Pembacaan atas novel Meredam Dendam karya Gerson Poyk

Membuat sebuah tulisan atas pembacaan novel Meredam Dendam karya Gerson Poyk adalah tugas saya kali ini. Tugas ini adalah tugas bergilir yang saya dan teman-teman lakukan di Petra Book Club.

Yang ingin saya tuliskan banyak hal. Bermula dari pengalaman awal melihat cover depan dan belakang novel ini.

Cover depan bergambar dua wajah yang sedang berteriak keras. Seandainya suaranya terdengar pasti akan terdengar hebat. Jika pun suara itu tak terdengar terkesan suatu gejolak perasaan yang ingin dilampiaskan secara hebat pula ditambah warna latar merah hitam khas kemarahan serta kedukaan.

Cover belakang adalah tulisan penulis sendiri yang melukiskan bagaimana novel ini lahir. 

“Saat menghadapi kertas putih untuk memulai menulis saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Begitu kalimat pertama terekam, mengalirlah ribuan kalimat lain yang melukiskan tata kehidupan ini. Tak henti-hentinya kalimat itu datang di sepanjang malam kerja mengarang.”

Setelah membaca paragraf pertama pada cover belakang novel ini langsung saja naluri ingin membaca ribuan kalimat tersebut muncul berdesakan. Walaupun masih tersisa tiga paragraf lain otak saya tak menggubrisnya lagi.

Begitu membalik dua lembar yang berisi halaman judul dan halaman Hak Cipta langsung saja ribuan kalimat tersebut menyerbu bagai lebah hendak menyerang mangsanya. Tidak dengan aba-aba berupa judul bab ataupun dengan sebuah persiapan berupa judul kecil, kisah novel itu bermula dengan kata “Akhirnya………”.

Untuk lebih memudahkan saya dalam menjelaskan banyak hal menarik dalam novel ini perlulah saya meringkas kisahnya.

Tokoh utama kisah ini adalah Da’i (hal.134). Seorang pria kelahiran Pulau Rote-NTT, yang gagal menjadi seorang pendeta karena terlibat adu fisik dengan polisi di daerahnya. Kemudian ia kawin dengan wanita sekampungnya dan bekerja pada sebuah mercusuar di Pulau Komodo.

Akibat kapal yang biasanya membawa makanan dan kebutuhan sehari-hari untuk Da’i dan istrinya tenggelam, maka Da’i pun menyeberang ke pulau tetangga guna mengambil bahan makanan. Tetapi, saat akan pulang, hujan badai datang sehingga Da’i harus bertahan disebuah pulau terdekat selama tiga hari. Sesampainya ia di rumah, ternyata istrinya dan janin dalam kandungan istrinya sudah meninggal akibat tersambar petir.

Perjalanan hidup selanjutnya ia pulang ke kampung halaman untuk menjadi nelayan. Berkenalan dengan seorang wanita Tionghoa yang ternyata adalah “ratu penyelundup” (menjual monyet, ular, bayi ke luar Indonesia), Da’i pun terlibat penuh dalam bisnis tersebut dan menikahinya.

Karena pertentangan batin yang hebat dengan pekerjaan yang dilakoninya, Da’i pun bercerai dengan Kim, wanita Tionghoa tersebut, dan memilih seorang mantan pramugari asal Pulau Rote sebagai tambatan hati terakhirnya. Demikian kira-kira kisah hidup tokoh utama ini.

Kisah besar dalam novel ini, hemat saya adalah halangan dan rintangan yang berkali-kali menghampiri tokoh utama sehingga menyebabkan kegalauan sungguh dalam batinnya yang dalam bahasa Gerson adalah dendam.

Dendam menjadi sebuah pertanyaan yang tak habis-habisnya muncul dalam benak dan batin. Dendam selalu mengekor Da’i di setiap waktu, tempat dan kisah hidupnya. Dendam selalu menuntut pelampiasan. Sebagai manusia, kemana ia menuntut? Kepada Allah, kepada alam, kepada sesama, atau kepada matahari dan rumput yang bergoyang?

Kisah pertama yang menimbulkan kegalauan sungguh itu adalah saat istrinya dan janin dalam kandungan istrinya meninggal ketika ia pergi mencari makanan dan tidak bisa pulang ke rumahnya: sebuah mercusuar di atas gumpalan karang yang menyembul (hal.4). Setibanya, ia mendapatkan istri dan anaknya sudah meninggal akibat sengatan petir. Siapa yang harus disalahkan? Kemana dendam harus dilampiaskan? 

Kisah kedua juga menimbulkan dendam mendalam yang sebenarnya adalah kisah masa kecilnya saat sepupunya diperkosa oleh seorang turunan bangsawan di depan matanya. Kemanakah ia harus marah? Kemana dendam harus dilampiaskan? Tentu objek pelampiasan itu adalah pemerkosa sepupunya tetapi, ia hanyalah seorang anak kecil dan lagi pemerkosa itu seorang bangsawan. 

Kisah ketiga adalah saat Da’i begitu jatuh cinta dengan seorang Gadis Rote yang berambut lurus terpotong pendek, berkulit halus kekuningan (hal.31). Ternyata gadis ini adalah keponakan orang yang telah memperkosa sepupu Da’i. Membuka luka lama yang terpendam. Dendam muncul kembali. Apakah harus berdamai dengan dendam masa lalu? Atau melanjutkan perjalanan dan melupakan dendam? Akhirnya Da’i memutuskan melampiaskan dendam dalam bentuk membuat tato bergambar wajah pemerkosa sepupunya pada kulit halus kekuningan: Vina. Selesaikah dendam itu?

Gerson memang pandai bercerita mengenai kegalauan hati manusia. Mengenai dendam tidak hanya sampai berhenti pada tiga kisah diatas. Secara estafet ia melanjutkan kisah kegalauan tersebut lewat pertentangan batin Da’i ketika menikah dengan Kim sang Ratu Penyelundup. 

“Aku dikejar-kejar oleh rasa bersalah yang parah dalam diriku karena selama hidup bersama Kim, aku menjadi seorang penyelundup sejati.”(hal.17). 

Terlihat jelas bahwa pekerjaan yang dilakoni Da’i sangat bertolak belakang dengan latar pendidikan, latar budaya bahkan latar ekonominya. Da’i belajar dalam pendidikan untuk menjadi seorang pendeta-sekolah teologi. Yang sama-sama kita tahu tidak pernah dididik untuk belajar ilmu Manajemen dan Bahasa Inggris (hal.15) untuk mengurus bisnis penyelundupan barang ilegal.

Latar budaya Da’i mengajarkan bahwa untuk mencari uang tidak ada jalan lain selain mengambil sampan dan kail untuk memancing ikan kemudian menjualnya.

Dengan demikian, bersama Kim memang membuat Da’i kaya raya, tetapi batin tak dapat dipungkiri menyimpan banyak pertentangan. Ini pun hemat saya kalau ditinjau bahasa Gerson adalah sebuah dendam. Dendam terhadap keadaan tata kehidupan ini.

Hal lain yang mungkin masih bisa saya kategorikan ke dalam suasana dendam versi Gerson adalah saat ketika Da’i sedang berlibur dan melihat seorang tahanan yang lari dari sel tetapi segera ditangkap dan ditarik bagaikan kerbau, kemudian digebuk, dipecut dengan tali yang terbuat dari kulit kerbau sehingga akhirnya Da’i menyaksikan bola mata tahanan itu tercungkil akibat kebuasan sang polisi. Tontonan yang sangat tidak manusiawi. 

“……tiba-tiba saja hilang keseimbangan jiwa……….”. (Hal. 4). Kemana harus mengadu kalau orang yang seharusnya memberikan teladan dan melindungi manusia yang lemah berbuat sedemikian sadisnya? “Maka aku mengantarkan bola ke dadanya bersama kakiku.” (Hal.4)

Kira-kira itulah lima gambaran kegalauan hati manusia yang sering kali menjadi sebuah dendam. Dendam yang ditampilkan dalam novel ini membuat kita bertanya-tanya kemudian, kira-kira apa jalan keluar yang ditawarkan Gerson?

Gerson menawarkan jalan “seni” untuk melupakan dendam. Melukis dan bermusik adalah salah satunya. (Hal.185). Kemudian Gerson menambahkan “Harus banyak membaca buku, banyak mendengarkan, lalu banyak menulis, merenung, menghasilkan karya berupa puisi, cerpen, novel, esei, laporan desa dan sebagainya, drama, skenario film….”. (Hal.213). 

Itulah jalan keluar atau salah satu cara meredam dendam ala Gerson. Untuk lebih menegaskan lagi ide Gerson, ia menuliskan satu paragraf yang indah. Mari kita simak bersama.

“Inilah kita merejam dendam terhadap penderitaan. Buat apa dendam dan balas dendam dengan merusak diri sendiri dan orang lain. Inilah caranya kita menghilangkan ratap tangis atas korban kebodohan dan kemiskinan. Dari menjual karangan antara lain berupa feature, cerpen, sampai menulis novel dan skenario, adalah perjalanan kita dalam abad informasi.”

Ruteng, 13 Juni 2014

3 Comments on “KEGALAUAN YANG LANGGENG (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *