Suatu waktu, saat saya memasang foto-foto diskusi buku bulanan Klub Buku Petra, ada yang menyapa saya. Orang yang menyapa ini ternyata adalah seorang biarawan. 

“Teman, saya sangat tertarik dengan kegiatan diskusi bukunya. Apakah saya bisa bergabung?” Begitu tulisnya. 

“Tentu saja bisa, teman. Mari bergabung.” Balas saya. 

Akhirnya kami sering bertukar kabar. Namanya Pater Wilfridus Babun. Ia adalah seorang pastor dari ordo SVD, asal Ranggu, Manggarai Barat.

Ngobrol dengan Pater ini sangat menyenangkan. Sebab yang kami bicarakan adalah semua hal tentang literasi; membaca dan menulis. 

Tentang membaca, ternyata Pater ini sudah mempunyai taman baca di kampungnya dengan nama “Le Nuk”. Dalam bahasa Manggarai, artinya “Karena Cinta”. Dengan penuh cinta ia mendirikan taman baca tersebut untuk orang-orang tercinta di kampungnya. 

Di lain waktu, saat saya berkunjung ke rumahnya, Pater ini menceritakan bahwa ia pernah diundang Presidan Jokowi ke istana kepresidenan untuk makan malam bersama. 

“Saya duduk dekat sekali dengan bapak presiden.” Jelasnya dengan senyum bangga. 

“Itu adalah hal yang luar biasa, Pater.” 

Beberapa waktu kemudian, Pater memberi kabar bahwa bukunya baru saja terbit. 

“Teman harus membacanya dan jangan lupa menulis hasil bacaanya, ya.” Begitu pinta beliau. 

Saya berjanji kepada Pater untuk membaca bukunya. Hasil pembacaan itulah yang akan saya tuliskan di bawah ini. 

Tulisan-tulisan yang dibukukan ini ternyata adalah tulisan opini yang Pater kirimkan ke koran lokal kami: Pos Kupang dan Flores Pos, dari tahun 2000 hingga 2015. 

Keseluruhan tulisan itu dikelompokkan ke dalam 3 tema: Proyek Politik, Lakon Politikus dan Menyeduh Sari Hidup. 

Sebagian besar tema tulisan-tulisan itu adalah tentang politik. Mengapa tentang politik? Kan, rohaniwan. Bukannya rohaniwan mempunyai tugas memimpin upacara ekaristi bersama umat? 

Memikirkan itu, saya kemudian sadar, bahwa pertanyaan-pertanyaan di atas tidak membutuhkan jawaban. Saya sendiri adalah seorang dokter, tetapi mengapa tertarik dan mengurusi banyak hal tentang literasi? Bukankah tugas dokter adalah mengurusi orang sakit? Menyadari ini, saya hanya bisa diam dan berdoa. 

Setelah membaca seluruh tulisan dalam buku ini, saya paham, bahwa Pater yang adalah rohaniwan tetap harus bicara tentang politik yang kacau karena kegelisahan. Kegelisahan itu jika tidak dituliskan maka selamanya akan menjadi kegelisahan bahkan kesengsaraan bagi dirinya sendiri.

Maka, Pater menulis agar orang-orang yang membacanya merasakan kegelisahan yang sama sehingga membentuk kesadaran baru dan pencerahan akan hal-hal yang salah.

Kegelisahan Pater yang pertama adalah tentang janji-janji palsu para calon kepala daerah saat berlangsungnya pemilihan gubernur atau bupati.

“Janji itu tidak perlu disampaikan jika tidak bisa ditepati. Masyarakat tidak butuh janji melainkan kerja nyata.” Kurang lebih begitu tulisnya.

Janji akan membangun proyek agar masyarakat mudah mendapatkan air. Proyek berjalan baik, masyarakat tidak lagi susah mencari air, air keluar lewat pipa pada masing-masing rumah penduduk. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.

Setelah acara peresmian keluarnya air itu, sebulan kemudian air tidak kunjung keluar lagi. Proyek selesai, kontraktor mendapat bayarannya, masyarakat susah lagi. Ini namanya PHP: Pemberi Harapan Palsu. Siapa yang salah? Mungkin Tuhan. 

Di bagian pertama buku ini, Pater masih membahas tentang korupsi dan efek negatif tambang terhadap lingkungan. Pembahasannya sangat enak sebab gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa sederhana diselingi humor menggelitik. 

Setelah banyak ngobrol dengan Pater ini, ternyata beliau juga sangat menyukai teater. Sudah saya duga. Orang-orang yang senang bicara literasi, pastinya juga senang akan teater. Ya, tepatnya pementasan teater. 

Ada satu tulisan tentang pementasan teater berjudul In Nomine Diaboli: Atas Nama Setan. Cerita singkatnya, begini.

Ada sebuah proyek pembangunan gedung di atas tanah seorang petani tua. Tanah itu adalah tanah sengketa. Artinya belum diurus secara baik-baik.

Sang kontraktor datang memulai pekerjaannya. Membuat patok sana sini, dan pak tani tua merana. Tidak tahu harus melawan seperti apa, pak tani menggunakan ilmu hitam untuk bersekutu dengan para makhluk dunia lain.

Para setan sepakat dan mulai menganggu ketenangan para pekerja proyek. Mereka diganggu pada malam hari dengan mimpi-mimpi buruk, mengelitik telapak kaki para pekerja hingga akhirnya pengerjaan proyek itu kocar-kacir. 

Benar, terkadang untuk melawan sesuatu yang terlampau kuat harus dengan cara-cara yang tidak masuk akal. Dengan demikian mereka yang kuat akan memahami bahwa di atas yang kuat masih ada yang lebih kuat. 

Di bagian kedua, ada dua judul tulisan yang menyadarkan saya bahwa kesalahan juga bisa datang karena ketidakmapuan dan kemalasan kita mengerjakan sesuatu. Dua judul itu adalah: Bupati Dula: Kita Langgar Hukum dan Bodok Ke Karbo.

Tulisan tentang Bupati Dula itu terjadi pada tahun 2015. Kabupaten Manggarai Barat harus mengembalikan anggaran sebesar 27 Miliar karena tidak mampu mengelolanya selama tahun berjalan.

Kejadian itu melanggar hukum. Saya setuju. Saat pembahasan rencana anggaran kita gontok-gontokkan. Tidak mau kalah. Kalau bisa dana dari Satuan Perangkat Kerja tidak boleh dipotong.

Semua bernafsu menjalankan rencana programnya demi kepentingan masyarakat, katanya. Di akhir tahun, tidak mampu mengelolanya. Jika saja rencana penggunaan uang dipersiapkan dengan baik, tentu banyak sekali kegiatan-kegiatan pro rakyat yang bisa dilaksanakan. Sayang, kan?

Lebih kacau lagi kejadian di Pemerintah Kabupaten Kupang pada tahun 2013. Bupati Titu Eki marah besar. Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia memberikan predikat disclaimer of opinion alias Tidak Menyatakan Pendapat (TMP) atas laporan keuangan Pemkab Kupang Tahun Anggaran 2012. 

Artinya, BPK menganggap ada ruang lingkup audit yang dibatasi sehingga tidak bisa mengatakan apakah laporan keuangan itu wajar atau tidak. Satuan Kerja Perangkat Daerah menggunakan uang semaunya saja. Padahal itu adalah uang rakyat. Dosa besar.

Pada bagian terakhir, Pater memberikan beberapa tulisan yang sama sekali tidak ada hubungan dengan dunia politik. Kali ini tentang kehidupan: Tertawa, Terima Kasih, Sibuk, Rumah Kita Beraam, Kampung, Tua Itu Indah.

Judul-judul itu coba saya rangkaikan menjadi kalimat-kalimat di bawah ini:

Hidup itu ada sedih dan tawa. Namun, yang harus diperbanyak adalah tawa. Tertawalah pada apa saja, lebih-lebih pada diri sendiri.

Jika ada yang menertawai kita, katakanlah “Terima kasih” karena kita sudah diperhatikan. Karena kesibukan yang beralasan dan tidak beralasan, kita sering tidak memperhatikan juga diperhatikan. 

Nusa Tenggara Timur adalah rumah kita bersama, kampung kita semua. Tidak perlu menghakimi satu sama lain. Ada kesalahan orang lain juga ada kesalahan kita.

Jika orang lain berbuat salah, tegurlah dengan cara menulis. Gunakan kata-kata indah dan baik agar tidak tersinggung dan tidak merasa bersalah melainkan memahami kesalahan.

Jika kita sendiri sering membuat kesalahan, apalagi kesalahan itu menganggu orang lain, bacalah lebih banyak. Agar kesalahan-kesalahan orang lain yang pernah dilakukan dan ditulis tidak kita lakukan lagi. 

Pater, terima kasih sudah menuliskan opini-opini yang indah ini. Akan saya ingat terus pesan Pater: segala uneg-uneg serta keluh kesah harus dituliskan agar kita terbebas dari rasa bersalah dan agar orang lain tergerak melakukan yang terbaik baik bagi dunia ini. Salam literasi.

Karot, 26 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.