Beberapa hari yang lalu saya berkumpul bersama teman-teman di sebuah kedai kopi. Topik obrolan kami adalah tentang penulisan. Untuk memantik diskusi berjalan baik, kami dihadapkan dengan sebuah pertanyaan: Mengapa kegiatan menulis itu dianggap susah?

Para dedengkot dunia tulis menulis telah banyak memberi jurus-jurus ampuh memulai sebuah tulisan. “Mau menulis, ya tulislah, jangan menggambar.” Yang lain lagi mengatakan: “Mulailah menulis apa yang ada di sekitar kamu!” 

Ada yang lebih ekstrem lagi: “Jika ingin menulis, kamu harus membaca banyak!” Nasihat ini sangat jauh dari harapan si penanya. Saya menanyakan jurus membuat sebuah tulisan, malah disuruh membaca. Menulis, Mas. Bukan membaca.

Namun, bagi yang (mungkin) memahami, nasihat di atas (mungkin) masuk akal. Bagi pemula, yang baru belajar membuat sebuah tulisan, nasihat itu adalah omong kosong besar. 

Meniru nasihat-nasihat para dedengkot, beberapa penulis lain mengusulkan jurus “menulis ulang sebuah tulisan yang menarik.” Alasannya, dalam proses menulis ulang tersebut kita akan menemukan bagaimana penulis aslinya memulai sebuah cerita, menuntun pembaca ke klimaks dan akhirnya menyudahinya.”

Penulis senior lain tidak mau ketinggalan. Seakan-akan jika tidak memberi pendapat, nama besar mereka akan dianggap hoki semata. Ia mengatakan: “Jika ingin (bisa) mulai menulis, mulailah dengan menerjemahkan karya luar. Pengalaman itu akan menuntun langkah selanjutnya.” 

Repot menjadi penulis, kan? Baru mau memulainya saja sudah banyak anjuran ini dan itu. Sibuk memilih anjuran yang terbaik, tulisan kita belum jadi-jadi juga. Layar komputer masih kosong, song, song.

Mari kembali ke acara diskusi kami di kedai kopi. Pertanyaan yang diajukan adalah mengapa kegiatan menulis dianggap susah?

Jawaban yang paling banyak: “Karena takut tulisan yang dihasilkan tidak sesuai dengan aturan Ejaan Yang Disempurnakan.”

Ejaan Yang Disempurnakan berarti ejaan tersebut telah menjadi sempurna. Membayangkan kesempurnaan itulah yang menjadi momok bagi para penulis pemula untuk mulai menulis. 

Sebagai contoh, saat sedang menulis paragraf pertama, muncul kegalauan memilih kata mengaji atau mengkaji, berengsek atau brengsek, beringas atau bringas, brutal atau berutal, plang atau pelang, plontos atau pelontos? Ini baru sebagian kecil masalah-masalah yang dipikirkan saat menulis paragraf pertama. 

Saat memasuki paragraf kedua, semangat dan tenaga telah habis. Akhirnya layar komputer kembali putih bersih sebab si penulis sudah menghapus semua kalimat pada paragraf pertama. 

Menghadapi masalah di atas, Eko Endarmoko – penulis buku “Polisi Bahasa; Tentang Peran Penutur Yang Absen- menganjurkan jalan keluar seperti ini:

“…seperti tatkala berbicara, dalam menulis pun lupakan dulu segala macam aturan kebahasaan. Nanti, setelah dirasa semua ide tertuang berulah kita kembali dari awal dan menangani hal-hal yang bersangkutan dengannya sambil menambah atau mengurangi apa-apa yang perlu di sana-sini”. (Hal. 24)

Sudah jelas? Masih ragu? Jangan biarkan ketakutan mendekati kemalasan untuk menulis. Ketakutan biasanya hilang hanya dengan terjun melakukan sesuatu yang kita takuti itu. Kemalasan? Biasanya tidak ada yang bisa menolong, bahkan Tuhan sekalipun. 

Jawaban kedua terbanyak adalah tentang pemakaian tanda baca. Susah memulai suatu tulisan karena terbebani dengan penggunaan tanda baca.  

Kalau ngobrol dengan teman, kerepotan menggunakan tanda baca tidak mungkin terjadi. Namun, saat menulis, adalah suatu keharusan membayangkan bahkan mencocokkan bagaimana jika kalimat yang tertulis itu terjadi di dunia lisan. Tidak adil, kan? Kalau orang Tionghoa bilang: Bo Chengli.

