Membaca Novel Metropolis Karya Windry Ramadhina

Suatu waktu saya melihat-lihat Nominasi Khatulistiwa Literary award 2009. Terdapatlah sebuah novel berjudul Metropolis karya Windry Ramadhina.

Setelah membacanya saya terkagum-kagum, ternyata ada juga penulis Indonesia yang sukses menggarap tema ini. Anda masih ingat novel terkenal karya Mario Puzo yang kemudian dianggkat ke film dan terkenal pula? Ya, benar. Judulnya The Godfather.

Novel Metropolis juga berlatar cerita mirip dengan The Godfather, hanya saja seting tempat yang berbeda. Yang satu di New york, satunya di Jakarta. Bayangkan kisah para Mafioso terjadi di Jakarta. Bakal seru kan?

Cerita novel ini diawali dengan adegan pemakaman salah satu pemimpin sindikat 12. Sindikat 12? Ya, itu adalah sebuah perkumpulan para Mafioso yang bergerak di bidang perdagangan narkotika di Jakarta.

Mereka membagi Jakarta dalam 12 wilayah yang masing-masing tidak boleh melewati batas wilayah dalam hal penjualan narkotika. Tetapi sekarang, Sindikat 12 ini sedang dalam masalah besar. Para pemimpin mereka terbunuh satu persatu tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya dan alasan apa mereka dibunuh. 

Ada pembunuhan maka munculah polisi menyelidiki kasus tersebut sehingga pastilah bersinggungan dengan Sindikat 12. Begitulah cerita dalam novel ini bermula.

Halaman demi halaman akan sangat cepat dibalik untuk mengikuti kisah selanjutnya. Untuk itu saya katakan, Wyndri sukses menggarap tema ini dengan gemilang. Pemakaian kata dan kalimat-kalimat pendek adalah kuncinya. 

Semakin masuk ke dalam cerintanya yang begitu berliku tetapi tidak membuat pembaca tersesat. Semuanya kemudian dikisahkan bagian demi bagian dengan sangat teliti. Sehingga hemat saya, kerangka karangan atau outline pastilah telah dibuat dengan matang untuk novel ini.

Novel ini sengaja dibuat dengan maksud dan tujuan yang jelas. Itulah kelebihan Wyndri yang lain. 

Kesan yang cukup mendalam adalah pada tokoh-tokoh yang hidup. Hidup saja tidaklah cukup. Tokoh-tokoh itu perlu berintaraksi dengan orang lain, tempat, waktu dan lain-lain. Dari interaksi itulah muncul keaslian karakternya.

Yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang dalam otak saya adalah kata; “puki”. Kata ini adalah kata seruan (atau makian) setiap kali Ferry Saada berbicara. Dari deskripsi Wyndri tentang Ferry ini bahwa Ferry adalah orang Sulawesi. Apakah untuk mengatakan bahwa Ferry adalah orang Sulawesi kata “puki” adalah cara satu-satunya? Saya rasa perlu kita diskusikan lagi.

Saya ingin menambahkan sedikit. Tokoh Markus Haulussy atau nama julukannya Ambon Hepi. Dari nama saja para pembaca akan tahu dan paham bahwa ia adalah orang Ambon. Tinggal ditambah sedikit deskripsi tubuhnya pasti akan lebih indah di hati dan rasa para pembaca. Sebab, semua pembaca ingin dianggap cerdas. 

Masih mengenai tokoh. Hampir semua pembaca sejak dikenalkan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam sebuah novel tentunya akan memperhatikan semua kisah hidup tokoh-tokoh itu. Karena mereka adalah sebuah kehidupan.

Sebuah kehidupan pastilah membawa arti untuk masing-masing pembaca. Entah itu sebuah kehidupan yang pahit, yang manis dan bahkan sebuah kematian akan sangat dapat diterima oleh pembaca jika memiliki alur sebab dan akibat yang jelas.

Mengapa Si A bersedih karena orang tua Si A meninggal. Mengapa Si B membunuh Si C, karena Si C membunuh istri Si B. Dan selanjutnya. Dalam Metropolis, ada satu pertanyaan yang masih menghantui saya terus menerus. “Mengapa Miaa membunuh Ferry Saada?” Sebagai catatan: Ferry Saada adalah saudara tiri Miaa. Selama tokoh Ferry Saada dan Miaa muncul tidak pernah ada konflik yang berarti antara keduanya. Begitu juga hubungan si Johan dan Miaa, sepertinya tidak ada alasan yang kuat untuk Si Miaa membela Johan dengan menembak Ferry Saada. Mangapa, oh mengapa?

Mungkin demikian dulu apresiasi saya atas novel ini yang barangkali akan dapat berdialog dengan para pembaca yang juga telah membaca Metropolis di kemudian hari. 

Ruteng, 13 Februari 2015. 22.56

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *