Arti kata Lengking

Membaca judul novel ini membuat saya mengerutkan dahi. Apakah burung kasuari yang tingginya dapat mencapai 2 meter dan beratnya kurang lebih 50 kilogram itu dapat mengeluarkan bunyi lengking?

Lengking, oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai bunyi nyaring dan keras, biasanya tentang suara jeritan manusia atau hewan. Lebih lanjut KBBI mengatakan lengking adalah bunyi nyaring dan keras dari peluit dan sebagainya. Apakah bunyi burung kasuari seperti bunyi peluit? Saya tidak yakin.

Dalam ketidakyakinan, langsung saya terbayang tokoh Mat Dawuk dalam diskusi novel sebelumnya: Dawuk karya Mahfud Ikhwan. 

Dawuk bagi saya adalah “Rambo”nya Indonesia. Postur atau bentuk tubuh Mat Dawuk adalah Sylvester Stallone. Tentu saja badannya, bukan wajahnya. 

Dengan gambaran Mat Dawuk yang sama dengan Rambo, sukar bagi saya jika mendapatkan bahwa ternyata ia lemah gemulai, bicara dengan suara halus dan lebih membawa sifat-sifat feminim. Itu sangat menganggu. 

Maksud saya, gambaran tentang sesuatu harus meyakinkan pembaca. Jika tidak, bacaan itu pasti ditinggalkan. 

Kembali ke masalah lengking. Karena tidak yakin kasuari dapat mengeluarkan lengking yang mirip pluit, saya menelusuri bacaan lain.

Begini tulisan itu“…the dwarf cassowary and southern cassowary produce very-low frequency sounds, which may aid in communication in dense rainforest. The “boom” vocalization that cassowaries produce is the lowest frequency bird-call known and is at the lower limit of human hearing”.

Nah, saya puas. Puas karena keyakinan saya benar. Kasuari tidak mengeluarkan suara seperti peluit, yang artinya tindak melengking. 

Hal kecil seperti ini perlu saya tuliskan karena mengganggu perjalanan membaca. Dengan adanya gangguan ini, besar kemungkinan saya tidak akan sampai di halaman akhir novel.

Gangguan yang saya maksudkan di atas adalah: ketidakmampuan judul meyakinkan pembaca. Memang betul, meyakinkan seluruh pembaca adalah mustahil. Tetapi, kurang lebih begitulah bagi saya.

Menjadi Pembaca

Menjadi pembaca adalah hal yang paling indah di dunia. Pembaca bisa memilih bacaan sesuai dengan seleranya. Setelah mencoba baca beberapa halaman, jika ternyata tidak bagus, dapat ditinggalkan sesuka hati. 

Jika telah tuntas membaca, pembaca bisa mengomentari apa saja tentang sebuah buku termasuk pengarangnya. Dan itu perlu serta sah.

Tanpa pembaca, siapa yang akan membeli bukunya? Dan siapa yang akan membacanya? Pokoknya, jadi pembaca itu indah.

Klimaks yang datar

Selama membaca novel ini, saya kembali terbayang satu novel berjudul The Road karya penulis Amerika, Cormac McCarthy. 

Lengking Burung Kasuari mempunyai kemiripan dengan The Road dalam hal kisah yang tanpa klimaks. Rasanya kedua novel ini tidak ada sesuatu hal penting yang ingin diceritakan. Datar. 

The Road mengisahkan seorang ayah dan anak laki-lakinya yang berjalan dari rumah menuju laut untuk menghindari musim dingin. Seting waktunya adalah setelah masa apokaliptik.

Tidak ada orang atau tokoh lain dalam novel The Road itu. Hanya mereka berdua: ayah dan anak. Dari awal sampai akhir novel hanya mereka berdua yang bicara. 

Lengking Burung Kasuari persis seperti itu. Datar. Penulis hanya mengisahkan kisah masa kecilnya di Papua. Tidak ada yang terlalu istimewa. 

Saat membaca sampai di halaman 203, saya berprasangka bahwa inilah klimaks cerita ini. Kisahnya tentang Tante Tamb yang berselingkuh dengan seorang laki-laki. Eh, ternyata kisah itu juga datar-datar saja. Seakan-akan penulis memang merancang seperti itu. 

Yang buat saya mengerutkan dahi untuk kedua kalinya adalah The Road adalah pemenang Pulitzer Prize for Fiction tahun 2007, sedangkan Lengking Burung Kasuari pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016. Ya, para penulis mempunyai rezeki masing-masing.

Burung Kasuari

Sejak ditunjuk sebagai pemantik diskusi novel Lengking Burung Kasuari, saya berpikir keras. Hal apa kiranya yang dapat mengundang diskusi nanti?

Saya mulai dari judul: Lengking Burung Kasuari. Tentang kata lengking sudah saya bahas di awal tulisan ini. Sekarang tentang burung kasuari.

Apa peran burung kasuari dalam kisah ini? Pentingkah si burung kasuari ini? Apa hubungan burung kasuari ini dengan tokoh-tokoh di dalamnya? Apakah burung kasuari ini akan dipersonafikasi oleh penulis seperti Ratih Kumala dengan wesel pos?

Beberapa pertanyaan itu memantik minat saya untuk terus masuk ke dalam kisah Nunuk Y. Kusmiana. Apa yang ingin kamu ceritakan tentang seekor burung kasuari?

Hasil telusuran saya seperti ini:

Tentang burung kasuari, pertama kali muncul di halaman 24, paragraf ke tiga: “Itu burung kasuari.”

Pada halaman 46, “Sendy tak mengindahkan lengking burung kasuari.”

Halaman 70, “Si kasuari muncul dengan lengkingan khasnya dan menerjang ke arahku.”

Halaman 72, “….dan lengking burung kasuari memekakkan telingaku. Si kasuari memburuku.”

Halaman 92: “jangan ke sana. Nanti dipatuk kasuari,” 

“Kasuari tidak pernah mematukku.”

Halaman 107: “Kasuari milik Sendy memang menakjubkan, tubuhnya tinggi besar, berkaki panjang, dan bulu-bulunya terlihat kasar.”

“Kasuarimu tidak akan pernah punya anak, tahu.”

Halaman 223, “Kasuari bediri tegak di sisi kandang terjauh dan balik menatap ke arahku……”

Dari semua hal tentang burung kasuari dalam novel ini – menurut saya – tidak ada sesuatu pun yang luar biasa. Kalau begitu, apa istimewanya kehadiran burung ini sampai digunakan sebagai judul? 

Menjawab rasa kegalauan, saya mengambil kesimpulan bahwa mungkin saja kehadiran burung kasuari ini mempunyai arti tersendiri bagi sang penulis dan hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Bisa juga penulis ingin memberi informasi bahwa latar novel ini adalah di Tanah Papua. Sampai di sini, saya tiba-tiba menyadari bahwa bukan hanya pembaca yang mempunyai hak istimewa. Ternyata penulis juga demikian.

“Saya mau menulis seperti itu, lalu kamu bisa apa?” Kurang lebih begitu suara hati saya berbicara.

Kisah dalam novel adalah budaya Indonesia

Cerita usang tentang tukang potong kep(ala) menjadi gosip yang menarik pada awal novel ini. Ditambah kisah sejenis yakni wewe gombel menjadikan masa kecil anak-anak di Indonesia penuh ketakutan.

Tukang potong kep(ala) mencari anak-anak yang berambut lurus untuk ditaruh dibawah jembatan. Anak-anak tidak boleh bermain sampai sore di luar rumah. Maksudnya baik, tetapi membentuk watak anak yang selalu ketakutan.

Takut menghadapi ujian, takut berbicara di depan kelas, takut bertanya, takut menulis cerita, takut bekerja, dan yang paling parah adalah takut untuk menikah. Apa jadinya kalau generasi penerus bangsa ini berwatak ketakutan?

Hal terakhir dan menarik bagi saya adalah tentang gizi untuk ibu hamil. Saya kutip begini:

“…….Mbah Putri menyuruh ibu untuk tak mengonsumsi telur ayam. Karena akan membuat bayinya lahir bulat. Ibu dilarang memakan daging ayam juga karena akan membuat bayinya terlahir dengan tubuh berbau amis. Susu juga tidak boleh diminum karena akan membuat bayinya berbau amis juga. Lebih dari itu, ibu dilarang makan terlalu banyak nasi karena khawatir bayinya akan besar di dalam perut yang mengakibatkan sulit dilahirkan.” (Hal.120)

Salah satu penyebab tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah gizi yang kurang. Mengapa negara Indonesia yang terkenal besar sumber daya alamnya mengalami gizi kurang (buruk)?

Dari novel ini saya temukan jawabannya: budaya kita lebih mengajarkan ketakutan daripada berpikir logis. Sekian dan terima kasih.

Catatan:

Apakah Anda sudah pernah membaca cerita Gadis Korek Api dan Cinderella? Jika belum, bacalah!

Karot, 14 Januari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *