Rabies itu sama seperti HIV. Sama-sama ditularkan oleh virus dan sampai sekarang belum ada pengobatannya, kecuali untuk mereka yang masih menganggap kekuatan doa dan air dewa dari para dukun mampu menyembuhkannya.

Lyssavirus adalah nama virus yang menyebabkan penyakit “anjing gila” itu. Virus ini bisa ditemukan pada air liur anjing, kera, kucing, musang dan kelelawar yang terkena gigitan sesamanya yang sakit rabies. Sehingga jika ada anjing rabies di suatu tempat maka haruslah dicari di sekitar tempat itu anjing lain yang sakit rabies.

Vaksinasi untuk anjing adalah mutlak agar para anjing tidak terserang virus rabies. Sebab dari merekalah virus ini sampai pada manusia. Tidak pernah ada dalam sejarah, manusia yang mengigit anjing dan menularkan rabies. Jika ada, segera laporkan kejadian ini pada puskesmas terdekat dan mungkin juga orang yang menggigit anjing itu perlu dirawat di Klinik Jiwa Renceng Mose.

Vaksinasi pada binatang peliharaan ini sangat penting. Menurut saya inilah langkah pertama dalam mencegah penyakit ini meluas. Sehingga Dinas Pertanian yang sekarang mengurus hal ini perlu menganggarkan dana yang cukup untuk pengadaan vaksin bagi seluruh anjing peliharaan. Bagaimana cara mengambil data dan memperkirakan pertambahan jumlah hewan peliharaan itu dari waktu ke waktu saya rasa para petugas kesehatan hewan paham kerja teknis tersebut.

Sampai pada pengadaan vaksin saja tidaklah cukup. Setelah vaksinnya tersedia perlulah turun ke masyarakat yang memelihara anjing untuk menjelaskan segala sesuatunya mengenai rabies kepada pemilik anjing sekalian melakukan vaksinasi. Bahkan bila perlu direncanakan pembuatan Pos Pelayanan Terpadu yang biasa di dalam dunia pelayanan kesehatan disebut POSYANDU.

Iya, pos khusus pelayanan vaksinasi anjing sama seperti pemberian vaksinasi untuk bayi/balita. Bukan ingin samakan anjing dan manusia, tetapi memang harus begitu sebab sekarang ini kasus rabies sangat meresahkan khususnya kita di wilayah Nusa Tengara Timur yang banyak memelihara anjing baik sebagai hobi maupun menjadikannya bahan makanan saat pesta-pesta yang tidak kalah banyaknya.

POSYANDU bagi anjing ini tentulah harus berada di semua wilayah: dusun, desa, kecamatan bahkan kabupaten. Saya berpikir, jika manusia saja yang sekali melahirkan menghasilkan satu anak (bisa juga dua kalau itu kembar) perlu POSYANDU, mengapa untuk hewan yang sekali melahirkan bisa menghasilkan 5-10 anak tidak kita buatkan POSYANDU? Itu baru dilihat dari jumlah anak yang dihasilkan belum lagi dilihat dari masa gestasi (kehamilan) yang untuk anjing hanya 2 bulan.

Sekali lagi ini bukan merendahkan martabat manusia, tetapi ini dilihat dari pentingnya vaksinasi pada anjing dan keganasan dari penyakit yang disebut rabies ini. Tetapi, mungkin saja jika program POSYANDU ini jadi dilaksanakan, jangan lagi dimintai kartu BPJS sebab ini bukan POSYANDU untuk manusia tetapi untuk hewan yang namanya anjing. Kurang lebih itu opini pertama saya.

Dari sektor pemberi pelayanan kesehatan manusia, perhitungan pengadaan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan atau Serum Anti Rabies (SAR) sangat diperlukan ketelitian dan kecermatannya. Jangan sampai saat masyarakat membutuhkannya VAR tidak ada karena kehabisan. Kehabisan sudah pasti karena perhitungan pengadaan VAR yang tidak cermat. Mungkin saja juga karena pengadaan ini bukanlah prioritas pembangunan daerah setempat. Sebab kata prioritas saat ini menjadi kata paling ampuh untuk meniadakan yang lain. Itu kata mereka.

Masih dari sektor kesehatan manusia. Bagi kami, sebagai orang yang memberi pelayanan kesehatan pada manusia, digigit atau tergigit anjing baik sengaja atau tidak ada aturan mainnya. Jika digigit anjing hal pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci luka gigitan dengan antiseptik (sabun) selama kurang lebih 10-15 menit di air mengalir kemudian segeralah datang ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer (FKTP) dalam hal ini puskesmas.

Nah, sampai di puskesmas petugas kesehatan akan mengambil data serta memeriksa keadaan luka gigitannya. Hasil pemeriksaannya ada dua. Luka dengan resiko tinggi dan luka dengan resiko rendah, itulah hasil pemeriksaannya. Luka resiko tinggi yaitu luka pada daerah kepala, wajah, telinga dan leher, sekitar alat kelamin, jari tangan dan kaki. Sedangkan luka resiko rendah adalah luka lecet pada badan, tangan dan kaki akibat cakaran atau gigitan. Selain itu petugas juga akan mengevaluasi apakah luka itu lebar dan dalam.

Pemberian VAR diberikan pada kategori luka dengan resiko tinggi. Vaksinasi ini diberikan tiga kali. Dua dosis dihari pertama kemudian di hari ke-7 dan ke-21 masing-masing diberikan satu dosis. Setelah pemberian vaksin ini, petugas kesehatan manusia harus melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan agar segera memeriksa apakah anjing yang menggigit itu adalah anjing dengan rabies atau tidak. Sehingga jika diketahui di hari-hari berikutnya bahwa anjing yang menggigit itu bukan anjing dengan rabies, maka pemberian vaksin di hari ke-7 dan ke-21 tidak perlu diberikan lagi.

Itulah alur kerjanya. Yang terjadi di lapangan kerja tidaklah demikian. Orang yang digigit, tergigit, dicakar, dijilat, dicium, disenggol bulu anjing atau bahkan ditatap oleh anjing segera menjadi petugas kesehatan manusia. Mereka yang menentukan perlu atau tidaknya pemberian vaksin. Ini juga yang menyebabkan penggunaan VAR sangat tinggi dan sangat tidak tepat. Sebab sebenarnya sebagian besar kasus gigitan bukanlah kasus rabies.

Opini saya yang kedua: buatlah perhitungan jumlah VAR yang cermat dan marilah kita menghargai satu sama lain dengan lebih mengerti duduk persoalan yang kita hadapi dengan tetap berdoa semoga Yang Diatas sana memberi kita kesehatan dan otak yang baik untuk menghadapi semua persoalan hidup ini. Semoga.

 

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “POSYANDU UNTUK ANJING

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *