Hari ini saya ingin menulis tentang LGBT dan Ahmadiyah. Ide tentang itu muncul ketika selesai membaca novel Anak Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman, karya Ahmad Mustafa.

Novel ini bercerita tentang seorang waria yang kemudian bertobat dan menjadi pengikut Ahmadiyah. Ini kisah nyata yang ditulis dengan gaya bahasa fiksi. Sangat enak dibaca. 

Penulis, menurut saya, sangat cerdas memainkan isu yang relatif sensitif ini dalam novelnya. Tidak serta merta menyodorkan begitu saja kedua isu itu di awal-awal cerita. 

Penulis memulai cerita dengan sangat halus, membawa para pembaca masuk perlahan-lahan ke dalam inti cerita. Hikayat seekor babi (hutan) adalah gambaran awal novel ini. Mengapa pakai binatang yang satu ini? 

Hasil renungan saya, binatang ini dipakai karena bisa disinggung kemana-mana. Bisa disinggung ke arah agama, karena tidak semua agama membolehkan memakan dagingnya. Bisa dipakai untuk menggambarkan sifat manusia yang terkadang sama dengan perilaku binatang ini. Bisa juga dibawa ke diskusi politik, budaya, ekonomi dan lain-lain. Pokoknya, penulis tentu sudah memikirkan matang-matang tentang itu. 

Kisah binatang itu berbarengan dengan kisah perang dari epos Mahabarata yang telah di poles sedemikian indah untuk membawa pembaca masuk ke dalam dunia Ahmadiyah. 

Kedua kisah awal itu seperti gerbang indah untuk memasuki kisah yang ingin disampaikan: kehidupan waria dan Ahmadiyah. Jika novel ini dibuka tanpa kedua kisah awal, saya yakin banyak protes yang datang silih berganti dan tentu novelnya tidak akan menang pada sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. 

Inti kisah yang ingin diceritakan oleh penulis adalah kehidupan dua tokoh: Rara Wilis dan Pak Suko. Perjalanan kisah hidup kedua tokoh ini berjalan berdampingan, silih berganti.

Rara Wilis adalah seorang waria. Kisah hidupnya yang diangkat penulis sangat elegan. Elegan itu maksudnya cocok dan pas. Tidak berlebihan, tidak juga kurang. 

Sebagai seorang waria yang biasa kita temukan di lingkungan kita, begitulah penggambarannya. Make up, busana, cara bicara dan pola pikir yang dideskripsikan oleh penulis terasa akurat dan meyakinkan.

Pak Suko yang adalah penjual jamu keliling juga terkesan sangat alami digambarkan oleh penulis. Dengan sepedanya ia berjualan dan tahu persis tempat-tempat mana yang harus dilewati dan pada jam berapa jamunya laris terjual. 

“Pada Jumat siang yang gerah di pertengahan tahun 1994, Mbok Wilis memakai sepatu tumit tinggi untuk bertemu dengan seorang nabi.”

Itu adalah kalimat pembuka novel ini. Kalimat ini bergema terus di hati saya. Bertemu nabi? Bukannya nabi itu adalah kisah pada zaman dahulu yang sering tertulis di dalam kitab suci? Pasti Mbok Wilis ini mengalami gangguan jiwa. 

Bayangan saya saat membaca kalimat pertama itu adalah seperti seseorang mengatakan: “Saya memakai baju terbaik untuk bertemu Presiden Soekarno.” Sudah jelas-jelas presiden kita itu telah wafat. Jelas saja orang yang mengatakan itu adalah orang gangguan jiwa. 

Namun, akhirnya saya mengetahui bahwa nabi yang ingin ditemui oleh Rara Wilis adalah nabi yang dijanjikan oleh ajaran kepercayaannya. Apakah ia salah? Susah sekali menjawab pertanyaan ini. 

Guru agama saya dulu mengajarkan bahwa dalam memahami ajaran agama tidak bisa selalu memakai logika sederhana. Sebab, Yang Kuasa melampaui segalanya. Melampaui segala yang bisa kita pikirkan. 

Ambil saja kisah penciptaan manusia dan dunia tempat kita tinggal ini. Apakah itu bisa dinalar dengan akal sehat seorang manusia? Bagaimana mungkin semuanya itu diciptakan dalam 7 hari?

Yang penting adalah cara menjalankan kehidupan ini. Entah dunia dan segala isinya benar diciptakan dalam tujuh hari atau bukan, tidak menjadi penting lagi. 

Menjadi waria itu pilihan hidup. Sama seperti kita memilih baju yang akan dipakai setiap hari. Tidak ada yang salah dengan itu. 

Memilih memakai baju batik setiap hari kamis dan bukan baju berwarna putih adalah pilihan masing-masing orang. Perlukah kita mengatakan mereka salah sebab kita memakai baju warna putih bukan batik pada hari kamis? 

Saat membaca novel ini, saya teringat tokoh Arthur Less dalam novel Less karya Andrew Sean Gear yang memenangkan pulitzer prize 2018. Arthur adalah seorang gay. Ia begitu kecewa ketika pacarnya memberi kabar akan menikah dengan orang lain. 

Kekecewaannya digambarkan begitu mendalam. Saya yang membacanya sampai harus membalik-balik lagi halaman yang telah lewat hanya untuk memastikan bahwa itu adalah hubungan antara laki-laki dengan laki-laki, bukan sebaliknya. Apakah Arthur salah? Tidak mudah menjawabnya.

Tentang aliran-aliran kepercayaan yang ada di sekitar kita. Apakah yang tidak sekeyakinan dengan kita adalah salah? Kepercayaan kita paling benar?

Daripada memikirkan jawaban yang sukar-sukar, lebih baik kita ambil jalan yang lebih nyata: berbuat baiklah kepada semua orang. Tidak perlu melihat suku, agama, ras, golongan dan jenis kelamin.

Yang jahat hatinya akan tetap jahat walaupun ia beragama. Apakah agama yang kita yakini sekarang ini telah membuat hidup lebih bahagia? 

Semua manusia yang hidup di dunia ini tentu pernah mengalami masa-masa sulit. Rara Wilis yang memilih menjadi waria juga punya tantangan yang luar biasa. Selama mencari nafkah dengan cara nyebong, ia dikejar-kejar polisi pamong praja yang bertindak seakan-akan mereka adalah Tuhan yang berhak memberi hukuman bagi manusia yang bersalah.

Sudah benarkah jalan dan cara hidup kita sendiri? Para waria menjual tubuh mereka kepada siapa saja yang datang. Orang-orang yang merasa benar, mencuri uang negara lewat cara korupsi. Mana yang lebih baik?Mudah-mudahan, Anda bisa menjawabnya.

Dari kecil kita diajarkan cara berdoa, memahami tradisi agama, mengetahui cerita-cerita dalam kitab suci. Saat sudah besar, kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Kemudian kita mengatakan bahwa mereka berdosa karena perbedaan itu. Apakah benar seperti itu?

Di suatu hari, saat melayat ke rumah duka, saya dan seorang teman diajak menyantap hidangan makan malam yang disediakan keluarga berduka. Bagi saya, itu adalah ucapan terima kasih dari keluarga berduka atas kedatangan kami.

Namun, teman saya tidak ikut mengambil makan. Saat pulang dari rumah duka, saya bertanya kepada teman saya itu: “Kenapa kamu tidak ikut makan?”

“Sejak berusia 12 tahun, saya dilarang oleh ibu untuk menyantap hidangan makanan di rumah duka. Jika saya langgar pesan itu, maka salah satu keluarga dekat akan sakit dan bahkan bisa meninggal.” Jelasnya. 

Mendengar itu saya sedikit heran, namun diam saja. Perlukah saya menjaga jarak pertemanan dengan orang seperti ini? Perlukah saya mencapnya sebagai orang yang beraliran sesat? 

Jika dilihat dari lamanya pertemanan kami, saya tidak akan melakukan hal-hal yang akan menyakitinya. Susah dan senang, kami pernah bersama. Saya pernah membantunya sesekali, ia pernah membantu saya dengan jumlah yang tak terhingga. 

Perlukah saya menjauhi dia karena perbedaan kepercayaan? Ia tetap sahabat sejati saya. Apa pun yang terjadi. Nilai kemanusiaan harus di atas segala-galanya. Bukan yang lain. Semoga.

Karot, 24 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.