Saya baru saja selesai membaca Jurnal Sastra Santarang, edisi November-Desember 2019. Tebalnya hanya 53 halaman. Tidak ada yang terlewatkan. Semuanya dibaca hingga titik dan koma.

Sampul depan menampilkan seorang gadis dengan payudara setengah terbuka. Sangat elegan. Saya berani bertaruh, nama gadis itu adalah Esperanza, tokoh dalam cerpen Rumah Di Jalan Mangga. Jika pun salah menebak, paling-paling Pemimpin Redaksi atau Redaktur Pelaksana Jurnal ini akan tertawa tanda kemenangan.

Jurnal sastra ini mengingatkan saya akan banyak hal yang telah lewat. Saat di sekolah menengah, saya dan kawan-kawan OSIS rutin menerbitkan jurnal. Isinya gado-gado: cerpen, puisi, karikatur, opini, doa dan lain sebagainya.

Rutinitas menerbitkan jurnal itu, pada suatu waktu dihentikan oleh pimpinan. Para anggota redaktur dibubarkan karena terdapat satu tulisan opini yang dianggap menyindir perilaku kehidupan pemimpin. Ternyata tajam juga pengaruh jurnal saat itu.

Tiba di lingkungan kampus, saya dan kawan-kawan melanjutkan kepengurusan penerbitan jurnal. Lagi-lagi mendapat sorotan dan interogasi pihak yayasan karena mereka menganggap mahasiswa terlalu mencampuri urusan manajemen kampus. Dana untuk unit kegiatan penulisan jurnal ini diberhentikan oleh pihak kampus. Kami bubar.

Jika mengingat lagi kejadian-kejadian itu, saya merasa bersyukur. Sebab, anak-anak zaman sekarang tidak lagi mengalami hal seperti itu. Zaman sekarang, semuanya lewat smartphone. Berita-berita kampus dan fakultas semuanya disebarkan secara online.

Kehadiran Jurnal Sastra Santarang membawa nostalgia lama hadir kembali. Jurnalnya sederhana namun kaya akan nuansa kreatifitas. Tidak kalah menarik dibandingkan dengan membaca cerpen, puisi, resensi dan opini di surat kabar ternama.

Halaman kedua adalah daftar isi. Bentuk daftar isinya saya suka karena bentuk yang minimalis. Pembaca langsung tahu bahwa isi jurnal hanya ada cerpen, esai, puisi dan resensi. Ada satu bagian namanya Kusu-Kusu. Apa itu Kusu-Kusu?

Kusu-Kusu ini berjudul Mama Linda Deng Om Mario. Tulisan ini yang saya baca pertama kali. Ternyata Kusu-kusu itu adalah tulisan atau kisah yang menggunakan bahasa daerah, Kupang.

Ceritanya sangat menarik. Begitu masuk dalam sanubari. Mungkin karena memakai bahasa daerah, saya sangat menikmatinya. Adegan sedih dan gembira dalam ceritanya membuat saya terenyuh. Saya akan selalu menunggu tulisan-tulisan Amanche Franck OE Ninu di edisi berikutnya.

Sebelum meninggalkan daftar isi, saya sedikit heran, mengapa jurnal edisi kali ini tidak ada kata pengantar. Kata pengantar ini penting agar para pembaca mengetahui suara para redaktur serta arah pembicaraan yang hendak disampaikan.

Setelah daftar isi, pembaca langsung diberikan cerita pendek pertama, Anakku oleh Eric Lofa. Cerita pendek ini sangat pendek. Tulisan Eric berkualitas tinggi. Alur cerita dan pemakaian kata cocok dengan selera saya. Begitu baru ingin mengetahui lebih lanjut jalan ceritanya, ternyata sudah selesai.

“Eric, kamu mempermainkan perasaan saya. Saya sangat ingin mengetahui cerita selanjutnya tentang jam rolex, bos wanita yang merokok itu, bagaimana cerita tokoh aku jika bertemu anaknya yang baru lahir, dan seterusnya.”

Untuk saat ini, saya harus puas dengan yang sepotong itu. Apakah ada cerita lanjutan di edisi berikutnya? Mudah-mudahan Redaktur Pelaksana memikirkan hal itu.

Cerpen yang kedua adalah Toko Buku Intan Mulia karya Maria Pankratia. Untuk cerpen yang satu ini saya mempunyai cerita yang panjang; cerita tentang judul cerpennya juga pengarangnya, Maria, yang bukan ibunda Yesus.

Kurang lebih dua atau tiga bulan sebelum cerpen ini dikirim ke Jurnal Santarang, saya dan Maria terlibat sebuah kerja bersama. Kami memulai sebuah program untuk menulis selama satu bulan penuh. Setiap hari kami berdua harus menulis 1000 kata dan dikirim lewat email. Siapa yang gagal, harus membayar 50.000 rupiah.

Singkat cerita, cerpen ini adalah salah satu karya yang ditulis Maria dalam program bersama kami tersebut. Saat itu, cerpen tersebut masih dalam bentuk mentah. Belum diutak-atik.

Saat saya melihat cerpen ini dimuat Jurnal Santarang, saya tiba-tiba merasa bangga. Sebab, kelahiran cerpen ini adalah hasil kerja sama saya dan Maria. Walaupun Maria adalah penulisnya, namun tetap ada peran saya di sana. Kalau penulis cerpen ini menyangkal, dia akan mimpi buruk.

Cerpen ketiga adalah Rumah Di Jalan Mangga. Ini adalah cerpen terjemahan yang dikerjakan dengan sangat indah. Bahasanya santun, halus, mendayu-dayu dan tidak terpatah-patah. Saya kagum sekali dengan hasil terjemahannya. Jika bertemu penulisnya, akan saya tanyakan tentang berapa lama waktu pengerjaan tulisan ini. Hemat saya pasti dikerjakan dalam waktu yang cukup lama. Jika tidak, tentu penulisnya mempunyai tenaga dalam.

Sekarang masuk di bagian esai. Judulnya Penyitaan, Pelarangan Dan Pembakaran Buku: Masih Relevan? Esai ini menurut saya baik dari segi nalarnya.

Dibuka dengan menampilkan kejadian-kejadian penyitaan dan pelarangan buku di dunia Barat hingga Indonesia. Kemudian ditutup dengan hipotesis atau alternatif pemikiran: “Malas membaca merupakan tindak penyitaan dan pembakaran buku yang paling kejam”.

Saya setuju dan mengapresiasi sebesar-besarnya atas ide penulis esai ini. Tidak ada gunanya membahas pelarangan dan pembakaran buku jika kita tidak membaca. Apakah mereka yang begitu aktif melawan penyitaan, pelarangan dan pembakaran buku sudah pernah membaca buku itu? Atau jangan-jangan karena netizen mengutuk, mereka juga ikut-ikut saja? Jadi, bacalah buku apa saja, sebelum dilarang.

Di bagian puisi, ada 4 penulis: Afryantho, Ricky, Tia dan Vincent. Menikmati puisi bagi saya adalah menikmati keindahan kata. Susah sekali bagi saya mencari hubungan kalimat-kalimat antar baris. Begitu saya berusaha untuk memahami baris-baris puisi, puisinya sudah selesai. Mungkin inilah yang namanya misteri sebuah puisi. Ia tidak bisa dinalarkan namun dirasakan.

Terima kasih untuk Tia Ragat. Kamu mengerti apa yang menyusahkan saya menikmati sebuah puisi. Puisi Tia tidak berupa susunan kalimat-kalimat pendek. Ia seperti cerpen. Saya sangat menikmatinya. Bentuknya tidak seperti susunan baris puisi yang susah dicari benang merah dan logika.

Begitu juga puisi Vincent, tepatnya puisi kedua dengan judul Tubuh 2. Baris-baris puisi yang ditulis seperti itu membuat saya bisa menikmatinya. Mudah-mudahan tujuan penulisan seperti itu karena penulis mengerti bahwa ada pembaca seperti saya yang hanya bisa menikmati puisi jika ditulis dalam kalimat yang cukup panjang sehingga membentuk alur pemahaman secara mudah.

Bagian terakhir jurnal edisi kali ini ditutup dengan resensi sebuah buku. Tulisannya menarik, namun buku yang diresensi ini terbit pada Feberuari 2018. Resensi yang baik itu, jika meresensi buku-buku yang baru terbit.

Buku yang terbit satu hingga tiga bulan terakhir mungkin merupakan pilihan yang baik. Sebab, selain akan memantik minat orang untuk membaca resensinya karena masih hot, juga akan menarik minat pembaca untuk membeli buku tersebut.

Jika buku yang diresensi sudah terlalu lama terbit, isunya sudah tidak hot lagi. Ibarat makanan yang sudah disimpan lama di dalam kulkas, untuk menyantapnya perlu waktu untuk dicairkan sebelum dimasak. Begitu telah disantap, rasanya tetap kurang afdol karena ada rasa yang telah hilang. Walaupun dimasak dengan bumbu terandal sekalipun.

Setelah menyantap seluruhnya, iseng-iseng saya mencari arti kata Santarang. Santarang mempunyai arti Sabana, Lontar dan Karang.

Sabana adalah padang rumput. Lontar adalah jenis tumbuhan yang daunnya dipakai sebagai kertas pada zaman dahulu. Karang adalah bebatuan sebagai ciri khas Ibu Kota Nusa Tenggara Timur, Kupang.

Itu adalah definisi versi saya. Mudah-mudahan sama dengan yang dimaksud para founding fathers jurnal ini. Semoga bentuk cetak jurnal ini tetap bertahan menghadapi gempuran jurnal-jurnal lain dengan platform digital. Kehadirannya dalam bentuk cetak tetap memberi oase nostalgia untuk saya atau orang-orang seusia saya. Apakah para redaktur akan memikirkan platform digital pada edisi-edisi mendatang? Saya akan menunggu dengan setia edisi-edisi selanjutnya.

Karot, 16 Februari 2020.

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.