Kebiasaan Tidak Sehat

Di tempat kerja, setiap hari saya melihat dan mendengar cerita tentang penggunaan antibiotik yang salah. Tetapi, banyak orang tetap berusaha meyakinkan saya bahwa dengan mengkonsumsi antibiotik badan terasa lebih segar. Di situ saya merasa sedih.

“Sebelum ke dokter, saya baru minum obat amoxicillin, dexametasone dan paracetamol. Setelah konsumsi obat itu saya merasa lebih baik, badan terasa tidak sakit lagi”. Itu salah satu cerita yang saya katakan salah.

Setelah saya tanyakan lebih ‘dalam’, ternyata selama tiga hari dia kurang tidur malam karena banyak acara alias pesta yang berturut-turut: Rabu, Kamis, dan Jumat. Ditambah lagi dengan minum sopi (alkohol) yang berlebihan. 

Badan menjadi sakit dan lemah bukan akibat serangan bakteri, tetapi kecapaian. Mengapa harus minum amoxicilin? Itu maksud saya. Analogi untuk kisah di atas adalah “Gatal di kaki, garuknya di tangan”.

Saya ambil contoh kisah lain. “Kemarin saya sakit perut. Supaya hilang sakitnya, saya minum cotrimoxazole. Tetapi sakitnya tidak hilang, bahkan semakin sakit. Kali lalu dengan minum obat cotrimoxazole sakitnya langsung hilang”. 

Kisah terakhir di atas juga salah. Sakit perut tidak selalu disebabkan oleh bakteri. Maka obat antibiotik cotrimoxazole bukanlah obat sakit perut. 

Sekali lagi, tetap saja beberapa orang berusaha menjelaskan kepada saya tentang khaziat obat-obat antibiotik tersebut. Yang menyeramkan mereka membawa-bawa nama kakek-nenek mereka yang sudah meninggal.

“Resep obat yang saya minum ini adalah resep dari kakek saya. Kalau sakit badan minum amoxicilin. Kalau sakit perut minum cotrimoxazole. Kalau perut kembung minum tetrasiklin. Jika sakit pinggang minum ciprofloxacin. Itu pesannya sebelum menghembuskan nafas terakhir”.

Agak penasaran, saya bertanya lebih lanjut. “Apakah kakek Anda dulu adalah seorang dokter atau perawat?”

“Bukan, dia bukan dokter atau perawat. Kakek saya dulunya adalah dukun”. Jawabnya datar. 

Mendengar itu saya langsung merasa sakit perut dan tidak mampu berkata-kata.

Baca juga: Ada Gula, Ada Penyakit.

Antibiotik Adalah Racun

Jaman dahulu, bidang kesehatan belum berkembang seperti sekarang. Siapa saja yang mengalami demam dipastikan dalam waktu singkat meninggal. Apalagi kondisi fisik tidak sehat.

Di masa perang, banyak para pejuang mati karena serangan bakteri, bukan peluru. Bakteri merajalela. Menyerang segala usia dan penjuru.

Untung saja ada seorang hebat yang meneliti tentang bakteri dan mencoba melawannya. Namanya Alexander Fleming. Senjata untuk melawan bakteri itu adalah penisilin. Bakteri tidak bisa berkutik.

Penicilin menjadi ‘obat dewa’ saat itu. Apa saja sakitnya penisilin obatnya. Tetapi masa itu tidak berlangsung terlalu lama. Sebab bakteri juga mencari cara melawan antibiotik.

Laporan hasil penelitian terbaru menyatakan banyak antibiotik sudah tidak mempan lagi membunuh bakteri. Bakteri menjadi resisten. Semakin susah dibunuh.

Yang paling menjadi bahan pembicaraan di dunia medis sekarang adalah kebalnya bakteri penyebab penyakit tuberkulosis (TBC). Anda bisa bayangkan bagaimana kalau penyakit ini tidak bisa diobati dengan antibiotik yang ada.

Bicara tentang obat antibiotik, saya teringat dosen farmakologi pernah menyampaikan seperti ini: “Antibiotik itu seperti pedang bermata dua. Dengan dosis yang tepat dan pemakaian yang teratur ia akan mejadi obat yang manjur tetapi jika sebaliknya akan menjadi racun”.

Waktu kuliah dulu, istilah 5T menjadi sangat populer. Tepat Pasien, Tepat Obat, Tepat Dosis, Tepat Cara dan Tepat Waktu pemberian. 

Tepat Obat inilah yang menjadi topik pembicaraan saya. Gejala dan tanda yang didapati pada pasien merupakan dasar pemberian antibiotik. Bukan menggunakan perasaan, tetapi melalui pemeriksaan yang lengkap.

Jenis Antibiotik yang Sering Dipakai

Beberapa, jika tidak mau dibilang banyak, antibiotik ada dan sering dipakai masyarakat. Permasalahannya adalah, kapan harus minum antibiotik dan bagaimana aturan penggunaannya mereka pun tidak tahu. Yang penting minum obat. 

Saya banyak kali mendapati teman yang memiliki luka kecil di jari tangan atau kaki. Mereka membubuhi serbuk antibiotik tablet ke luka tersebut. Bahkan, katanya akan lebih manjur jika obat tersebut dikunyah sebelum dioleskan pada luka. Ampun  komandan. 

Luka kecil, yang tidak ada tanda radang atau tanda infeksi sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Tubuh kita mampu mengatasi itu. Itu yang pertama.

Kedua, tablet itu untuk diminum bukan untuk ditaburkan ke luka luar. Untuk luka luar, sudah ada obat luar yaitu salep. Memahami cara menggunakan obat merupakan hal penting.

