluarga sakit dan membutuhkan darah, maka ia bersedia mendonorkan darah. Bisa juga untuk teman, kenalan, bahkan untuk seorang pacar. 

Jadi, perbedaan 2 jenis pendonor darah ini terletak pada rutinitas. Semakin rutin seseorang mendonorkan darahnya, semakin konsisten kebersihan darahnya. Sebab, lebih sering darahnya di skrining -dicek penyakit-penyakit menular- dan dinyatakan memenuhi persyaratan.

Pendonor darah pengganti hanya mendonorkan darahnya pada waktu tertentu. Mungkin saat ayah dan ibunya membutuhkan barulah ia memberikan darah. Sehingga semakin jarang darahnya di skrining. Sehingga, besar kemungkinan darahnya tidak memenuhi syarat karena banyak hal.

Itulah sebabnya, saat ada anggota keluarga sakit, segera kita menghubungi dan membawa banyak kenalan, teman dan anggota keluarga lain ke Unit Transfusi Darah, untuk diambil darahnya. Sebagian besar dari mereka tidak memenuhi syarat: bawa 10 orang, yang memenuhi syarat hanya 1 orang.

Syarat Donor Darah

Ada beberapa syarat utama agar kita dapat mendonorkan darah secara sukarela. Syarat wajib terpenuhi adalah umur, berat badan, tekanan darah, kadar hemoglobin darah, serta dalam keadaan sehat.

Rentang umur bagi pendonor darah adalah 17 tahun sampai 60 tahun. Batas usia 17 tahun tidak lain karena alasan legalitas secara hukum yang berlaku di Indonesia. Mereka sudah masuk kategori orang dewasa. Dalam praktek, pada usia 17 tahun sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Bagi orang yang baru pertama mendonor darah, batas maksimal umurnya adalah 60 tahun. Untuk yang sudah biasa mendonor darah, mereka masih diperbolehkan hingga usia 65 tahun. 

Berat badan minimal adalah 45 kg. Di bawah itu -walaupun ingin dan dengan sukarela memberikan darahnya- tidak boleh mendonor darah. Berat badan itu berhubungan dengan jumlah darah di dalam tubuh. Berat badan di atas 45 kg menandakan jumlah darahnya cukup untuk dibagikan kepada orang lain. 

Sekarang tentang tekanan darah. Tekanan darah diukur dengan alat yang namanya tensimeter. Hasil pengukurannya adalah sistole dan diastole. Normalnya, sistole 100-150 mmHg (milimeter merkuri) dan diastole 60-90 mmHg. Di luar batas normal, tentunya tidak dapat mendonorkan darah.

Ada teman yang tekanan darahnya tinggi ingin mendonorkan darahnya. Petugas Unit Tranfusi Darah tidak mengizinkan. Tetapi ia bersikeras ingin mendonor dan berkata: “Saya ingin donorkan darah saya agar tensinya turun dan menjadi normal.” Ini jelas-jelas salah kaprah.

Penyebab tekanan darah tinggi (hipertensi) tidak selalu karena volume darahnya tinggi. Banyak faktor penyebab hipertensi. Selain itu, dikhawatirkan penderita hipertensi mendapatkan situasi bahaya saat mendonorkan darah.

Syarat berikutnya adalah kadar hemoglobin. Hemoglobin adalah protein yang mengandung zat besi di dalam sel darah merah. Fungsinya untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kadar normal hemoglobin adalah 12-17 gr%.

Kadar hemoglobin ini biasanya diukur dengan cairan yang bernama Kupper sulfat dengan berat jenis 1.053 dan 1.062. Selain memakai cairan itu, bisa juga memakai alat digital pengukur hemoglobin.

Hemoglobin dibawah 12 gr% tidak boleh mendonor. Namanya anemia. Bagaimana mau menyumbangkan darah untuk orang lain, untuk diri sendiri saja kurang. 

Jika hemoglobin lebih tinggi dari 17 gr% juga tidak boleh diberikan kepada orang yang membutuhkan. Bisa diambil darahnya atas anjuran dokter tetapi hanya untuk mengurangi hemoglobin dalam darah. 

Kadar hemoglobin yang lebih tinggi dari 17 gr% biasanya karena ada berbagai penyakit atau gangguan kesehatan tubuh. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan penyakit jantung paling sering menyebabkan kondisi ini. 

Syarat terakhir yang harus dipenuhi dalam mendonor darah adalah dalam keadaan sehat. Keadaan sehat ini sangat subjektif. Sehingga membutuhkan orang lain untuk menilai kesehatan Anda. Orang yang menilai itu paling kurang adalah seorang dokter, sehingga objektivitas akan didapat.

Penyakit-penyakit menular lewat transfusi darah yang menjadi fokus dokter dan petugas UTD adalah HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, Sifilis, Malaria. Darah yang sudah diambil akan diperiksa kembali agar terbebas dari penyakit-penyakit tersebut.

Golongan Darah

Setiap orang mempunyai golongan darah yang unik dan tidak bisa berubah. Dalam satu keluarga, golongan darah anggota keluarga bisa berbeda. Hal itu tergantung kombinasi golongan darah kedua orang tua. 

Golongan darah yang dipakai di Indonesia adalah golongan darah ABO dan Rhesus. Golongan darah ABO mengelompokkan setiap orang menjadi golongan darah A, B, AB dan O. Sedangkan golongan darah rhesus hanya 2: rhesus positif dan rhesus negatif. 

Bagaimana caranya kita mengetahui golongan darah kita? Caranya dengan memeriksa sedikit darah Anda di fasilitas pelayanan kesehatan, lebih tepatnya di Unit Trasnfusi Darah. Setelah darah diperiksa, hasilnya adalah Golongan Darah O dan rhesus positif. Itu adalah contoh golongan darah saya. Anda, bisa sama bisa juga berbeda.

Biaya Donor Darah

Unit Transfusi Darah adalah unit yang secara undang-undang kesehatan mempunyai tugas memberikan pelayanan darah. Mulai dari seleksi pendonor, pengambilan darah, skrining darah, penyimpanan dan pendistribusian darah. 

Nah, dalam mengelola darah itu, UTD tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar. Mulai dari gaji pegwai, pembelian kantong darah dan reagen, alat-alat donor darah, biaya gedung, listrik dan air. Masih banyak lagi untuk disebutkan satu per satu. Intinya, membutuhkan biaya. 

Mengapa tetap harus membayar jika orang membutuhkan darah? Bayaran itu bukan untuk darah yang diambil. Bayaran itu untuk mengganti biaya pengolahan darah. Kami menyebutnya Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD). Darah tidak diperjualbelikan.

Untuk pasien yang adalah peserta BPJS, BPJS-lah yang akan membayar BPPD itu kepada UTD sebesar Rp. 360.000,-. Sedangkan untuk yang tidak memiliki kartu BPJS, mereka disebut pasien umum dan harus membayar BPPD itu sebesar Rp.220.000,-. Pembayaran ini langsung diterima oleh UTD (Peraturan Daerah, tahun 2014). 

Sudah jelas? Mudah-mudahan Anda membaca tulisan ini, paham. Jika belum jelas dan belum paham juga artinya tulisan ini gagal. 

Salam kemanusiaan. 

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.