Pembacaan atas novel “Lelaki Harimau” Karya Eka Kurniawan

Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis” adalah buku Eka Kurniawan yang saya baca pertama kali. Dari buku itu kemudian saya menjadi suka sekali dengan tulisan-tulisan dalam buku-buku Eka selanjutnya.

Apa yang membuat tulisannya menarik? Eka benar-benar belajar bagaimana menulis untuk menghasilkan tulisan yang baik dan manarik pembaca untuk membaca bukunya sampai halaman terakhir.

Menghasilkan Tulisan yang baik tentulah harus didukung dengan membaca bacaan yang baik pula. Nah, seperti itu juga yang Eka lakukan untuk novel “Lelaki Harimau” ini.

Novel ini menceritakan seorang bocah bernama Margio yang pada suatu sore yang naas, membunuh Anwar Sadat dengan menggigit leher Anwar Sadat sampai darah mengucur dan akhirnya meninggal kehabisan darah.

,Dari sudut pembaca, itulah akhir atau klimaksnya novel Lelaki Harimau ini, tetapi mengapa saya (pembaca) tetap terus dan terus membuka halaman selanjutnya? Itulah kepiawaian seorang Eka Kurniawan.

Keterangan tentang terbunuhnya Anwar sadat oleh Margio sudah dibeberkan pada halaman-halaman awal novel ini, baru kemudian Eka menyeret kita terus ke dalam pusaran konflik yang terasa halus dan informatif dan akhirnya kembali lagi seperti pada halaman awal bahwa Anwar Sadat dibunuh oleh Margio.

Cerita sepertinya tidak kemana-kemana tetapi begitu asik untuk dinikmati. Apanya yang asik dinikmati? Ya, jelasnya, cara bertutur Eka sangat menarik serta diksinya unik sehingga pembaca akan betah.

Anwar Sadat, Margio, Nuraeni, Mameh, Komar Bin Syueb adalah tokoh-tokoh sentral dalam novel ini. Tokoh-tokoh ini begitu kuat karakternya sehingga selalu terbayang-bayang selama dan setelah membaca novel ini.

Pada awalnya saya begitu membenci Margio karena menjadi bocah pengangguran, tidak ada pekerjaan kecuali menangkap babi hutan di kala musim perburuan tiba, dan kejadian ia membunuh Anwar Sadat adalah tindakan yang masuk akal dari seorang pengangguran, tetapi semakin masuk ke dalam pusaran konflik saya kemudian membenarkan pembunuhan itu.

Begitu juga sebaliknya, Anwar Sadat  yang pada awalnya sangat saya kasihani ternyata pantas mendapat kematian seperti itu. Paling tidak itu perasaan saya setelah membaca seluruh kisah ini.

Inilah kehebatan teknik penceritaan dan teknik membangun tokoh yang baik menurut saya. Perlu saya tambahkan lagi bahwa-masih tentang tokoh- awalnya saya sangat membenci Komar bin Syueb yang adalah suami Nuraeni dan ayah dari Margio dan Mameh.

Halaman-halaman pertama Komar digambarkan sebagi suami yang tidak bertanggungjawab bahkan berlaku kasar terhadap istri bahkan anak-anaknya, tetapi kemudian ia meninggal karena sakit yang sangat membuat ia menderita lalu kemudian terbayang kembali pada awal kisah ia membawa seluruh anggota keluarganya lewat perjalanan “Tamasya Keluarga Sapi” menempati rumah 131 mereka yang adalah rumah tua tak layak huni, tetapi dengan bangga Komar memboyong anggota keluarganya layaknya seorang nabi memimpin umat memasuki tanah perjanjian yang dalam kasus Komar entah tanah perjanJian dengan siapa. 

Membahas lebih jauh mengenai Lelaki harimau adalah dari segi penggunaan kata. Terkesan bahwa Eka menulis tanpa ada beban bahwa kalimat itu akan terbaca indah atau tidak. Ia hanya menuliskan agar pembaca tetap dengan mudah mengikuti kisah-kisah selanjutnya tanpa harus mengerutkan dahi tanda tidak mengerti kata bahkan kalimat.

Untuk itu, penguasaan kata-kata Bahasa Indonesia mutlak diperlukan. Agar kejadian atau kisah apa pun yang ingin disampaikan bisa dituliskan.

Keseluruhan kisah yang berlompatan kesana kemari, maju dan mundur tetap akurat dalam hal nama tokoh, kejadian, ketepatan waktu dan lain-lain. Dalam bahasa lain, bahwa perencanaan dan penulisan Lelaki Harimau, semuanya itu telah diperhitungkan matang-matang. Tidak ada satu pun kejadian dalam kisah ini yang terjadi tanpa sebab yang jelas.

Demikianlah cerita ketika Margio membunuh membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, ……………….(hal.1)

Ruteng, 28 Januari 2015, 22.36

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *