Beberapa minggu terakhir ini kita semua dikejutkan oleh jenis penyakit baru yakni infeksi virus korona tipe baru. Nama keren virus ini adalah novel coronavirus atau 2019-nCov. 

Asal virus ini adalah Wuhan, China. Dikatakan berasal dari China karena pertama kali jenis penyakit akibat virus ini terdeteksi di sana. Apakah di tempat lain tidak ada penyakit jenis ini? Mungkin saja ada, namun tidak atau belum terdeteksi. 

Belum terdeteksi bisa jadi karena sistem kesehatannya belum baik, mulai dari pemeriksaannya sampai tatacara pelaporan penyakit yang belum memadai.

Di China sana, begitu terdeteksi adanya infeksi virus ini, semua bergerak cepat. Rumah sakit rujukan untuk mengisolasi dan mengobati pasien-pasien segera dibangun. Dalam waktu kurang lebih 1 minggu rumah sakitnya sudah dibangun dan dipakai. Bagaimana kalau penyakit ini muncul pertama kali di negara lain? 

Saat ingin menjawab pertanyaan di atas, saya teringat sebuah video pendek di media sosial yang menceritakan tentang kesepakatan antara penghuni surga dan neraka. Cerita ini sedikitnya ada hubungan dengan situasi negara antah berantah. 

Begini ceritanya. Pada suatu waktu, seorang utusan dari neraka bertemu dengan juru bicara penghuni surga. Pertemuan mereka ini berlangsung dalam doa meditasi yang dalam. 

Orang dari neraka mengemukakan permohonan untuk memperbolehkan beberapa penghuninya tinggal 2 atau 3 hari di surga.

Permohonan ini diutarakan lantaran orang neraka sudah bosan dengan hidup yang begitu-begitu saja di alam neraka. Mereka ingin tinggal sebentar di dunia surga agar dapat menceritakan kembali kepada orang-orang neraka tentang gambaran pola hidup di surga. Mungkin saja harapan baru akan muncul.

Mendengar permohonan itu, juru bicara surga langsung menyetujui permohonan itu. Sebab menurut mereka, gosip-gosip tentang kesengsaraan hidup di neraka sepertinya tidak terbukti. Juru bicara surga juga ingin beberapa orangnya hidup di neraka kurang lebih 3 hari.

Karena permintaan dan permohonan yang sama lewat doa tersebut, kedua belah pihak akhirnya membuat perjanjian kerja sama. Istilah yang lebih milenial adalah KSO (Kerja Sama Opersional).

Mereka sepakat membangun sebuah jembatan agar beberapa penghuni surga dan neraka bisa datang dan pulang. Kesepakatan membangun jembatan itu mempunyai batas waktu 3 hari. 

Hari pertama para penghuni neraka bergotong royong penuh semangat membangun jembatan. Hari pertama selesai, mereka telah membangun proyek itu kurang lebih 40 persen. 

Hari kedua, berkat kerja keras dan keyakinan, mereka membuat kemajuan pekerjaan hingga 70 persen. Sang utusan neraka melihat di kejauhan, belum ada tanda-tanda jembatan yang dibangun dari sisi tembok surga. Sang utusan neraka membatin: para orang surga biasanya tidak pakai tenaga untuk membangun. Dengan berdoa saja mukjizat akan terjadi dan tiba-tiba jembatan mereka sudah selesai. 

Tidak ingin memikirkan hal itu lebih lama, utusan neraka memerintahkan anak buahnya agar mengerahkan tenaga penuh. Sebelum hari ketiga berakhir, jembatan dari neraka ke surga selesai dibangun setengahnya. Tinggal menunggu setengah bagian dari surga ke neraka. 

Utusan neraka puas dengan hasil kerja anak-anak buahnya. Sambil berkacak pinggang ia melihat ke arah tembok surga, namun belum ada tanda-tanda jembatan yang dibangun. Waktu yang tersisa di hari ketiga hanya beberapa jam lagi. Khawatir dengan hal itu, utusan dari neraka segera masuk ke dalam ruang doanya. 

Dalam doa yang dalam, ia terhubung dengan juru bicara surga. Utusan neraka bertanya:”Kok kamu belum mulai pembangunan jembatannya?”

Yang ditanya menjawab dengan lemah: “Bagaimana kami bisa membangun proyek jembatannya. Para panitia pelelangan proyek, kontraktor, pengawas proyek, perancang bangunan, pekerja dan tukang, semuanya tinggal di wilayah kamu. Kami tidak bisa membangun tanpa itu semua.”

Cerita itu selesai. Jangan tersingung, kawan. Ini hanya sebuah cerita di alam lain. Bukan kisah nyata. Kalau pun ini kisah nyata, tentunya tidak semua seperti itu, kan? Jangan simpan di hati. Jika masih tersinggung, saya minta maaf.

Kita lanjut dulu. Sampai dimana tadi? Oh, iya. Kita sampai di pembangunan rumah sakit di Wuhan. Rumah sakit itu dibangun dengan sangat cepat. Seakan-akan bangunan itu sudah dipersiapkan sebelum epidemi (pandemi) virus corona.

Saya membayangkan jika infeksi virus itu terjadi di negara lain. Apakah mereka sudah siap melakukan gerak cepat ala China? Apakah sistem kesehatan meraka sudah memadai menghadapi ancaman virus corona? Jangan-jangan mereka nanti masih berdebat apakah pasien dengan infeksi virus corona dapat ditanggung atau tidak oleh asuransi kesehatan nasionalnya.

Yang ada dalam pikiran saya seperti ini: jika infeksi virus corona ini mewabah di negara lain, para pemangku kepentingan yang paling atas akan memerintahkan pembangunan rumah sakit khusus penanganan infeksi. 

Kemudian pada tingkatan di bawahnya lagi akan memerintahkan pembebasan lahan untuk pembangunan rumah sakit. Level dibawahnya lagi akan menjadi panitia pelelangan proyek pembangunan rumah sakit. 

Para kontraktor akan berebutan memberikan penawaran pengerjaan. Jika para jagoan tidak memenangi proyek, harus dilakukan pelelangan ulang hingga jagoannya menang. 

Tingkatan di bawahnya lagi akan mengerjakan proses pembangunan dengan dana yang telah diberikan. 50% digunakan untuk kebutuhan pembangunan, 50% untuk kebutuhan perut. 

Setelah proyek berjalan 1 tahun, rumah sakit berhasil dibangun setengah. Karena baru dibangun setengah, rumah sakit tidak dapat dipakai. 

Pada saat diperpanjang waktu pengerjaan, proyek pembangunan rumah sakit itu tidak bisa dilaksanakan karena semua orang telah mati diserang virus corona yang mematikan tersebut. Masuklah mereka semua ke neraka. 

Baiklah, kita sudahi dulu cerita tentang virus corona ini. Tapi infeksi yang disebabkan oleh virus ini jangan dianggap remeh. WHO, organisasi kesehatan dunia saja sudah menetapkan bahwa kasus ini adalah berbahaya dan menempatkan dunia ke dalam situasi darurat kesehatan. 

Dari laporan WHO sudah ada 7.711 orang yang terinfeksi virus ini. Sebanyak 1.370 pasien dalam kondisi parah, 170 orang meninggal dunia. Sisanya sudah sembuh. (Arlinta, Kompas 31 Januari, 2020).

Sebenarnya, bukan hanya karena virus corona itu saja membuat kita takut keluar rumah serta memakai masker terus seakan-akan hanya dirinya yang sehat dan orang lain adalah sumber penyakit. Banyak sekali penyakit-penyakit dan situasi kesehatan di sekitar kita yang perlu kita takuti. 

Masih ada puluhan ribu Anak Papua yang belum dapat imunisasi dasar secara lengkap. Paparan polusi udara. Eliminasi penyakit TBC yang tidak selesai-selesai. Masih terdapat kejadian luar biasa demam berdarah di Kabupaten Sikka dan lain sebagainya.

Masalah-masalah kesehatan di atas adalah masalah kesehatan kita sehari-hari. Status vaksinasi yang tidak lengkap akan memudahkan terserangnya berbagai infeksi virus dan bakteri. Hal ini bisa menyebabkan kematian. 

Paparan polusi udara sangat mempengaruhi organ-organ tubuh manusia. Mulai dari saluran nafas hingga sakit jantung. Ini juga bisa menyebabkan kematian. 

Penyakit TBC merupakan infeksi bakteri mycobakterium tuberculosis. Penyakit ini penularannya mirip-mirip virus corona dan juga susah sekali diobati. Memakai masker bukan hanya karena takut virus corona. TBC lebih berbahaya dan lebih menyengsarakan. Karena itu, jika ada batuk, bersin dan flu pakailah masker. 

Demam berdarah masih menjadi situasi darurat di Pulau Flores, khususnya di Kabupaten Sikka. Virus penyebab demam berdarah juga diam-diam mematikan. Tanpa gejala apa-apa, tiba-tiba terjadi perdarahan dan menyebabkan kematian. 

Akhir kata, marilah kita hidup bersih dan sehat. Jangan buang sampah sembarangan. Berbuat baiklah terhadap alam dan orang lain maka kita pun akan sehat senantiasa. Semoga. 

An Hotel, Jakarta, 31 Januari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.