Begitu mendengar atau membaca kata nasib, Anus selalu teringat kawannya yang hilang. Entah kemana perginya yang jelas Usus, temannya, tidak pernah kembali lagi ke rumahnya. Orang tuanya telah mencari kemana-mana, tidak ada hasil. Nihil. Seluruh rumah penduduk di desa telah didatangi satu per satu. Tetap tidak ada kabar. Kepala desa telah juga dimintai keterangan. Selain itu, kepala desa mengadakan rapat di kantor desa dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dari desa-desa tetangga. Dalam rapat itu pun tidak ada keterangan apa-apa selain anjuran para tokoh masyarakat untuk menghubungi “orang pintar”, Tuan Potiman.

Sore hari setelah rapat desa selesai, orang tua Usus kontan mendatangi Tuan Potiman. Saat mereka datang, Tuan Potiman sedang memberi makan kucing-kucing peliharaanya. Kucing-kucing itu berjumlah 12 ekor dan semuanya berwarna hitam. 

Sampai detik ini – saat cerita ini ditulis- jumlah kucing-kucing yang semuanya berwarna hitam itu, dari tahun ke tahun jumlahnya tetap 12 ekor. Bahkan sebelum Anus lahir jumlahnya tetap 12 ekor. Begitulah cerita yang selalu didapatnya setiap malam sebelum tidur dari neneknya. Neneknya adalah pendongeng yang cukup terkenal.

Anus pernah bertanya kepada neneknya, suatu hari.

“Nek, mengapa kucing-kucing hitam itu tidak pernah beranak, ya?  Padahal aku ingin sekali memelihara barang seekor!”

“Kucing Tuan Potiman semuanya jantan, Nak!” Jawab nenek singkat.

Mendapat jawaban itu Anus mengerti. Yang betina saja bisa beranak. Kalau jantan bisanya membuat anak. Karena paham, Anus tidak pernah memikirkan bahkan bertanya lebih lanjut. 

Suatu saat, Anus berkunjung ke perpustakaan umum di kota. Ia melihat sebuah buku berjudul “Tips memelihara kucing hias”. Anus begitu semangat. Dari buku itu Anus kemudian mengetahui bahwa usia kucing rata-rata 8 tahun. Sepulang dari kota, Anus langsung mencari neneknya untuk bertanya.

“Nek, saya baca di buku, umur kucing tidak akan lebih dari 8 tahun. Mengapa kucing-kucing Tuan Potiman berumur lebih dari itu? Tanya Anus antusias.

“Itulah misteri hidup, cucuku.” Jawab neneknya singkat.

Sejak saat itu Anus tidak pernah mencari tahu lagi tentang kucing-kucing hitam itu. Ia juga tidak pernah bertanya tentang Tuan Potiman. Apakah benar ia orang sakti, atau orang yang mempunyai indra keenam layaknya orang indie, Anus tidak peduli lagi.

Beberapa tahun kemudian, Anus mendapat surat dan telefon dari Jakarta. Yang berbicara adalah seorang wanita.

“Selamat siang, Pak Anus. Cerita pendek yang Anda kirimkan kepada kami menjuarai lomba yang kami selenggarakan. Selamat ya, Pak. Untuk itu, Anda diminta untuk datang ke Jakarta, sebab tanggal 30 April 2019, 5 hari lagi, akan diadakan acara pengumuman pemenang lomba. Kami sangat mengharapkan kedatangannya. Apakah Anda bisa hadir?” Wanita di telefon itu menjelaskan dengan suara halus. 

“Apakah Anda bisa hadir, Pak?” Suara wanita itu sekali lagi menyadarkan Anus yang terdiam tak percaya. 

“Em, bisa Mba, eh ibu, eh salah, bisa kakak.” Jawab Anus kebingungan. 

“Baik, Pak. Akan saya catat bahwa Anda bisa hadir dalam acara nanti. Terima kasih, Pak. Jika ada yang perlu ditanyakan bisa hubungi saya di nomor telefon ini. Selamat siang, Pak.” Suara wanita itu menutup pembicaraan.

Setelah percakapan singkat di telefon, Anus masuk kamar dan duduk di ranjang. Dari duduk ia baring. Kemudian duduk lagi sambil menatap telefon genggam miliknya. Setelah menatap, Anus mulai berpikir. Benarkah berita yang baru saja didengarnya? Pikir Anus dalam hati. 

Anus bimbang dan galau. Apakah ini yang namanya berita palsu, yang kata orang kota besar hoaks? Anus tidak pasti. Dalam hati Anus berpikir bahwa ini tidak sama dengan kejadian yang menimpa tetangganya. Berita yang baru didengar dari seorang wanita tidak meminta Anus ke bank atau mesin atm untuk menyetor uang. 

“Tidak. Ini bukan kasus penipuan”. Batin Anus. 

Dari tempat tidur Anus berdiri lalu keluar kamar. Sambil duduk di bale-bale bambu depan rumahnya, Anus memegang telefon genggamnya dan mulai mengetik.

“Selamat siang, Mbak. Apakah benar berita yang baru mbak sampaikan?” Begitu tulis Anus. Tetapi, sebelum kirim pesan itu, Anus buru-buru menghapus kembali.

Anus menulis lagi: “Selamat siang ibu. Apakah ini adalah penipuan?”. Pesan itu langsung dikirimnya. Tidak lama, pesan balasan masuk.

“Pak, bisa pakai whatsApp saja? saya tidak ada pulsa untuk sms“. Tulis wanita dari jakarta itu.

“Loh, ini kan ibu baru kirim sms balasan. Berarti ada pulsanya dong. Hape saya tidak bisa pake whatsApp. Maklumlah, hape jadul.” Tulis Anus selanjutnya.

“Iya, pak. itu pulsa terakhir saya untuk sms. Bagaimana kalau bapak yang menelfon saja.” balas wanita itu menawarkan.

Anus langsung menekan tombol untuk menelfon.

“Halo, selamat siang ibu. Saya mau menanyakan dengan lebih pasti. Apakah berita yang baru saja ibu sampaikan itu benar? Bukan penipuan, kan? Kami di kampung tidak tahu cara tipu-menipu. Kebiasaan kami orang kecil itu to the point. Kalau tipu bilang tipu kalau jujur bilang jujur.” Sergap Anus membuka pembicaraan di telfon.

“Halo, selamat siang juga, pak. Iya benar, pak. Saya tidak menipu. Masak tidak percaya? Saya kan tidak minta bapak ke atm untuk transfer uang. Justru saya tadi lupa minta nomor rekening bapak. Kami dari panitia ingin mengirim uang ke bapak untuk biaya tiket ke jakarta.” Jawab wanita itu tenang.

“Oh, begitu. Maaf atas kecurigaan saya yang berlebihan. Nama ibu siapa ya? Itu pertanyaan pertama. Yang kedua, kalau boleh tahu, cerita pendek saya berjudul apa yang menang?” 

“Oh iya, maaf, pak. Saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Maria, pak. Boleh panggil Mar saja. Tugas saya adalah menghubungi para penulis yang cerpennya masuk ke dalam buku kumpulan cerita pendek. Dari hasil seleksi, cerpen bapak menjadi pemenangnya dan para juri ingin menjadikan judul cerpen bapak sebagai judul buku. Kalau tidak salah judul cerpen bapak adalah Tuan Potiman.” Maria berhenti sebentar.

“Oh, iya. Saya ingat cerpen itu. Tapi, cerpen itu sudah saya kirimkan setahun yang lalu. Dan juga cerpen itu tidak terlalu bagus menurut saya. Cerpen itu saya tulis asal-asalan saja. Lah, kok bisa menang ya?” Tanya Anus tak percaya.

“Penulis hebat memang biasa begitu, pak. Menganggap tidak pernah menghasilkan suatu karya yang bagus. Sebab, jika mereka merasa sudah menghasilkan karya yang bagus, selesailah tugas mereka. Bener kan, pak?” Balas Maria.

“Ibu Maria, ngomong-ngomong, siapakah juri kegiatan ini?” Tanya Anus penasaran.

“Para juri ada 3 orang, pak. Ketua jurinya adalah Pak Usus. Katanya Pak Usus orang NTT seperti bapak. Apakah rumah bapak juga di Ruteng sama dengan asal Pak Usus?” 

“Emm…”. Anus tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kaku. Kepalanya terasa berat, keringat bermunculan di dahi. Seketika, Anus roboh, terjerembab di ruang tamu, tanpa ada yang melihat. 

Karot, 9 Januari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.