Beberapa antibiotik yang banyak dipakai bebas oleh masyarakat itu adalah: amoxicillin, cefadroxil, erythromicyn, ciprofloxacin, dan tetrasiklin. 

Yang saya khawatirkan adalah dalam waktu singkat, obat-obat ini sudah tidak mampu membunuh bakteri lagi. Akibat penggunaannya yang bebas merdeka. Bakteri-bakteri kebal, kita ambruk.

Cara Minum Antibiotik Yang Benar

Marilah kita perhatikan dan ikuti cara minum antibiotik yang benar di bawah ini. Tips ini saya kutip langsung dari tulisan bagus dr. Tania Savitri di hellosehat.com, yang menurut saya cukup lengkap:

  1. Selalu minum antibiotik sesuai anjuran dokter.
  2. Selalu beli sejumlah obat antibiotik sesuai yang diresepkan dokter (jangan lebih, jangan kurang).
  3. Selalu habiskan antibiotik sesuai anjuran resep, bahkan jika Anda sudah merasa lebih baik kondisinya.
  4. Selalu konsumsi obat antibiotik tepat waktu dan tepat dosis.
  5. Jangan melewatkan dosis.
  6. Jangan menyimpan obat antibiotik untuk berjaga-jaga ke depannya apabila ada tanda penyakit kambuh.
  7. Jangan asal memberikan atau menyarankan antibiotik pada orang lain.
  8. Jangan minum obat antibiotik yang diresepkan dokter untuk orang lain.
  9. Selalu beri tahu dokter apabila Anda minum obat atau vitamin lain saat diresepkan antibiotik. 

Solusi Penggunaan Antibiotik Yang Benar

Bagi para dokter yang melayani di Tingkat Pelayanan Kesehatan Primer, alangkah baiknya untuk kembali memikirkan efektifitas antibiotik yang akan diberikan. Perlukah antibiotik itu diberikan?

Buanglah semua galau gulana, bahwa dokter yang hebat adalah dokter yang sekali memberi obat, gejala sakit hilang seketika. Dan ternyata obat yang diberikan itu adalah antibiotik. 

Sakit penyakit yang sering dijumpai dalam pelayanan tingkat primer adalah penyebab pola hidup yang tidak sehat. Anjurkan untuk mengubah pola hidup menjadi sehat maka kesehatan akan didapatkan. Bukan dengan memberi antibiotik.

Sudah perlukah memberikan antibiotik untuk diagnosa tersebut? Apakah antibiotik tunggal sudah cukup atau perlu kombinasi beberapa antibiotik? Bagaimana perkembangan dunia antibiotik sampai saat ini? Antibiotik apa yang sudah dianggap resisten saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah (mungkin) refleksi untuk kita, para dokter. Membaca dan terus membaca perkembangan dunia medis hendaknya menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Dengan membaca kita bisa memberikan informasi lebih dalam pelayanan. 

Bagi para apoteker, permintaan obat antibiotik tanpa resep dokter hendaknya ditolak. Ini semua demi kesehatan bersama, juga demi mencegah resistensi antibiotik terhadap berbagai bakteri penyebab penyakit. 

Apoteker sebagai pengelola apotek juga harus menolak pembelian antibiotik dari kios-kios dan warung-warung sembako. Antibiotik tidak boleh dijual bebas. Penggunaan bebas antibiotik meningkatkan kekebalan bakteri. 

Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab masalah kesehatan daerah perlu turun ke lapangan untuk memantau penjualan antibiotik bebas. Toko-toko obat harus dipantau sesering mungkin untuk tidak menjual antibiotik secara bebas tanpa resep dokter. 

Perusahaan-perusahaan distribusi obat perlu juga sadar bahwa iklan-iklan penjualan antibiotik harus mematuhi etika kesehatan. Promosi-promosi manfaat antibiotik tidak boleh digunakan demi keuntungan materi semata.

Uang bisa membeli apa saja, tetapi tidak kesehatan. Keuntungan material bisa mengesampingkan kepentingan kesehatan tetapi tidak untuk jangka waktu lama. Kepentingan kemanusiaan harus diutamakan. Sebab kita semua adalah ciptaan istimewa. Kita adalah ‘gambar’ dan ‘rupa’ Yang Kuasa. 

Baca Juga: Posyandu Untuk Anjing.

Bagi masyarakat, sakit itu tidak selalu disebabkan oleh bakteri. Jadi penggunaan antibiotik dengan pemahaman sendiri, perasaan dan pengalaman harus dibuang jauh-jauh. 

Konsultasi dengan dokter adalah jalan terbaik. Para perawat dan bidan juga bisa memberikan input berarti untuk keluhan yang Anda rasakan. 

Keluhan sakit yang Anda rasakan juga tidak selalu harus meminum obat. Seperti yang sudah saya bicarakan, keluhan sakit seringkali bukanlah disebabkan oleh bakteri. Pola hidup yang tidak disiplin, tidak teratur dan tidak sehat adalah penyebabnya.

Harus juga disadari bahwa kemampuan tubuh manusia untuk menyembuhkan sakit penyakit sangat besar. Untuk menimbulkan kemampuan tersebut, tubuh kita perlu mendapat asupan gizi yang baik dan cukup beristirahat. 

Tulisan ini tidak untuk menghakimi siapa-siapa. Tetapi kita semua perlu waspada akan penggunaan antibiotik. Masa depan kesehatan kita sangat dipengaruhi akan penggunaan antibiotic yang baik dan benar.

Marilah kita bergandengan tangan, bersama-sama memerangi gempuran bakteri yang semakin ganas menyerang. Kita perlu memerangi bersama dengan cara menggunakan antibiotik yang baik dan benar. 

Gambar diambil dari sini.

3 Comments on “INILAH CARA MEMBUNUH BAKTERI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *