Hari ini saya mendapat 2 buah buku dari Romo Max: Leo Perik SVD dan buku Lakukanlah Semua dalam Kasih. Cerita tentang bagaimana buku ini bisa sampai di tangan saya, di saat semua orang diwajibkan di rumah saja karena Virus Corona, masih perlu dirahasiakan.

Buku yang sudah lama ingin saya baca adalah Leo Perik SVD. Pater Leo Perik adalah guru saya saat di seminari dulu. Ia mengajar mata pelajaran matematika.

Cara mengajarnya sangat menarik dan khas. Peter Leo hanya masuk untuk mengajar selama 10 sampai 15 menit. Sisa waktu pelajaran dipergunakan oleh kami untuk mengerjakan 10 hingga 15 soal matematika agar kemudian dikumpulkan.

Sore harinya saat studi sore pertama, tugas yang dikumpulkan tadi itu telah diperiksanya; yang salah diberikan tanda dengan tinta merah dan jawaban yang benar akan diparafnya dengan tinta hitam serta tanda yang unik.

Jika semua soal dikerjakan dengan benar dan mendapat nilai 100, maka Pater Leo akan memberikan hadiah berupa gambar-gambar Orang Kudus. Betapa senangnya saat itu jika mendapat nilai 100. Namun, hal itu tidaklah gampang, kawan. Hanya orang terpilih saja yang bisa mendapatkannya.

Cara belajar seperti itu membuat saya sangat menyukai matematika. Mata pelajaran ini menjadi tidak menakutkan lagi. Lewat tangan Pater Leo, matematika menjadi sesuatu yang menarik dan memacu saya untuk membaca lagi ataupun bertanya kepada teman jika merasa tidak memahami inti materi tersebut. Sebab, tidak ada orang lain yang akan membantu mengerjakan soal-soal matematika tersebut saat ulangan atau ujian selain diri kita sendiri, bahkan Tuhan sekalipun, tidak.

Pengalaman menjadi murid beliau selama 6 tahun tidak akan saya lupakan. Ia tidak menjadi guru yang banyak bicara di depan kelas. Saat masuk kelas sambil membawa sebuah buku, ia langsung menjelaskan model-model perhitungan sebuah bab di buku. Bertanya sebentar apakah kami sudah mengerti. Jika tidak ada pertanyaan, instruksi selanjutnya adalah mengerjakan soal-soal dari buku wajib tersebut.

Bagi teman-teman saya yang cerdas, mereka langsung memahami cara mengerjakan soal-soal tersebut. Namun, bagi saya tidak selalu demikian. Saya harus mengulang lagi contoh-contoh beliau dan jika tetap belum bisa, jalan terakhir adalah meminta penjelasan dari teman yang cerdas.

Pelajaran yang bisa diambil adalah berusaha semaksimal mungkin dan jangan lupa meminta bantuan orang lain. Jika tiba saatnya menghadapi masalah, kita sudah mampu mengatasinya.

Buku yang ditulis Romo Max ini sungguh menarik. Terlebih saat membahas surat-surat Pater Leo dengan para petinggi Ordo SVD di Belanda sana. Potongan-potongan surat beliau disusun ulang oleh Romo Max kemudian diceritakan kembali menjadi suatu hal yang sangat indah. Yang mati menjadi hidup kembali. Hormat setinggi-tingginya untuk Romo Max atas karya fenomenal ini.

Hal kedua yang patut diancungi jempol tentang penulisan buku ini adalah tentang bab pertama: Gereja Katolik di Belanda: dahulu dan kini. Pada bab ini, Romo Max menggunakan banyak catatan kaki yang sangat meyakinkan. Ini menunjukkan bahwa usaha penulisan bab pertama begitu serius dikerjakan.

Awalnya saya berpikir bahwa buku Pater Leo Perik SVD ini ditulis secara populer untuk sekadar memberikan nuansa nostalgia. Namun ternyata saya salah. Buku ini ditulis dengan energi yang penuh.

Masih tentang bab pertama. Walaupun Romo Max menuliskan bahwa bab ini tidak bermaksud menampilkan secara detail sejarah Gereja Katolik Belanda dari dulu hingga kini, namun tetap saja kesan tentang berkurangnya pemeluk Agama Katolik di Eropa jelas terbaca.

Romo Max baru saja balik dari Belanda setelah menyelesaikan studi S3-nya. Informasi ini adalah refleksi dan pengamatan (data) beliau tentang perkembangan Gereja Katolik di Belanda (Eropa) yang kini tinggal 10% dari keseluruhan populasi. 72% orang Belanda adalah agnostik dan atheis. (hal. 6-7). Jika sudah begini, tentu akan sangat susah bagi Gereja Katolik “berkembang” di Belanda.

Lebih lanjut, data yang dituliskan itu mengungkapkan bahwa hanya ada 13% umat Katolik Belanda percaya akan keberadaan surga. 17% percaya bahwa membangun relasi dengan Tuhan merupakan urusan pribadi (privat). Saya membayangkan jika orang-orang ini berada di Flores, sudah pasti diburu, disiksa dan diasingkan.

Kami masih percaya akan adanya surga dan neraka. Siapa yang berbuat baik akan masuk surga. Yang berbuat jahat akan masuk neraka. Surga itu sejuk dan indah. Neraka itu panas karena selalu ada api. Di surga enak. Di neraka sengsara. Itu yang kami percaya. Benar, kan? Atau Anda juga ragu?

Kami juga masih percaya bahwa membangun relasi dengan Tuhan itu membutuhkan Romo, Suster, Bruder. Tanpa mereka, dosa-dosa kami tidak bisa dihapuskan. Jika tidak ke gereja hubungan dengan Tuhan akan rusak bahkan terputus. Menurut Anda? Mudah-mudahan masih seperti itu. Tetapi diskusi tentang ini sampai di situ saja. Jangan berdiskusi lebih panjang. Bisa runyam nanti.

Dari data-data di atas mengakibatkan kehadiran umat Katolik Belanda pada misa mingguan telah menurun secara drastis. Yang menghadiri misa hanya orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas yang menyadari bahwa waktu mereka tidak lama lagi.

Saya kemudian teringat teman kelas yang bertugas sebagai pastor di Eropa menceritakan hal yang sama. Pada hari Minggu justru para pastor yang harus berjalan dari rumah ke rumah mencari domba-domba yang hilang ditelan badai.

Pekerjaan ini tentunya sangat sulit dijalankan. Seperti berusaha menjual sesuatu yang sudah tidak menarik dan bahkan tidak menjadi kebutuhan orang lagi. Saya bisa membayangkan betapa sulitnya hal itu.

Ah, sudah. Saya tidak mau membahas masalah agama lagi. Saya mau membahas yang santai dan enak-enak saja.

Di bagian ke-2 buku ini, Romo Max mengikutsertakan tulisan-tulisan ringan dan menarik dari mantan murid-murid Pater Leo Perik. Ada Romo Eduardus Tanis, Romo Silvianus Mongko, Pak Manto Tapung dan yang paling keren adalah teman kelas saya Romo Louis Jawa.

Para penulis itu saya kenal semuanya. Anda bisa membayangkan bagaimana bahagianya membaca tulisan dari orang-orang yang Anda kenal secara personal. Ada rasa bangga dan takjub. Iya, takjub adalah kata yang tepat menurut saya.

Pada bagian akhir buku ini ditutup dengan dua tulisan yang sangat kritis serta konstruktif oleh Romo Max tentang pendidikan calon imam. Bagi yang suka bidang pendidikan, gagasan-gagasan Romo Max sangat cocok untuk diterapkan agar wajah pendidikan kita khususnya di Nusa Tenggara Timur semakin baik.

Pada tulisan dengan judul Modernisasi Pendidikan Calon Imam, Romo Max dengan penuh detail mendeskripsikan sejarah pendidikan calon imam sejak Konsili Trente (1545-1563) hingga munculnya dokumen Pastores Dabo Vobis (PDV) tahun 1992. Saat membacanya, saya menggeleng-gelengkan kepala: luar biasa enak alur deskripsinya.

Kesimpulan dari tulisan itu adalah bahwa dunia pendidikan perlu meniru metode pendidikan yang sudah lama dikembangkan oleh Pater Leo Perik, yaitu 5S: Sanctitas (kesalehan hidup), Scientia (memiliki ilmu pengetahuan), Sapientia (memiliki kebijaksanaan), Sanitas (kebersihan dan cinta diri, sesama dan lingkungan), Solidaritas (mencintai kebersamaan, senang bekerja sama dengan orang lain dan masyarakat sekitar).

Tidak berhenti disitu, Romo Max berpesan bahwa dunia pendidikan itu tidak stagnan atau konstan. Ia akan berubah dengan cepat seturut perubahan zaman. Karena itu, ada tiga hal yang perlu dipikirkan para pendidik: 1. Solidaritas Ekologis, 2. Era post-truth, 3. Cyber-Religion.

Apa arti dari tiga istilah di atas? Anda perlu membaca bukunya. Ingat cerita saya di atas? Yang bisa menolong hanyalah diri sendiri dengan cara membacanya dan orang lain dengan cara membeli atau meminjam bukunya.

Viva Sanpio.
Serva Ordinem et ordo servabit te.

Karot, 23 Maret 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.