Saya ambil contoh dari halaman 54 seperti ini. “Ada kabar burung Pak Anu sedang pilek”. Kalimat ini jika dilisankan, orang yang mendengarnya tidak akan bertanya-tanya lagi, sebab mereka tahu yang pilek adalah Pak Anu, bukan burungnya Pak Anu. Walaupun para pendengarnya senyum-senyum tidak jelas.

Di dalam tulisan, kalimat seperti di atas sangatlah membingungkan. Perlu meletakkan tanda baca yang tepat. Tetapi, si penulis tetap harus menentukan, informasi apa yang ingin disampaikan kepada pembaca. 

Jika kita mencoba-coba gunakan tanda baca koma (,), kalimat di atas menjadi dua kemungkinan:

1. “Ada kabar burung, Pak Anu sedang pilek.”

2. “Ada kabar, burung Pak Anu sedang pilek.”

Dua contoh kalimat di atas sudah lebih jelas. Tinggal saja, si penulis memilih apa yang hendak disampaikan kepada pembaca. 

Saya teringat saat di sekolah menengah dulu, mata pelajaran Bahasa Indonesia diajarkan oleh seorang pastor. Kreatifitas mengajarnya sampai sekarang tidak akan saya lupa. 

Saat itu, kami belajar tentang penggunaan tanda baca. Kebiasaan pendidikan zaman dulu adalah menghafal. Tetapi, pastor ini mengajarkan dengan cara lain, tidak dengan menghafal. 

Ketika ujian berlangsung, kami diberikan dua halaman tulisan yang tidak ada sama sekali tanda bacanya. Termasuk tanda titik dan koma. Perintah ujiannya jelas:

“Gunakanlah seluruh tanda baca yang kamu ketahui agar tulisan ini dapat dimengerti oleh pembaca!”

Waktu ujian yang diberikan adalah dua jam. Hingga dua jam berlalu pun, belum ada seorang murid yang selesai mengerjakannya. Sang Pastor tersenyum puas. 

“Kamu pikir belajar Bahasa Indonesia itu gampang.” Kata sang pastor sambil keluar dari ruang kelas membawa hasil kerja kami yang dikumpulkan dengan paksa karena belum selesai. 

Jadi, begitulah dunia menulis. Tidak mudah memang, namun bisa dipelajari. Jika tidak bisa dipelajari tidak mungkin dijadikan mata pelajaran atau mata kuliah. Apakah belajar menulis itu hanya untuk para mahasiswa Fakultas Bahasa Indonesia? 

Seluruh universitas, baik di dalam dan luar negeri, mewajibkan membuat tulisan akhir berupa skripsi, thesis dan disertasi. Itu berarti bahwa semua yang pernah duduk di bangku perguruan tinggi wajib menguasai cara menulis yang baik.

Selain di sekolah, di dunia kerja juga sangat membutuhkan keterampilan menulis ini. Anda belum yakin? Coba kita bayangkan bagaimana berkirim pesan kepada teman lewat media sosial kita.

Banyak pesan yang masuk di hape saya dengan kalimat yang susah dimengerti. Apalagi kata-katanya diketik tidak lengkap alias disingkatkan. Terima kasih menjadi Tx. Mau tanya menjadi M Ty. Kakak, kakek, Koko menjadi KK. 

Apa yang terjadi jika kita salah memahami maksud seorang pembeli dan atau penjual lewat bahasa tulisan? Sudah membeli barang, namun yang tertulis, belum membeli. Ingin menanyakan kualitas barang namun yang terbaca adalah mengancam.

Sampai di sini, saya semakin paham dengan apa yang disampaikan oleh para dedengkot dunia penulisan: “Jika ingin menulis, banyak-banyaklah membaca.”

Membaca yang banyak, dapat mengetahui lebih banyak kosakata yang baku. Selain itu, cara penggunaan tanda baca yang baik juga bisa dipelajari pada teks yang dibaca. Dengan kedua modal itu barulah bisa menuliskan ide yang ada di otak ke dalam bentuk tulisan sederhana nan memikat.

Tentang anjuran yang mengatakan: “Berlatihlah menulis dengan menerjemahkan teks bahasa asing”, saya juga akhirnya setuju. Terkadang kita membaca tulisan dengan topik yang itu-itu saja. Jika telah menerjemahkan beberapa tulisan pendek, otak semakin diperkaya dengan topik-topik universal. Topik-topik universal ini akan membuat tulisan bisa diterima oleh lebih banyak orang.

Jika kita menulis kalimat yang baik dan memakai tanda baca yang baik, niscaya orang yang membacanya akan mengerti. Lebih dari itu, kita akan tahu orang seperti apa yang sedang berkirim pesan dengan kita. Meminjam istilah Eko Endarmoko: Bahasamu Kastamu.

Karot, 28 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.