Awal Perkenalan dengan Romo Sandjaja

Di suatu pagi setelah mengunjungi pasien-pasien gangguan jiwa, saya ngobrol dengan Bruder Honorius. Tempat bincang-bincang kami adalah di ruangan rapat Klinik Jiwa Renceng Mose. Bagi yang belum tahu apa dan dimana klinik ini berada, silakan membacanya di sini.

Bruder Honorius adalah salah satu bruder pendamping dalam merawat pasien-pasien gangguan jiwa. Saat ini ada 30 pasien yang harus diurus bersama Bruder Ferdi dan para perawat lain. Para pasien dibimbing dan diawasi selama 24 jam setiap hari. 

“Bruder, saat doa pagi tadi, bruder mengajak kami berdoa bagi Romo Sanjoyo. Siapa itu Romo Sanjoyo?” Begitu tanya saya membuka obrolan ringan kami.

“Oh, itu Romo pelindung Ordo Caritas regio Indonesia. Ordo kami.”

“Kenapa bisa dia menjadi pelindung? Hebat betul itu romo. Apakah ada buku tentang Romo Sanjoyo? Saya ingin tahu sehebat apa orang ini.”

Tanya jawab saya dan Bruder Honor berhenti sampai disitu. Kami mulai bahas yang lain. Pembicaraan dimulai dari urusan dapur.  Tentang persediaan beras, minyak goreng, ikan, sayur yang hanya cukup untuk beberapa hari ke depan.

Topik kedua tentang biaya air dan listrik sampai pada ketersediaan sabun, pasta dan sikat gigi untuk para pasien. Bagian terakhir adalah membahas perkembangan pasien dan stok obat. 

Setiap hari Rabu, inilah rutinitas kami: mengadakan rapat evaluasi seperti ini. Dari masalah-masalah yang muncul, kami rembuk untuk mencari jalan keluar. Walaupun, seringkali pula kami tidak dapat menemukan jalan keluarnya. 

Masalah persediaan beras yang terbatas merupakan masalah dasar kami. Masalah ini sering kali muncul sebab banyak orang tidak peduli. Mereka membawa anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa kepada kami dan kemudian menghilang, entah kemana.

Membayar biaya bulanan tidak mereka lakukan. Bagi klinik ini, membayar tidak harus selalu berupa uang. Dengan membawa beras, jagung, ubi, kopi atau apa saja akan mengurangi beban dan sangat membantu kami.

Jika tidak membayar berarti tidak peduli dengan kami, dan kami juga bisa pastikan bahwa sebenar-benarnya mereka juga tidak peduli dengan anggota keluarga mereka yang sakit. Bisa saja, karena ketidakpedulian ini, munculah sakit.

Mungkin saja ada yang berpikir, para bruder itu dekat dengan Tuhan. Jika mereka berdoa minta beras maka jadilah beras. Berdoa minta roti jadilah roti. Ini bukan di zaman Yesus hidup, teman. Zaman ini pakai uang. Bukan pakai doa. 

Hampir setiap minggu saya mendapat banyak undangan sebuah acara. Mulai dari acara kelahiran hingga kematian. Saya bingung. Mengapa begitu banyak orang senang menghabiskan uang untuk buat acara/pesta? 

Sudahkah mereka melihat sesama yang sakit dan susah? Bahkan, terkadang dalam acara/pesta kita mendoakan mereka yang sakit dan “yang tidak sempat menikmati santapan” pesta. Setelah itu, semuanya hilang, buyar. Manusia memang sangat pandai berkata-kata tetapi tidak melakukan, apalagi menulis. 

Maaf, saudara-saudari. Tadi itu hanya selingan. Jangan disimpan di hati dan sanubari. Awas sakit. Sekarang kita kembali ke Romo Sanjoyo. Romo Sanjoyo itu pelindung Bruder Caritas Regio Indonesia. Siapa itu Romo Sanjoyo? 

Mengenal dan Mengenang rama R. Sandjaja pr.

Sekembalinya Bruder Honor dari liburan, beliau memberi saya hadiah sebuah buku. Buku itu berjudul Mengenal dan Mengenang Rama R. Sandjaja pr. Saya senang sekali.

Buku ini langsung saya lahap tuntas. Hanya 70 halaman. Berisi 18 tulisan tentang Romo Sanjoyo. Tulisan-tulisan itu begitu enak dibaca karena renyah sekali. 

Hal menarik pertama dari buku ini adalah waktu penulisannya. Romo Sanjoyo itu meninggal (dibunuh) tahun 1948. 36 tahun kemudian, baru buku tentangnya ditulis. Tepatnya tahun 1984.

Dituliskan, bahwa dalam usaha mengumpulkan tulisan tentang Romo Sanjoyo, teman-teman kelas saat di seminari, para adik kelas, para guru dan pimpinannya dulu, partner kerja di paroki, semuanya dimintai untuk menulis kenangan bersama beliau. 

Dari hasil tulisan-tulisan itu kemudian dibuat menjadi buku ini. Saya membayangkan betapa senangnya Romo Sanjoyo di surga sana menyaksikan hal ini. Tentu, bagi para penulis akan didoakan oleh Romo Sanjoyo agar sehat dan diberkati selalu. Bagi para pembaca – termasuk saya – pasti akan didoakan masuk surga, jika nanti meninggal. Tapi, Jangan sekarang. hahaha

Sehabis membaca buku ini, saya ingin sekali seperti Romo Sanjoyo. Teman-teman atau orang yang pernah mengenal saya, menulis tentang saya. Tapi, masalahnya teman-teman dan orang-orang yang saya kenal hanya tahu menulis status di media sosial. Saya takut mereka akan menulis: “Terima kasih Tuhan Engkau sudah mengambilnya.” Atau yang lebih menakutkan lagi: “Kenapa baru sekarang, Tuhan?”.

Hal menarik kedua adalah tentang Koenen Zakwoordenboek. Itu adalah kamus saku Bahasa Belanda. Dikisahkan bahwa saat sekolah  dasar dulu Richardus Kardis Sandjaja – nama lengkapnya – telah menghafal seluruh kata Belanda dalam kamus itu, dari A sampai Z. 

Luar biasa. Karena kehebatannya itu, teman-teman memberi julukan “Lopend zakwoordenboek” alias “Kamus kecil yang berjalan”. 

Kehebatan Romo Sanjoyo saat di sekolah dasar, saya bandingkan dengan saat belajar bahasa latin di sekolah menengah kelas 2. Kemampuan menghafal kata bahasa latin saya sangat kacau.

Kami dibagikan stensilan daftar kata bahasa latin untuk dihafal. Ampun, Tuhan. Saya tidak bisa menghafal sama sekali. Baru menghafal 10 kata, 5 kata awal sudah lupa. Alhasil, begitu ada ulangan atau ujian, nilai saya juga kacau.

Nilai-nilai keserdehanaan

Dari cerita-cerita tentang Romo Sanjoyo, saya akhirnya paham nilai-nilai spritualitas yang ada padanya. Tidak mengherankan kalau Bruder-Bruder Caritas menjadikan romo ini pelindung.

Pintar, tenang, sopan, rajin bekerja, jujur dan terus terang, tegas, rajin belajar, sangat sederhana, halus tutur kata adalah teladan hidup yang dilakoni Romo Sanjoyo. 

Ada satu ungkapan populer dari romo yang menurut saya sangat inspiratif: “Seperti halnya orang setiap siang dan sore hari harus makan dan minum, begitupun setiap pagi saya harus mengikuti misa”. 

Kanonisasi

Romo Sanjoyo lahir pada tanggal 20 Mei 1914 dan meninggal (dibunuh) pada 20 Desember 1948. Usianya baru 34 tahun. Mengapa dia mati dibunuh? Apakah ada orang-orang yang membencinya? Bagaimana jalan cerita dia dibunuh? 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seru itu, saya sarankan Anda membacanya sendiri. Kalau tidak punya bukunya, mintalah maka buku itu akan dipinjamkan kepadamu. Ingat tulisan saya di atas? Siapa yang membaca buku ini akan masuk surga. Yakinlah!

Dengan berjalannya waktu, semakin banyak orang – bahkan bukan beragama katolik – datang berziarah ke makam Romo Sanjoyo. Mereka mengatakan, bahwa dengan berdoa kepada romo ini, banyak pinta mereka terjawab. 

Karena romo ini mati dibunuh dan begitu populernya ziarah ke makamnya, Keuskupan Agung Semarang sejak tahun 1962 telah mengajukan permohonan ke Roma untuk menjadikan Romo Sanjoyo martir. 

Jawaban dari Roma tentang menjadi martir harus memenuhi 2 syarat ini:

1. Si saksi (testes de visu) harus menyatakan di bawah sumpah bahwa orang itu karena iman (in odium fidei) telah terbunuh.

2. Bahwa sampai denyut jantung yang terakhir mereka tetap setia kepada iman mereka. 

Sampai sekarang, Romo Sanjoyo belum menjadi martir karena belum memenuhi kedua syarat di atas. 

Apakah berbuat baik harus diberi gelar? Apakah orang berbuat baik untuk mendapat gelar? Romo, Romo tidak perlu menjadi martir. Teladan dan perbuatan baik sudah cukup menjadikan kami yang sedang mengembara ini contoh untuk berbuat baik kepada diri sendiri, keluarga, gereja, bangsa dan tanah air. 

Benedicamus Domino.

Deo gratias.

Christus factus est pro nobis obediens usque ad mortem, mortem autem crucis,…………

Karot, 13 Januari 2019

Gambar diambil dari sini.

2 Comments on “Romo Sandjaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *