Pembacaan atas novel Meredam Dendam karya Gerson Poyk.

Membaca sebuah karya sastra adalah menikmati keindahan. Keindahan dari tata susunan huruf sehingga menghasilkan sebuah kata dengan bunyi yang indah.

Keindahan atas berbagai struktur kata yang membentuk sebuah kalimat sehingga kita mendapatkan informasi yang kaya atas berbagai aspek kehidupan.

Keindahan atas tata letak sebuah tanda baca yang menuntun pembaca untuk tenggelam dalam irama serta suasana batin yang hendak disuguhkan oleh penulis. Dan yang terakhir adalah keindahan sebuah logika alias nalar sebuah narasi dalam karya sastra tersebut.

Dalam pengalaman membaca Meredam Dendam, analogi dalam benak saya mengatakan bahwa karya ini lahir prematur. Seluruh organ pembentuk tubuh karya ini sudah tumbuh dengan baik. Tetapi pertumbuhan itu tidak atau belum mencapai pertumbuhan yang optimal untuk dilahirkan sebagai karya yang baik.

Mungkin saja penulis terlalu cepat menyerahkan karya ini kepada penerbit, lalu kemudian penerbit juga lebih cepat lagi mencetaknya menjadi sebuah buku, tanpa melalui suatu evaluasi atau sebuah proses pengeditan yang mumpuni. 

Dapat dipahami, mengapa (jika memang benar) penulis terkesan tidak terlalu memperhatikan kesalahan-kesalahan penulisan kata, letak tanda baca dan bahkan logika narasi, karena (mungkin) menurut penulis itu urusan bagian penerbitan yang memiliki editor bahasa.

Tugas penulis adalah merampungkan karyanya dan diserahkan ke penerbit sesuai dengan batas waktu yang disepakati bersama. Titik. Lewat biodata singkat di akhir novel ini, kita mengetahui bahwa tahun 2009 adalah tahun paling produktif penulis ini.

Ia melahirkan lima buah novel sekaligus: Sang Sutradara dan Wartawati Burung, Tarian Ombak, Enu Molas di Lembah Lingko, Meredam Dendam, Seruling Tulang. Ini berarti kurang lebih dua bulan sebuah novel rampung dikerjakannya. Ya, menurut saya dalam waktu dua bulan itu, menulis sambil mengedit karya tersebut merupakan sebuah pekerjaan yang maha berat. Sehingga sangat beralasan jika proses pengeditan itu harus dibantu oleh pihak penerbitan. Apalagi jika penulisan ke lima novel ini adalah sebuah proyek penerbit itu sendiri. 

Mengapa kesalahan-kesalahan teknis seperti yang saya ungkapkan di atas menjadi sebuah masalah? Karena hal itu membuat pembaca tyda menikmati keindahan dalam karya sastra.

Kata penghubung “dan” sejauh yang dapat saya temukan, terjadi kesalahan penulisan sebanyak dua puluh lima kali. sebagian besar seharusnya tertulis “dari” bukan “dan”. Kesalahan-kesalahan itu saya tuliskan halaman-halamannya saja agar lebih singkat: hal. 23, 32, 32, 57, 59, 84, 84, 90, 90, 92, 109, 124, 125, 138, 144, 158, 216, 217, 225, 230, 245, 248, 257, 261, 286. Masih sejalan dengan kesalahan penulisan kata, saya suguhkan kata-kata lain yang mengalami nasib yang sama dalam tabel dibawah ini.

Yang TertulisHalamanSeharusnya
Segala itu seluruhnya1Memilih salah satu: segala itu atau seluruhnya
Milyader2Miliarder
Ditabiskan3Ditahbiskan
Memandang mercu itu malam-malam ketika hujan8Memandang mercu itu malam ketika hujan
Berapa8Betapa
Memancing ikan malam-malam11Memancing ikan malam hari
Calok16Calo
Serba20Serta
Demi untuk25,95,129,193,250Memakai salah satu: demi atau untuk
Geger30Gegar
Pramugari udara31Pramugari
Mah47Mag
Petit56Petir
Empar58Emper
Sempuma75Sempurna
Saling licik-melicik75Saling licik
Geronga79Gerongga
kamar tamu dan kamar tidur serta garasi, juga sebuah kamar tidur80Kamar tamu dan kamar tidur serta garasi.
Idolatri83Mengidolakan
yaitu anggur dan buah anggur dari anggur dari sirop dan gula lontar90yaitu anggur dari buah anggur dan anggur dari sirop dan gula lontar
Konperensi104Konferensi
Mistri105 dan 271Misteri
Sualnya117Soalnya
Rumabnya129Rumahnya
Terampas130Terempas
Gunita131Gurita
Issteri133Istri
Kuatir139Khawatir
Tau-tau139Tahu-tahu
Turis139 (3x)Tulis
Pulau-pula140Pulau-pulau
Pemesin cetak mini142Mesin cetak mini
Berbunuhan145Berbunuh-bunuhan
“Bersedia.” kata Margaret151“Bersedia.” Kata Dayu Minarti
Ikan emas153Ikan mas
Ketaka158Ketika
Almarhum168Almarhumah
Pasen174Pasien
Rembrat185Rembrandt
Lampu-lainpu187Lampu-lampu
Pertemuam196Pertemuan
Tersia212Tersiksa
Depan216Delapan
….sudah kuliah,” kata Kim.232….sudah kuliah,” kata Lilian.
Kartu narna236Kartu nama
Bibinya241Bibirnya
Pemacar244Banyak pacar
Cook255Koki
Era videosfer260?
Beruntung sekali-sekali265Beruntung sekali
Kenyerian275Kengerian
Besa281Bisa
Kordin287Korden

Itu adalah sajian beberapa kata yang mengalami salah pengetikkan. Selain itu kesalahan penempatan tanda baca dan pemakaian huruf kapital yang akan mengganggu jalannya proses kenikmatan membaca karya ini saya sajikan di bawah ini. Mari kita lihat bersama:

Yang TertulisHalamanSeharusnya
Apalagi? Tubuhnya …..5Apalagi tubuhnya…….
di mana, Maka tidak …..11di mana, maka tidak….
yang kecil itu,,11Yang kecil itu,
Kecuali direjam dengan es batu walaupun….35Kecuali direjam dengan es batu. Walaupun….
pohon lontar..90pohon lontar.
Bangun pada jam sebelas pagi95Bangun pada jam sebelas siang
Bayi-bayi kita …..121“Bayi-bayi kita …..
Banyuwangi Kayu cendana ….141Banyuwangi. Kayu cendana….
kota-kota Indonesia Untuk mulusnya…148kota-kota Indonesia. Untuk mulusnya…
insinyur pertanian Anak tiri…..158insinyur pertanian. Anak tiri…….
pada pemerintah Semuanya memimpin…158pada pemerintah. Semuanya memimpin…
saudara saya Ada juga yang….206saudara saya. Ada juga yang….
tentara pemberontak Karena di sekitar….167Tentara pemberontak. Karena di sekitar….
akan dinilai Saya ingin membangun….206akan dinilai. Saya ingin membangun….
dari hati ke hati Akhirnya dalam…..210dari hati ke hati. Akhirnya dalam……

Ada hal lain lagi yang dalam istilah saya adalah nalar narasi. Nalar narasi itu penting sekali dalam keseluruhan kisah yang ingin disampaikan. Jika nalar narasi itu tidak sesuai dengan logika maka runtuhlah kisah yang ingin disampaikan. Mari kita lihat satu per satu.

“Pada suatu dinihari ketika pesawat mulai bergerak seorang wanita yang sedang hamil berat berlari ke depan pesawat dan dengan keberanian seorang wanita yang putus asa menertibkan suaminya yang suka mempermainkan pramugari, ia berdiri membusungkan perutnya. Sang pilot, suaminya, membelalak lalu mematikan mesin. Waktu jendela dibuka dan sang pilot keluar dari pesawat untuk menjemput istrinya yang sedang mengandung berat itu, sang istri menjadi histeris.”(Hal.31)

Inilah yang saya katakan bahwa nalar narasi itu haruslah tepat dibangun dan meyakinkan kita para pembacanya. Seturut logika saya, tidak pernah dan tidak akan pernah ada kejadian seperti diatas sebab kejadian itu bukanlah di terminal bus melainkan di sebuah airport. Berikutnya.

“Aku ingin menanam sebanyak-banyaknya pohon lontar di atas tanah yang luas itu. Siropnya atau juga gula yang berasal dari sirop yang disebut nira itu akan kujadikan anggur. Ya, anggur untuk diekspor nanti.”(Hal.90)

Sama seperti alasan saya diatas mengenai nalar narasi, tidak akan mungkin nira akan berubah menjadi anggur kecuali dari buah anggur. Berikutnya lagi.

“Maka anak muda itu hidup bersama empat orang adiknya sebagai yatim piatu.” (Hal.65)

“Dari empat saudara perempuannya, dua menjadi janda kemudian menjadi hostes (tetapi kepada tetangga mereka mengatakn bekerja di restoran) dan dua kawin dengan tukang jahit. Dua adik lelakinya menjadi sopir.” (Hal.66)

Tidak konsisten dengan apa yang ditulis juga akan meruntuhkan kisah yang sudah dibangun susah payah sebab nalar narasi menjadi tidak akurat lagi. Sama pula dengan kutipan dibawah ini lagi.

“Dua pembantu yang dipesan Kim datang diantar oleh sepuluh calo pembantu. Semuanya seram-seram tetapi begitu Kim memberi uang tebusan dan ongkos kendaraan, keempatnya pergi meninggalkan dua pembantu itu.”(Hal.104).

Nah, enam orang calo itu kemana?

Demikianlah apresiasi saya mengenai Meredam Dendam. Saya bukanlah seorang ahli bahasa atau pun sastrawan. Saya hanyalah seorang penikmat karya-karya sastra yang ingin menemukan keindahan-keindahan dalam setiap kata dan kalimat.

Karena apresiasi sastra itu bersifat personal, dan karena novel ini fiktif, tidak ada satu pun interpretasi yang benar secara mutlak dan tidak ada satu pun apresiasi yang harus dianggap paling baik.

Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini hanyalah memberikan kesempatan kepada kita semua sebagai pembaca sastra untuk belajar membangun semangat membaca. Tidak lebih.

Sebab membaca dan mengekspresikan interpretasi yang berbeda-beda mengenai karya sastra memberi kita kesempatan untuk belajar mengenal pikiran dan perasaan orang lain tanpa dibayang-bayangi kewajiban menemukan sesuatu kebenaran mutlak.

Mengekspresikan interpretasi dan apresiasi sastra lalu menjadikannya aktivitas intelektual yang demokratis adalah tujuan akhirnya. Semoga.

Ruteng, 13 Juni 2014

One Comment on “KEGALAUAN YANG LANGGENG (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *