SMembaca “Semua Untuk Hindia” karya Iksaka Banu

Kamis malam, 20 November 2014, Semua Untuk Hindia (SuH) karya Iksaka Banu diumumkan sebagai pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Saya begitu terkesiap. Siapakah Iksaka Banu? Apakah Anda mengenalnya?

Harapan saya Anda juga tidak mengenalnya. Sebab jika Anda mengenalnya maka tulisan saya selanjutnya kurang seru untuk dibaca. Hehehe.

Keterkejutan saya disebabkan karena yang masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 kali ini cukup menyeramkan. Ada Afrizal Malna yang terkenal dengan buku puisi Museum Penghancur Dokumen, Eka kurniawan dengan karya emasnya Cantik itu Luka, Norman E. Pasaribu, sang cerpenis muda (24 tahun) dan sangat berbakat lewat cerpen andalannya Sepasang Sosok yang Menunggu, Triyanto Triwikromo sang sastrawan senior dengan cerpen yang terkenal Anak-Anak Mengasah Pisau. Jadi apakah yang membuat SuH begitu memikat para juri? Itulah pertanyaan yang harus saya selidiki lebih lanjut. Mari kita simak bersama.

Pertanyaan saya pada awal tadi ialah siapakah Iksaka Banu? Jawabanya dapat saya temukan cukup lengkap pada halaman terakhir buku ini.

Ternyata ia orang Yogyakarta dan sudah berusia 50 tahun. Lima puluh tahun masih menulis? Luar biasa. Sebab di lingkungan saya usia 50 tahun adalah masa menjelang pensiun dan yang akan mereka kerjakan adalah bersiap-siap untuk menghadapi masa purna bakti dan pastinya tidak dengan menulis sesuatu pun.

Tetapi itu di lingkungan saya mungkin di lingkungan Anda berbeda. Latar belakang pendidikan Iksaka ternyata adalah Desain Grafis ITB. Pernah juga menulis dan dimuat di rubrik pada usia 10 tahun.

Baru pada usia 36 tahun, kira-kira pada tahun 2000-an, ia mulai giat menulis. Dua hal yang dapat saya simpulkan bahwa latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk memulai menulis. Yang kedua adalah kapan saja kita memutuskan untuk mulai menulis, usia tidak akan berani mencegahnya.

Halaman muka buku ini sangat menarik karena hadirnya ilustrasi manis karya Yuyun Nurrachman. Begitu juga tiga belas cerita didalamnya dilengkapi dengan ilustrasi hitam putih yang sangat berhubungan dengan isi masing-masing cerita yang disuguhkan.

Jika telah khatam membaca kisah-kisah dalam buku ini, cukup melihat gambarnya saja nalar kita akan menuntun kita masuk kembali ke dalam suasana indah masing-masing kisah itu. Seandainya saya akan menerbitkan buku di waktu mendatang nama Yuyun Nurrachman akan saya pikirkan untuk ilustratornya. Hahaha.

Banyak sekali hal menarik dari tiga belas cerita dalam buku ini. Karena itu, sungguh layak dan sepantasnyalah para juri memilih karya ini sebagai yang terbaik.

Jika Anda bertanya manakah dari tiga belas cerita ini yang paling saya suka, maka jawaban saya adalah semuanya. Dan jika harus memilih satu cerita yang paling berkesan maka akan saya pilih “Racun untuk Tuan”.

Mengapa kisah itu yang paling berkesan, karena menurut saya dalam kisah ini teknik penceritaannya paling menarik sehingga klimaksnya benar-benar saya rasakan.

Itulah hal pertama yang membuat kisah-kisah ini menarik: tidak ada cerita yang menggantung tanpa tujuan yang jelas atau dibiarkan saja agar pembaca yang membayangkan akhir sebuah cerita. Tidak. Semuanya diawali dan diakhiri dengan sempurna.

Saya sependapat dengan prolog Nirwan Dewanto: “Iksaka banu tidak membiarkan ambiguitas atau kekaburan menyelimuti took-tokohnya dan berbagai peristiwa yang mereka lakoni. …..Kisah-kisah Iksaka Banu bergerak maju dan terus terdorong menuju akhir dengan rangkaian kilas balik”. (hal.xii)

Hal kedua yang menarik dari keseluruhan kisah ini adalah Iksaka Banu benar-benar hanya bercerita dan bercerita seperti apa adanya tanpa ada bumbu-bumbu penyedap kata bahkan kalimat.

Yang ia inginkan bahwa kisah ini harus tersampaikan dengan cepat dan tepat serta bagaimana akhirnya sehingga tidak mebuang-buang waktu pembaca yang membacanya.

Sehingga setelah saya membaca kisah-kisah ini, ada kesan bahwa semua kisah ini benar-benar dialami penulis sehingga ia tak perlu lagi berpikir bagaimana menceritakan kisahnya.

Sedikit berbeda seperti yang diungkapkan oleh Nirwan: “Iksaka Banu seringkali membulatkan kisahnya dengan serba-kebetulan, juga untuk memperkuat latar peristiwa. ………..Ada kalanya serba-kebetulan itu tergarap begitu halus sehingga menjadi simetri.” (hal.xiii)

Begitu memasuki salah satu dari tiga belas kisah dalam SuH, saya merasa disedot masuk ke masa-masa asing yang ternyata adalah masa-masa sebelum negara kita merdeka. Begitu kuatnya daya sedot ternyata berasal dari pemakaian kata yang selaras dengan zaman ketika masa itu berlangsung.

Itulah alasan ketiga dari yang banyak itu. Selain karena pemakaian kata, juga pembukaan setiap kisah yang menarik menjadikan kisah itu asik untuk diikuti. Kalau meminjam istilah Nirwan Dewanto: “Pembukaan yang mengandung suspens.”

Hal lain adalah data historis serta geografis yang sangat lengkap adalah modal utama penulisan SuH dan semuanya itu pastilah dibangun dari kebiasaan membaca yang banyak sehingga mendapatkan banyak data.

Tetapi tidak sampai di situ saja, keterampilan memasukan semua data yang diperoleh itu ke dalam sebuah karya fiksi tentulah mempunyai kesulitan tersendiri. Dan menurut saya apa yang sudah dilakukan Iksaka sudah sangat tepat. 

Sudut pandang yang dipakai oleh pencerita sangat beragam: ada mantan tentara, perwira belanda, wartawan, inspektur indo, administrator perkebunan, seorang nyai, bahkan seorang pemain teater. Ini juga adalah keunggulan teknik penceritaan sehingga saya sebagai pembaca tidak bosan untuk membacanya sebab saya merasa ditarik kemudian di dorong lewat terowongan yang banyak dan berliku untuk melihat sebuah lukisan pemandangan dari sisi yang berbeda-beda.

Demikian beberapa pengalaman dalam membaca SuH yang sempat saya sajikan. Mudah-mudahan banyak yang tertarik untuk membaca SuH di kemudian hari. Tabik.

Ruteng, 25 Januari 2015, 23.50

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *