Di suatu waktu, saya berkesempatan jalan-jalan ke toko buku di Ibu Kota. Langsung menuju rak buku-buku novel indonesia. Seketika mata saya tertuju pada sebuah buku berwarna hitam.

Judul pada punggung buku tertulis: Surti + Tiga Sawunggaling, Goenawan Mohamad. Dari judul saya mengira ini adalah kumpulan sajak atau puisi. Ternyata, setelah membaca cover depannya, ada tulisan: Sebuah Novel. 

Tanpa pikir panjang, buku itu langsung saya ajak ke meja kasir untuk kemudian dibawa pulang. Tanpa pikir panjang itu mempunyai alasan. Saya ingin sekali membaca novel Pak Goen –  yang selama ini lebih dikenal sebagai eseis, penyair dan penulis lakon. Jika beliau menulis novel, bagaimana jadinya?

Keinginan segera membaca novel sang senior ini juga beralasan dari segi usia. Usia beliau saat menulis novel ini adalah 77 tahun. Saudara-saudari, 77 tahun. Luar biasa kan? Umur Anda berapa?

Kita – yang umurnya lebih muda – lebih banyak bicara, banyak ributnya, tetapi kosong ilmunya, kosong pula aksinya. Selain itu, kita yang lebih muda lebih banyak menunda-nunda pekerjaan. Termasuk saya.

Ingin bangun lebih pagi, kita tunda dengan alasan nanti mulai minggu depan saja. Ingin menulis sesuatu, kita tunda sampai ada mood dan waktu yang baik. Tetapi akhirnya tidak menulis apa pun. 

Ingin membeli ini dan itu, kita tunda karena belum mendapat pekerjaan. Sehingga belum ada uang untuk membelinya. Ternyata, sejak setahun yang lalu kita tidak menunjukkan niat untuk bekerja. Bagaimana bisa dapat uang?

Tentang menunda melakukan sesuatu itu akan lebih panjang lagi daftarnya. Sebab, memang kita yang umurnya lebih muda suka akan penundaan. Suka bicara tentang angan-angan dan takut akan kenyataan. Terima kasih Opa Goen yang telah mengajarkan kami tentang cara mengisi hidup ini dengan lebih bermakna.

Novel ini tidak disertai sinopsis yang biasanya menuliskan garis besar cerita dan berada di cover belakang. Apalagi berisi komentar para penulis “terkenal” – yang sering kali tidak berfaedah.  

Di cover belakang buku hanya ada warna hitam dan ada siluet seekor burung dengan garis-garis berwarna secang, tarum dan ungu. Saya yakin itu adalah Anjani. Anjani adalah salah satu dari tiga burung hasil gambar Surti pada sebuah kain mori.

“Jika Anda ingin baca novel, bacalah! Jika tidak ingin membaca, tidak usah membeli! Jangan baca komentar-komentar orang tentang isi buku. Mereka tukang tipu. Yang juara-juara sayembara dan menang lomba juga palsu. Bacalah, karena kita sendiri yang menentukan baik dan buruknya. Kita itu sudah merdeka. Jangan mau dijajah lagi. Ingat itu!” Kurang lebih begitu gaungan suara Opa Goen dalam kepala saya.

“Ampun, Opa. Bukunya sudah saya beli dan tuntas dibaca. Jangan marah-marah Opa. Sekarang saya sedang menulis tentang buku itu. Terima kasih, Opa.”

Keunikan Yang Asik

Novel setebal 103 halaman ini sangat enak dibaca. Cerita mengalir dengan sangat enteng. Kalimat-kalimat pendek disertai diksi khas sajak atau puisi membuat tidak hanya otak bekerja baik, sisi rasa bahasa terpuaskan pula.

Setelah tuntas membaca, barulah saya sadar bahwa novel ini tidak ada tanda petik yang biasa dipakai untuk memisahkan atau menandai adanya dialog. Nihil. Lalu, apakah novel ini melanggar kaidah-kaidah menulis novel yang baik dan benar?

Tanpa tanda petik itu tidak membuat saya susah paham alur ceritanya. Selama proses membaca, saya sangat paham dan menikmatinya. Tanpa tanda petik itu tidak berarti para tokoh tidak berdialog samasekali. Mereka berdialog dengan baik. 

Mungkin Opa Goen ingin memberi contoh bahwa pembaca itu sudah pintar. Tidak perlu diberitahu dan didikte lagi. Para pembaca paham siapa yang lagi bicara dan siapa yang menjawab. 

Selain tanda petik, ada satu lagi yang lebih unik, yaitu baris-baris kalimatnya. Novel ini ditulis seperti susunan kalimat dalam sajak atau puisi. Mari kita lihat halaman pembuka novel ini.

Enam belas hari sejak musuh

menduduki kota kami – dan suara

tembakan terdengar hampir tiap

malam – sembilan kali sudah suamiku

menghilang dari rumah.

Selalu menjelang dinihari.

Aku akan mencari mimpi, katanya. (Hal. 7)

Anda sudah melihat dan membacanya? Luar biasa bukan? Mudah membacanya, kalimatnya pendek, pemilihan katanya sederhana, dan menyimpan sesuatu yang membuat pembaca penasaran untuk membaca sampai habis.

Mendengar saya bicara tentang tanda petik dan baris kalimat yang pendek, Suara Opa Goen kembali muncul di telinga saya.

“Yang penting, apa yang hendak penulis sampaikan tersampaikan dan terasa oleh pembaca. Aturan-aturan menulis dan lain-lain sudah ketinggalan zaman. Kita sudah merdeka. Paham kamu?”

“Paham, Opa.”

Personafikasi

Saya sangat menyukai 3 burung dalam novel ini. Mereka dipersonafikasi oleh Opa Goen dan mereka begitu “hidup”. Tidak seperti robot, tetapi persis manusia. Dialog-dialog 3 burung itu dengan Surti – Tuhan mereka – sangat manusiawi. Tidak ada paksaan.

Tidak bisa saya pungkiri, personafikasi dalam novel ini harus saya bandingkan dengan yang ada pada novel semusim dan semusim lagi karya Andina Dwifatma dan wesel pos dari Ratih Kumala. 

Apakah novel-novel sekarang ini lagi trend personafikasi? Ikan mas koki yang bisa bicara, wesel pos yang mempunyai akal dan rasa, burung-burung pandai bercerita. Apakah model cerita yang begini adalah permintaan pasar? 

Saya mau tanya, Opa. Apakah pertanyaan saya di atas benar?

“Begini, anak. Tidak perlu bertanya-tanya yang tidak penting. Mau sedang trend atau tidak, kalau personafikasi itu perlu dan kamu bersedia menyuarakan suara dan perasaan mereka, ya, tulislah. Masalah permintaan pasar itu bukan urusan penulis. Tugas penulis adalah menulis. Urusan pasar biar nanti orang pasar yang urus. Jadi, stop bertanya-tanya yang tidak penting.”

“Opa, tapi Opa menulis dan omong seperti itu karena Opa sudah punya nama besar. Jadi Opa mau tulis tentang apa dan bicara tentang apa saja, semua orang terima. Kami yang masih muda ini susah, Opa.”  

“Kamu tahu Catatan Pinggir di Majalah Tempo? Catatan Pinggir itu saya tulis sejak tahun 1976. Saya yakin kamu belum lahir saat itu. Sampai sekarang, kalau dihitung-hitung telah lewat 4 dekade saya menulis. Setiap minggu saya harus menyelesaikan 1 tulisan Catatan Pinggir. Untuk jadi “besar” tidak bisa sekejap saja. Pasti ada susahnya. Tetapi kalau menulis itu sudah menjadi habit kamu, maka semuanya akan mudah.”

“Jadi, susahnya dimana?”

“Ya, pokoknya susah, Opa.”

“Kamu sudah pernah menulis satu cerpen, belum?”

“Belum pernah, Opa.”

“Ya, pasti susah. Kamu saja belum pernah tulis satu cerpen terus mau membayangkan menulis novel. Itu tidak mungkin. Sekarang ini, kita sudah merdeka. Jadi tulis apa saja, terserah kita. Tetapi, ingat. Harus mulai menulis. Tanpa tulisan, kita tidak bisa dibilang penulis. Paham?”

“Paham, Opa.”

“Ya sudah, selamat malam. Jangan lupa bilang ke teman-teman untuk membeli buku saya, ya?”

“Kata teman-teman, bukunya mahal.”

“Bilang sama teman-teman kamu. Kalau mau baca novel, beli bukunya! Paham, kamu?”

“Paham, Opa.”

Karot, 6 Januari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *