Pemilihan Bupati

Akhir-akhir ini, saya jarang berkunjung ke rumah teman-teman untuk ngobrol atau sekadar minum kopi. Alasannya, pembicaraan yang akan berlangsung tidak menarik lagi. Hampir semua teman berbicara tentang pemilihan bupati dan wakilnya.

Yang paling membosankan adalah jika ada yang mulai berbicara tentang kejelekkan calon-calon lain. Seakan-akan dia yang paling benar, mulia dan sempurna di dunia ini. Lebih menyedihkan lagi jika para pendengar harus mengikuti apa yang difatwahkan.

Saat belum tiba masa pemilihan bupati, pembicaraan sangat menyenangkan. Cerita-cerita lucu mengalir begitu saja. Membuat semua yang berkumpul cerah ceria. Saat ini, tidak lagi begitu.

Memang benar, membicarakan pemilihan bupati itu penting. Sebab, untuk lima tahun ke depan, orang tersebutlah yang akan memimpin. Memimpin masyarakatnya keluar dari masalah pengangguran, masalah pendidikan, masalah urusan perizinan yang kacau balau, masalah kesehatan dan lain sebagainya. 

Semua masalah itu tentunya tidak bisa diselesaikan oleh satu orang. Kesuksesan seorang pemimpin karena kerja keras para anggotanya. Makanya, tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain. Itu, dosa.

Masing-masing calon mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman dan kreatifitas yang berbeda-beda. Karena itu, membaca serta memahami visi dan misi para calon adalah hal terpenting. 

Saya, dengan latar belakang kesehatan akan memantau, melihat dan memahami visi dan misi kesehatan yang diusung calon tersebut. Jika tidak membuat saya terkesan, saya akan memilih yang lain. Bagi Anda, tentu berbeda. 

Selama lima tahun ini, mungkin Anda merasakan bahwa banyak kegiatan sosial yang dilakukan oleh komunitas di dalam masyarakat tidak diapresiasi. Tentu Anda akan mencari siapakah di antara calon yang menawarkan masalah itu di dalam visi dan misinya. 

Menurut saya, begitulah cara yang baik. Sebab, jika bicara tentang suka dan tidak suka terhadap seseorang, tidak akan habis-habisnya. Walaupun 3 hingga 4 gelas kopi telah habis, pembicaraan masih di situ-situ juga. 

Saya bangga menjadi warga negara Indonesia. Semua warga diberi kesempatan untuk maju sebagai pemimpin. Tidak melihat suku, agama, ras dan antargolongan. 

Para calon pemimpin daerah itu semuanya baik adanya. Sebab, yang mereka pikirkan adalah “orang banyak”. Jika memikirkan diri sendiri, tentu mereka tidak mencalonkan diri. 

Beberapa hari yang lalu, saya diundang oleh Universitas Katolik St. Paulus Ruteng, untuk bersama-sama memberi input dalam proses penyusunan visi dan misi Fakultas Kesehatan dan Pertanian. Kegiatan setengah hari tersebut dilaksanakan dengan penuh semangat membangun dan menciptakan mahasiswa yang tangguh. 

Visi dan misi itulah otak dan jantung segala program dan kegiatan 5 tahun ke depan. Proses penyusunannya harus serius. Libatkan banyak orang agar logikanya dapat. Nah, penyusunan visi dan misi calon kepala daerah seharusnya seperti itu.

Jika Anda sudah mempunyai pilihan calon pemimpin tersebut, mungkin karena fans berat, karena keluarga, atau karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan logika, selamat untuk Anda. Artinya tidak perlu repot-repot memikirkan hingga saat pemilihan nanti. Namun, jika belum mempunyai pilihan, carilah visi dan misi yang sesuai dengan hati dan pikiran Anda. 

Pembahasan tentang pemilihan bupati sudah selesai. Mari kita ngopi lagi, bercerita yang menyenangkan dan menertawai kehidupan kita yang semakin lucu.

Akta Perkawinan, Akta kelahiran, Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP)

Hari-hari terakhir, saya sibuk mengurus kelengkapan administrasi para karyawan. Tujuan pengurusan itu adalah untuk mendaftarkan mereka sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

Jumlah karyawan itu cukup banyak, sebab beberapa dari mereka adalah karyawan orang tua saya. Mereka bekerja sejak saya kecil. Kadang saya merasa mereka tidak pernah menjadi tua. 

Salah dua atau tiga karyawan itu tidak memiliki akta perkawinan. Saya terkejut. Kemudian menanyakan kepada yang bersangkutan. Jawaban yang saya dapat: “Dulu, kami kawin begitu saja. Yang penting suka sama suka, lipat!”. Saya tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan dua malam setelahnya, saya masih tertawa geli jika mengingat jawaban itu. 

Syukurlah bahwa masalah akta perkawinan itu bisa diselesaikan setelah karyawan itu kembali ke kampung dan bicara baik-baik dengan kepala desa, mengikuti alur dan prosedur, akhirnya suratnya keluar. 

Akta kelahiran juga merupakan hambatan saat mengurus kelengkapan administrasi. Beberapa karyawan tidak mempunyai akta kelahiran dan akta kelahiran anaknya. Saya terkejut lagi. Sebuah pernyataan iseng keluar dari mulut saya: “Berarti negara tidak mengakui kamu itu lahir di Indonesia.”

“Iya, benar. Tapi, sejujurnya kami tidak ingin lahir di Indonesia. Kalau bisa, kami ingin lahir di Amerika.”

Saya pun tertawa sampai sakit perut. 

Tidak selesai disitu. Masalah kartu keluarga dan KTP tetap menjadi masalah kebanyakan orang. Kartu keluarga, ada. Tapi nomornya tidak sesuai dengan yang tertera di KTP. Masalah selanjutnya, KTP yang ada sudah tidak bisa terbaca. Ada lipatan di sekujur bagian KTP. Hari itu, saya merasa seperti pegawai Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan. Ternyata repot juga mengurus hal-hal seperti ini. 

“Jika kelengkapan surat-surat itu tidak ada, bagaimana mau urus passport, ya?” Ternyata mereka dengar apa yang barusan saya katakan. Langsung saja mereka menyambar:

“Saya tidak mau buat passport. Saya hanya mau tinggal di Ruteng saja. Tapi, ada satu hal yang membuat saya dan teman-teman ini bingung. Sebenarnya, apa pentingnya punya akta perkawinan, akta lahir, kartu keluarga dan KTP? Kami merasa, tanpa itu semua, hidup kami akan baik-baik saja. Menurut bapak?”

Mendengar itu, saya tidak bisa menjawab. Seluruh darah terasa turun ke kaki. Kepala sedikit pusing, keringat membasahi punggung. Saya masuk ke dalam rumah dan berharap kopi yang tersisa sedikit masih ada di atas meja. 

Renceng Mose dan Santu Damian

Kemarin dan hari ini saya mengunjungi Panti Rehabilitasi Gangguan jiwa Renceng Mose dan Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santu Damian. Kunjungan saya ke dua tempat ini adalah membawa titipan para donatur dari Jakarta. 

Para donatur dari Jakarta ini adalah para dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1971. Mereka secara sukarela dan terkoordinir mengirimkan barang-barang yang dibutuhkan oleh kedua panti ini. 

Saat memberikan barang-barang sumbangan itu saya merasa sangat terharu. Mereka menerimanya dengan penuh suka cita. Seakan-akan doa mereka selama ini terjawab. Tuhan tidak melupakan mereka. 

Saat dalam perjalanan balik dari kedua panti tersebut, saya bertanya-tanya dalam hati. “Apa yang menggerakkan para pengelola kedua panti itu melakukan layanan mereka? Untuk apa mereka terus melakukan layanan tersebut jika mereka sendiri susah?”

Saat bertemu dan berbicara dengan pimpinan kedua panti itu, mereka menyampaikan bahwa pada minggu atau bulan-bulan tertentu mereka kehabisan beras. Tetapi tidak pernah benar-benar habis.

Mengingat-ingat kalimat itu, saya kembali bertanya di dalam hati:

“Jika kedua pimpinan panti itu memutuskan tidak ingin memberikan layanan lagi, siapa yang akan memarahi mereka? Negara? Pemerintah? Anda?”

“Apakah negara sadar bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar harus dipelihara oleh negara? Kalau mereka tidak sadar, kenapa harus kita yang sadar? Mengapa kita harus mengambil jalan pekerjaan seperti ini? Mengapa tidak kita ikut santai bersama orang lain yang hanya mengurus istri, anak dan diri sendiri?”

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat perjalanan balik itu. Semuanya belum ada jawaban. Sebab, begitu ingin menjawab, pertanyaan-pertanyaan lain muncul lagi. Mungkin memang seharusnya demikian. Tidak semua persoalan yang ada memerlukan jawaban. Jika semua mempunyai jawaban, buat apa kita hidup?

Karot, 13 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.