Di suatu waktu, seorang pastor bercerita. Nama pastor itu adalah Ndok, begitu ia biasa disapa para umatnya. Pastor itu bercerita tentang seorang pendeta. 

Sebelum mulai bercerita, ia mewanti-wanti agar para pendengarnya tidak boleh interupsi, bertanya atau mengeluarkan suara barang sedikitpun. Jika ada yang mengeluarkan suara saat pastor bercerita, ia tidak akan melanjutkan cerita itu. 

“Setuju?” Tanya pastor itu kemudian.

“Setuju!” jawab para pendengarnya. 

“Baiklah, saya mulai.” Lanjut pastor itu.

“Saudara-saudariku seiman. Hari ini saya berdiri disini, di atas altar ini untuk menyadarkan kita, bahwa selama ini kita sebagai umat kristiani telah salah mengartikan bahwa peristiwa Jalan Salib itu benar-benar terjadi di zaman Yesus orang Nazaret itu hidup. Sekali lagi saya katakan, salah!” Sambil mendehem beberapa kali, pastor itu melanjutkan.

“Jalan Salib itu muncul pertama kali hanya lewat sebuah penglihatan seorang biarawati Jerman dan kemudian menjadi tradisi serta berkembang hingga sekarang. Itu hanya sebuah penglihatan bukanlah sejarah atau kenyataan. Saya juga bisa bermimpi dan melihat. Siapa saja bisa! Sambil mengangkat muka pendeta itu menatap para umatnya yang mulai diam dan balas menatapnya penuh tanya.” Pastor berhenti sebentar sambil minum kopinya beberapa tegukkan.

“Saudara-saudariku seiman. Jalan Salib yang kita tahu, terjadi pada masa-masa seputar perayaan Paskah Yahudi. Bagi orang Yahudi, dilarang melakukan kegiatan apalagi memikul salib pada saat berlangsungnya perayaan keagamaan. Jadi, jelas bahwa Yesus yang adalah orang Yahudi dan tidak mungkin memikul salib. Tetapi, karena ia telah dijatuhi hukuman mati, maka para pasukan Romawi memaksa Simon Kirene yang aslinya berasal dari salah satu Ibu Kota wilayah Afrika Utara – Cyrenaica – yang sekarang disebut Libya, untuk memikul salib menuju Golgota. Jadi, Simon Kirene yang memikul salib, bukan Yesus. Pendeta berhenti sejenak sambil membalik halaman kertas-kertas yang ditulisnya. Menarik nafas dalam dan menelan ludah beberapa kali lalu melemparkan pandangannya sebentar ke kumpulan para pendengar yang mulai bicara sendiri-sendiri. Kemudian Pendeta itu melanjutkan.” 

“Saudara-saudariku seiman. Dalam injil-injil ditulis bahwa Yesus sendiri yang memikul salib menuju Golgota sebenarnya hanya lahir dari kreatifitas para penulis-penulis injil itu. Tujuannya untuk melawan aliran doketisme yang lahir dari aliran besar gnostik saat itu. Aliran ini memandang Yesus, bahwa Yesus tampaknya saja manusia, tetapi sebenarnya ia adalah figur ilahi yang tidak dapat menderita. Sekali lagi, pernyataan Yesus yang memikul salibnya sendiri, seperti yang dituliskan dalam injil-injil bukanlah kisah nyata, tetapi hanyalah tambahan salah satu aspek dalam teologi/kristologi injil-injil itu. Pendeta tersebut mendehem lagi sambil membalik halaman terakhir tanpa melihat lagi kepada para pendengarnya yang mulai gaduh. Dengan sisa tenaga dan waktu, pendeta meneruskan pembicaraannya untuk halaman terakhir.” Pastor tersenyum sebab belum ada interupsi dan suara dari pendengarnya. Ia melanjutkan.

“saudara-saudariku seiman, seperti yang sudah saya jelaskan bahwa peristiwa Jalan Salib itu terjadi pada masa-masa seputar Perayaan Paskah orang Yahudi. Perayaan Paskah sangat sarat motif pembebasan dari penjajahan. Jika Yesus diarak pada saat Perayaan Paskah, sementara ia adalah figur populer, ini tentu akan menimbulkan keresahan diantara Rakyat Yahudi, yang akhirnya dapat memicu kerusuhan massal. Tentu, ini akan dihindari pemerintah Romawi. Karena itu, pemerintah Romawi tentu akan membatalkan pelaksanaan Jalan Salib. Si pendeta selesai bicara.”

“Para umat gaduh. Mereka mulai ribut dengan berbicara serta mengutarakan pikiran masing-masing. Mengatasi itu, sang pendeta ingin melanjutkan kotbahnya dengan volume suara diperbesar”.

“Pendeta melanjutkan: Saudara-saudari ……”

“Tubuh pendeta itu tiba-tiba jatuh rubuh tak bergerak di atas lantai altar. Sebutir peluru telah bersarang tepat di dahinya. Darah mengucur deras dan membasahi seluruh lantai, turun kebawah menelusuri anak-anak tangga menuju tempat duduk para umat yang sejak mendengar bunyi tembakkan, diam seribu bahasa.”

Pastor Ndok puas. Sejak awal hingga akhir para pendengarnya diam dan memperhatikan. 

“Ada yang mau bertanya?” Tanya Pastor. 

Tidak ada yang menjawab. Semua diam. Kemudian satu per satu meninggalkan ruangan hingga akhirnya tersisa pastor seorang.

Kebiasaan bercerita untuk kemudian berdiskusi adalah kebiasaan Pastor Ndok. Ia tidak suka menjelaskan isi bacaan dari alkitab. Karena, menurutnya, masing-masing orang punya pengertian sendiri-sendiri. Pastor Ndok juga tidak ingin memberi nasihat kepada umatnya sebab hidup manusia masing-masing dijalani dengan masalah masing-masing. “Sia-sia dan percuma!” Begitu keyakinan sang pastor.

Tidak ada yang tahu pasti alasan kemurungan Pastor Ndok dua minggu terakhir ini. Mulai dari Hari Minggu setelah bercerita tentang kotbah seorang pendeta, semuanya berubah dan semua umat dapat melihat perubahan itu pada wajah dan tingkah lakunya.

“Sejak Hari Minggu kemarin, Pastor Ndok tidak keluar kamar lagi untuk menyiram bunga di halaman pastoran, juga tidak pernah ke gereja untuk memimpin doa bersama.” Demikian kata pembantunya.

Semua umat bertanya-tanya. Mulai dari tukang masak, para ketua kelompok, juga para ibu yang rajin ke pastoran untuk bertemu denganya untuk urusan keluarga, berdoa bersama dan seterusnya.

Wut, salah satu pembantu Pastor Ndok, keluar dari kamar sehabis membawa sarapan pagi untuk Pastor Ndok. Begitu melihat ia keluar, beberapa orang yang sudah menunggu di luar kamar langsung menyerbu dan melemparkan berpuluh-puluh pertanyaan ke muka Wut. Tetapi, kemudian Wut hanya memberi isyarat dengan menggerakkan jari telunjuknya di depan mulut agar orang-orang di situ diam dan tenang. Kemudian dengan tenang Wut mengatakan sesuatu dengan pelan sehingga orang-orang itu merapat untuk mendengar.

“Pastor ingin membuka sebuah kios kecil di depan rumah Ibu Ndus. Katanya keinginan itu sudah lama ia impikan. Tetapi, takut nanti umat tidak memberi izin.” Wut tenang menjelaskan.

“Oh, cuman itu. Ya, bolehlah. Kenapa tidak? Kita mendukung apa yang dikehendaki pastor. Lagian pastor menginginkan ini untuk membantu Ibu Ndus yang sekarang janda. Inilah tugas seorang pastor sesuai dengan pesan injil, agar membantu orang miskin. Iya, kan?” Kata salah seorang dari mereka.

“Setuju.” Timpal yang lain.

“Saya juga!” Sambung yang lain lagi.

“Kalau begitu, akan saya sampaikan kepada beliau tentang pendapat Anda-Anda sekalian.” Jelas Wut sambil meninggalkan rapat kecil itu.

Seminggu kemudian, kios pun selesai dibangun, tepat di depan rumah Ibu Ndus. Semua orang yang melihat, memuji tindakan itu. Pastor pun gembira bahwa apa yang diinginkannya sudah terlaksana. Perayaan Ekaristi hari itu begitu  meriah. Pastor memberi kotbah dari atas mimbar dengan begitu semangat sehingga hampir tidak ada orang yang mengantuk. Sehabis Perayaan Ekarisiti, semua umat bergembira, kembali seperti biasanya. 

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Sebab tiga hari kemudian, Pastor Ndok kembali bertingkah seperti sebelumya. Ia kembali murung, tidak keluar kamar. Semua orang bertanya-tanya lagi. Tidak seorangpun diizinkan masuk kamarnya, kecuali Wut. Wut diperkenankan masuk kamar pastor untuk membawa semua keperluan sang pastor.

Seperti biasa pada pagi itu, orang-orang sudah berkumpul di depan kamar pastor, menunggu kabar dari Wut yang tengah berada di dalam kamar untuk membawa sarapan. Setelah keluar kamar, Wut langsung berjalan seakan-akan tidak melihat kerumunan orang. Kemudian, salah seorang dari kerumunan itu berteriak memanggilnya.

“Wut, apa lagi yang pastor inginkan? Apa sekarang mau membuka toko?” Tanyanya dengan suara tinggi.

Sambil membalikkan badan dan menjulurkan jari telunjuk di depan bibirnya, Wut berbicara.

“Pastor tidak bicara apa-apa. Di dalam kamarnya hanya ada sebuah surat. Katanya pastor sekarang telah berada di Manado untuk melangsungkan perkawinan dengan Ibu Ndus. Umat diminta mendoakan agar perkawinan mereka bahagia dan cepat punya momongan. Sebab Pastor Ndok ingin sekali punya anak.” Kerumunan orang diam dan saling menatap satu sama lain.

Karot, Januari 2019

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *