Tuli adalah kurangnya kemampuan mendengar hingga tidak bisa mendengar sama sekali suara-suara di sekitar. Banyak faktor yang menyebabkan tuli. Tulisan ini akan mengulas beberapa penyebab tuli dan cara mengatasinya. 

Penyebab tuli bisa dikelompokkan menjadi:

            1. Sumbatan pada liang telinga

            2. Infeksi bakteri, virus, jamur

            3. Usia lanjut

            4. Volume suara berlebihan.

            5. Trauma pada telinga

Mari kita mulai dari yang pertama: sumbatan pada liang telinga. Sumbatan muncul karena kotoran telinga yang banyak. Bisa berbentuk lunak bahkan ada yang keras seperti batu. 

Dinding liang telinga kita secara normal memiliki kelenjar lemak yang menghasilkan sedikit minyak untuk menangkap kotoran atau debu yang masuk. Sehingga gendang telinga terlindung dan tetap berfungsi baik. 

Namun, jumlah minyak yang dihasilkan tiap-tiap orang berbeda-beda. Begitu juga telinga kanan dan kiri. Ada yang lebih banyak kotoran pada telinga kanan daripada yang kiri, begitu juga sebaliknya.

Berkendaraan dengan motor jika tidak memakai helem adalah faktor utama bertumpuknya kotoran telinga. Sebab, debu jalanan banyak yang masuk ke liang telinga. 

Oleh karena itu, Dokter THT sering menganjurkan untuk memeriksakan kondisi telinga paling kurang 6 bulan sekali. Walaupun tidak ada keluhan. Tujuannya adalah memeriksa kebersihan liang telinga. 

Sumbatan liang telinga oleh kotoran banyak terjadi pada usia anak-anak hingga remaja. Keseringan bermain di luar rumah yang banyak debu, berenang di kolam renang, sungai dan laut adalah penyebabnya. 

Sumbatan kotoran pada liang telinga bisa mempengaruhi prestasi anak di sekolah. Kurang mendengar penjelasan atau suruhan para guru membuat semangat belajar menurun. Inilah alasan mengapa kegiatan bersih-bersih telinga oleh para dokter sering dilakukan di sekolah-sekolah. 

Untuk mengatasi sumbatan pada liang telinga ini haruslah ke dokter. Akan ada obat untuk melunakkan kotoran telinga, ada alat serta cara khusus untuk mengeluarkannya. Tidak boleh melakukan sendiri menggunakan lidi kapas, bulu ayam atau bebek, kunci motor atau mobil karena selain kotor juga akan lebih menyulitkan proses mengeluarkannya oleh dokter. 

Penyebab tuli yang kedua adalah adanya infeksi bakteri, virus dan jamur. Infeksi ini sebenarnya bukan hanya terdapat pada telinga. Seluruh bagian dari tubuh manusia juga bisa diserang bakteri, virus dan jamur. 

Infeksi bakteri yang paling sering bersarang di telinga karena adanya luka kecil pada liang telinga. Luka ini adalah akibat kebiasaan mengorek telinga dengan benda-benda tajam, keras dan kotor. 

Mengorek telinga dengan cotton bud setelah mandi untuk sebagian orang sudah menjadi kebiasaan yang asik. Jika tidak dikorek maka proses mandinya belum lengkap. 

Kebiasaan ini perlu diluruskan. Mengorek telinga setiap hari tidak dianjurkan. Sebab, semakin sering membersihkan telinga, minyak yang dihasilkan oleh kelenjar lemak semakin bertambah, maka kotoran telinga akan terkumpul semakin banyak. Satu kali seminggu adalah anjuran yang perlu diikuti.

Dinding liang telinga itu tipis sekali. Jika mengorek telinga dengan benda yang tajam, keras dan kotor bahkan dengan cotton bud sekalipun dapat melukai dinding liang telinga. Saat itulah bakteri, virus dan jamur datang menyerang. 

Infeksi dari hidung dan tenggorokan juga bisa menyebabkan gangguan pada telinga. Karena itu, jika ada batuk flu dan radang tenggorokan, segera diobati. 

Tuli pada bayi juga perlu menjadi perhatian bagi para orang tua. Umur di atas 1 bulan, bayi sudah dapat mengenal bunyi. Jika nama mereka dipanggil, bayi akan menoleh. Jika tidak, bawalah ke dokter untuk pemeriksaan lanjut. 

Bayi dapat mengucapkan kata-kata karena mendengar bunyi kata-kata tersebut. Jika bayi terlambat bicara hingga 12 bulan maka segeralah memeriksakan bayi Anda. Sebab telatnya kemampuan bicara akan menghambat perkembangan mental dan kepribadian di kemudian hari. 

Tuli pada bayi paling banyak karena infeksi virus, bakteri dan penggunaan obat-obatan saat di dalam kandungan. Infeksi virus pada ibu hamil seperti influenza, parotitis (gondongan/bof), campak, cacar (variola), cacar air (varisela), toxoplasma adalah penyebab terbanyak. 

Untuk mengatasi tuli karena infeksi ini haruslah bekerjasama dengan dokter. Penanganannya cukup panjang dan lama. Sebab, infeksi-infeksi itu harus dihilangkan dahulu, kemudian mungkin akan diberikan oleh dokter Alat Bantu Dengar (ABD).

Penyebab yang ketiga adalah usia lanjut. Pada usia-usia di atas 60 tahun, biasanya kemampuan telinga berkurang. Banyak saraf pendengaran menurun fungsinya serta berkurangnya aliran darah ke sistem pendengaran. Itu adalah hal yang wajar. Jangan khawatir. Berkonsultasilah dengan dokter maka ada jalan keluarnya. 

Ada kalanya mereka yang berusia lanjut pendengarannya masih baik. Namun, jika diajak bicara di tempat yang ramai, misalnya di sebuah acara atau pesta, kemampuan mendengarnya berkurang akibat suara sekitar. Kasus seperti ini biasanya dikenal dengan nama cocktail party deafness. Nama penyakitnya keren namun orangnya menderita.

Usia yang tidak lagi muda, dekat dengan penyakit darah tinggi dan diabetes. Kedua penyakit ini sering menganggu daya dengar telinga. Atasi kedua penyakit itu dengan baik, maka telinga pun akan baik-baik saja. 

Banyak tanda-tanda tuli yang dialami orang-orang disekitar kita. Contohnya, suara yang keras saat berbicara lewat hape, sampai-sampai seluruh orang yang berada disekitarnya mengetahui isi pembicaraan tersebut. Itu adalah tanda telinganya perlu diperiksa. 

Contoh lain adalah pada orang yang selalu mengatakan “Hah?” setiap kali mendapat pertanyaan dari seseorang. Ia menginginkan pengulangan akan apa yang baru saja dikatakan. Ini juga perlu diperiksa. 

Fenomena penyebab tuli pada masa sekarang ini adalah pemakaian earbud atau earphone dari smartphone atau gadget lain. Mendengar musik yang begitu keras dan lama sangat mempengaruhi saraf pendengaran. 

Secara normal, telinga manusia mempunyai ambang batas volume suara adalah 85 dB. Lebih dari volume suara itu bisa menyebabkan tuli. Karena itu, mendengar musik memakai earphone sambil tidur tidaklah baik. Jika kita tertidur, saraf pendengaran kita tetap bekerja sebab musiknya masih berbunyi. 

Adanya trauma pada telinga, misalnya karena pukulan atau tamparan, benturan saat kecelakaan atau luka hingga melubangi gendang telinga adalah penyebab kejadian tuli. Karena itu, jaga dan sayangilah telinga kita agar tetap berfungsi normal. 

Alat Bantu Dengar (ABD)

Ada banyak sekali alat ini yang dijual dipasaran. Mulai dari harga yang terendah sampai yang sangat mahal. Untuk membeli dan memakai alat ini sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter THT.

Alasannya, ada tuli yang memang tidak ada faedahnya memakai ABD. Misalnya ada sumbatan kotoran yang keras pada liang telinga. Walaupun membeli ABD yang termahal sekalipun tidak akan membantu. Tetap tuli. 

Alasan lain harus berkonsultasi dengan dokter THT adalah karena ada alat yang akan mengukur kemampuan dengar telinga. Kemudian akan didiagnosa oleh dokter apakah ini tuli konduktif atau tuli saraf. Jika hal itu telah ditentukan, barulah kita mengetahui apa jalan keluar untuk masalah tuli tersebut. 

Alat bantu dengar yang dipakai juga haruslah terasa nyaman oleh pemakainya. Nyaman itu berhubungan dengan modelnya, cara pemakaiannya dan yang terpenting adalah cara merawatnya. Karena alat itu biasanya dijalankan oleh baterei maka kemudahan penggantian tersebut harus diperhatikan. Jangan sudah tidak berfungsi namun tetap dipakai.

Dirangkum dari buku “99 tanya jaws THT” karya Dr. Nies Endang Mangunkusumo, Sp THT-KL (K)

Renceng Mose, 12 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.