Saya mencintai politik seperti saya mencintai ayam-ayam peliharaan saya. Tapi karena saya rakyat kecil, saya tidak kelihatan sebagai pengamat politik, apalagi politikus. Memang untuk ukuran kampung, saya hanyalah seorang petani biasa. Tetapi, jika bahas politik saya cukup paham.

Menurut saya atau paling kurang menurut sepotong sobekan koran yang saya baca, politik itu sederhana. Lebih sederhana lagi jika membacanya saat buang hajat di WC umum. Begitu keluar, selesailah sudah. Sesederhana itu.

Omong-omong tentang koran, sebenarnya kantor desa kami berlangganan koran. Hanya saja, sampainya telat. Kadang tiga sampai empat hari baru datang. Lebih murah dan cepat jika membaca berita di hape saja. Jangan salah, sebagai petani saya sudah terbiasa membaca berita di hape. Itu membuktikan bahwa saya mencintai politik.

Karena keterlambatan sampainya koran, saya pernah mengajukan pertanyaan kepada kepala desa.
“Apakah Dana Desa yang dari pusat itu boleh dipakai untuk berlangganan koran?”
“Tentu saja. Berlangganan koran itu kan mendidik masyarakat agar pintar seperti politikus yang tampil di tivi itu.”
“Tapi kalau korannya terlambat terus lebih baik dana desa itu untuk beli paket internet. Berita politik itu penting, Pak. Jika telat membaca berita politik terbaru, kita, orang-orang kecil ini akan semakin kecil.” Jelas saya penuh semangat.

Sebelum kepala desa buka mulut untuk bicara, saya langsung potong lagi.
“Jika kita boleh mamakai sebagian dana desa untuk membeli paket internet, selain tidak telat mengetahui informasi politik terbaru, kita juga bisa pakai untuk membuka fesbuk, ngobrol lewat WA bahkan kita bisa video call dengan keluarga yang jauh. Benar kan, pak?”

Belum habis benar kata terakhir yang saya ucapkan, kepala desa seperti mendapat angin, langsung melanjutkan.
“Anus, ide kamu cemerlang. Tetapi, kamu kan tahu sendiri, sinyal hape di kampung kita ini hanya ada di bawah pohon beringin depan kantor desa. Itupun kadang ada dan lebih sering tidak ada. Jadi, Tidak efektif dan efisien jika dana itu dipakai untuk membeli paket internet. Tetap lebih baik berlangganan koran.”

Tidak puas dengan jawaban sang kepala desa, saya bertanya lagi.
“Memangnya berapa harga langganan koran untuk sebulan, Pak?”
“Kurang lebih seratus ribu rupiah!” Jawab kepala desa sedikit meninggi.
“Wah, lebih hemat jauh jika berlangganan paket internet, Pak. Dengan seratus ribu sebulan sudah sangat berlebih. Bagaimana kalau…” Belum habis saya bicara, kepala desa balik badan dan berjalan menuju ruang kerja sambil membanting pintu. Saya hanya bisa melihat dan diam.

Sejak kejadian di kantor desa itu, saya tidak pernah ke sana lagi. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di kebun saya, menyendiri. Dalam kesendirian itu saya teringat lagi bacaan saya pada sepotong robekan koran, saat sedang buang hajat di WC umum.

“Politikus itu adalah mereka yang terpilih menjadi kepala desa sebagai pemimpin rakyat kecil.” Begitulah yang tertulis pada potongan koran tersebut.

Kalau camat, bupati, gubernur bahkan presiden? Apakah mereka politikus juga? Saya tidak mau memikirkan yang lebih atas lagi dari kepala desa. Sebab dengan memikirkan mereka saya merasa semakin kecil. Kalau sudah begitu pasti tersingkir. Entah karena tidak dilihat karena sangking kecilnya lantas diinjak, dilindas dan ditendang. Mungkin juga karena terlalu kecil orang menanggap yang kecil-kecil itu adalah kotoran pada baju atau celana yang harus dikibaskan, dibersihkan. Tidak, saya tidak mau.

Merasa tidak puas dan bosan dengan pemikiran sendiri, saya mencari kendaraan umum dan berangkat ke kota. Di kota, saya ingin menjumpai teman-teman yang saya anggap dapat memberikan pencerahan dan ketenangan. Teman-teman yang ada di kampung tidak lagi bisa diajak berdiskusi. Mereka lebih suka membicarakan politik kampung dan menjadi politikus kampungan.

“Politik itu adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama!” Kata Rikus seusai pulang kerja.

“Baik, teman. Saya mengerti!” Tegas saya.

Saya puas. Jiwa terasa kembali lagi masuk badan saya. Sudah tidak sabar ingin menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang kampung yang kampungan. Hari itu juga saya langsung menuju terminal mencari tumpangan kendaraan umum.

Subuh hari saya tiba di kampung. Sepanjang perjalanan saya memikirkan arti politik penjelasan teman saya, Rikus. Memikirkan itu jiwa saya kembali lagi membara, semangat membangun kampung halaman tercinta meluap.

Tiba di rumah, anak dan istri saya telah menunggu di depan rumah yang berpagar bambu berhiaskan bunga kembang sepatu. Begitu turun dari kendaraan, saya langsung berlari masuk ke dalam kamar diikuti istri dan kami duduk di tepian ranjang.
“Istriku tercinta, sekarang apa yang kita punyai dan apa yang telah kita hasilkan selama ini harus dijual! Arti menjadi seorang politikus itu adalah untuk kebaikan bersama. Jadi seluruh hasil dari kebun kita harus dijual dan kemudian kita bangun desa ini dengan uang hasil penjualan.”

Istri saya menggeleng.
“Apa maksudnya kamu menggeleng?” Tanya saya kalap.
“Kenapa diam lagi?”
“Maksud saya, Pak, di kebun kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Anak-anak tidak mau lagi ke kebun. Mereka sekarang lebih suka sendirian bermain hape. Bahkan seringkali tertawa sendirian.”
Jelas istri saya gemetar.
“Apa?”. Saya terkejut. Jantung saya terasa berhenti berdetak mendengar penjelasannya. Saya keluar membanting pintu dan menuju rumah gendang untuk membunyikan kentungan supaya orang-orang berkumpul.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, tidak ada satu orang pun yang datang ke rumah gendang. Saya semakin heran. Apakah semua orang di kampung ini sudah tuli semua? Tanya saya dalam hati. Saya pun melangkah keluar.

“Hei, bapak dan ibu kamu kemana?” Tanya saya kepada seorang anak kecil yang berlari melintasi rumah gendang.
“Bapa dan ibu di rumah. Mereka lagi main hape.” Jawab anak itu sambil berlari menjauh.
Kesal dengan jawabannya, saya menghampiri rumah terdekat di samping rumah gendang. Setelah tiga kali saya mengetuk, tidak ada jawaban dari dalam dan pintu tidak dibuka. Sedikit memberanikan diri saya mendorong pintu depan rumah. Pintu terbuka. Dan saya melihat 5 orang di dalam rumah kecil itu sedang memegang dan mamandang hape masing-masing. Tidak ada suara sapaan dari mereka.
Saya tidak dapat menahan rasa kaget dan sekujur tubuh terasa begitu lemah menyaksikan pemandang itu.
Begitu sadar saya sudah berada di dalam kamar. Istri dan anak-anak masih tertidur pulas. Perlahan-lahan saya keluar kamar dan secepat mungkin berjalan keluar perkampungan menuju jalan raya. Menumpang kendaraan umum, saya menuju kota.

Setiba di kota, saya tidak segera menemui teman saya yang pertama itu karena pikir saya pengertian politiknya salah kaprah. Politik tidak jalan dengan pengertian itu.

Akhirnya saya memutuskan menemui teman saya yang lain.
“Apa artinya politik?” Tanya saya datar.
“Proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat.” Jawabnya singkat dan padat.
“Baik, teman. Terima kasih atas jawabannya.”
Mendapat jawaban itu saya langsung ingin kembali ke kampung. Setengah berlari saya menuju kompleks pertokoan mencari tumpangan kendaraan. Tiba-tiba terdengar teriakan:
“Pencuri, pencuri…..”
Hampir selusin orang mengejar. Makin lama makin banyak yang mengikuti dari belakang. Tapi sangking banyaknya orang yang berteriak, sayup-sayup saya mendengar:
“Politikus, politikus, tikus….tikus….”

Karot, 21 Maret 2019

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *