Jika Anda berkunjung ke Pulau Flores, akan Anda temukan kopi toleransi. Ini bukanlah jenis kopi melainkan budaya kopi. Telah menjadi sebuah budaya bahwa setiap tamu yang datang ke setiap rumah akan disuguhkan secangkir kopi. Ini adalah tanda penerimaan, keakraban, tanda toleransi. Anda juga sangat diharapkan untuk mencicipi kopi suguhan itu, walaupun Anda bukan peminum kopi.

Kebiasaan minum kopi bagi masyarakat Flores bisa dimaklumi sebab hampir seluruh keluarga mempunyai tanaman kopi di kebun. Mereka memetik dan mengolah kopi tersebut menjadi tepung kopi kemudian menyeduhnya menjadi secangkir kopi untuk Anda juga bagi tuan rumah. Untuk proses penanaman, banyak petani kopi sekarang hanya menikmatinya tanpa pernah menanam lagi. Inilah masalah pertama.

Karena banyak petani tidak menanam bibit kopi baru maka mereka hanya memanen buah kopi dari pohon kopi tua. Banyak yang berkomentar bahwa kopi dari pohon tua lebih unggul dari pohon muda. Hemat penulis, komentar itu sebenarnya menyimpan banyak keresahan. Keresahan pertama adalah luas lahan. Mereka tidak mungkin menanam di dalam lahan kopi yang telah ada. Itu akan menganggu hidup tanaman kopi tua.

Keresahan kedua adalah tenaga kerja. Banyak anak-anak para petani kopi tidak lagi bekerja sebagai petani kopi. Hasilnya, para petani kopi renta ini hanya akan menggarap kebun kopi sesuai kemampuan. Hasilnya pun hanya cukup bagi kebutuhan rumah tangga. Jika hasilnya berlebihan, akan mereka bawa ke para pengepul dengan variasi harga tinggi.

Uang hasil penjualan kopi tersebut akan dipakai bukan untuk meningkatkan kualitas tanaman kopi. Pulsa telefon genggam dan rokok adalah pengeluaran utama mereka. Dengan demikian, jika ada perubahan iklim yang cukup ekstrim atau munculnya penyakit maka hasil kopi para petani anjlok tanpa daya. Sistem bertani konvensional seperti inilah yang akan menurunkan kesejahteraan.

Beberapa saran penulis berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan petani adalah: pertama, perlunya mengubah sistem bertani kopi konvensional ke modern. Sistem modern: mulai membuka lahan baru, memilih bibit kopi unggul, menanamnya dengan sistem pengairan dan pemupukan yang baik. Jangan lupa pula merencanakan pemasaran kopi siap saji.

Kedua, pemerintah daerah sangat diharapkan turun tangan membantu. Membantu dalam hal strategi dan modal usaha. Strategi menanam bibit kopi yang baik perlu dikenalkan kepada para petani. Mereka perlu diajarkan teknik menanam kopi sesuai ilmu pertanian modern. Dukungan modal dalam bentuk pinjaman usaha kecil-menengah akan sangat membantu dalam mengelola kebun kopi.

Ketiga, pemerintah juga perlu mengintervensi stabilisasi harga jual kopi. Sehingga variasi harga jual beli kopi stabil. Dengan kestabilan harga ini petani lebih mempunyai daya tawar tinggi terhadap para pengepul.

Keempat, pemerintah perlu meningkatkan partisipasi petani kopi dalam program ekonomi kreatif. Penulis sedikit kagum bahwa telah ada kopi Flores dijual online. Kopi dari Manggarai dan Ngada sudah melirik pasar online. Bagaimana dengan kabupaten lain? Saran penulis adalah, kurangi menjual kopi biji. Olahlah biji kopi, baru dijual. Tentunya akan lebih bernilai ekonomi. Semoga.

 

Tulisan singkat ini adalah salah satu tugas workshop menulis opini. Dilaksanakan oleh Tempo Institute, dengan topik: Menjamurnya Kedai Kopi.

Gambar diambil dari sini.

One Comment on “KEHIDUPAN PETANI KOPI DI FLORES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *