Pernahkah Anda membaca kolom Udar Rasa di Koran Kompas? Kolom ini hanya muncul setiap hari Minggu. Setelah membaca kolom cerpen, kolom Udar Rasa inilah yang selalu saya tunggu-tunggu. 

Jika cerpen kompas dinikmati bagai mengarungi samudera luas, tulisan kolom Udar Rasa bagaikan sebuah lompatan kecil melewati selokan di sawah. 

Panjang tulisannya kira-kira hanya 400-500 kata, namun “terornya” terus terasa. Bahkan hingga malam hari saat akan tidur, sentilan-sentilan penulis sepuh ini terus menggedor kesadaran, ingatan dan hati. 

Penulis ini bernama Jean Couteau. Dari namanya saja, kita tahu ia bukan orang Indonesia, namun sangat mencintai Indonesia melebihi kita, orang Indonesia. Bukan orang Indonesia tapi menulis di koran kompas adalah sesuatu yang sangat unik dan perlu diselidiki lebih jauh. 

Couteau adalah orang perancis, tinggal di Bali sejak tahun 1975.  Tahun 1986, mungkin karena pendidikan pasca sarjana di Indonesia saat itu tidak bermutu, ia mengambil studi doktoral di Paris. Setelah selesai studi doktoral itu, ia kembali tinggal di pinggir Sungai Ayung, Bali. 

Si Bule ini sangat pandai memulai sebuah tulisan. Begitu mulai, ia langsung gas menuju tujuan akhir tulisan: mencerahkan pikiran kita yang kadang kalut dan gelap, menyadarkan kita tentang situasi yang sedang menjadi trending topik.

Pandai memulai sebuah tulisan tentu saja bukan perkara gampang. Seringkali kita terjebak ingin menuliskan sesuatu yang besar dan “wah”. Namun, tidak tahu mulainya dari mana. Memilih ide tulisan dari hal-hal sederhana adalah jurus Couteau yang tertuang dalam “Indonesiaku: Suara Dari Tepi Sungai Ayung”, Kumpulan Tulisan Kolom Udar Rasa, 2017.

Mulai dengan bercerita tentang fenomena baju bercorak kotak-kotak, ia mulai membawa kita masuk membahas politik, dan pembahasan itu tidak hanya kulitnya saja. Langsung menusuk ke hati siapa saja yang membacanya. Jika sudah kena di hati, siapa yang tidak jatuh cinta?

Si Bule ini terus menerus meneror kita dengan pertanyaan: “Benarkah kita ini luhur, religius, dan menghargai sesama?” 

Berhadapan dengan pertanyaan seperti itu membuat kita harus diam sejenak. Memikirkan ulang pola laku kita di tengah masyarakat. Apakah kita sudah benar? 

Udar rasa selalu membuat hari Minggu saya bermakna. Sejak Senin hingga Sabtu, kita digempur dengan banyak hal yang terjadi. Apakah perlu kita pikirkan semuanya? Saya yakin, tidak perlu. Karena itu saya selalu ingin membaca apa yang dipikirkan Couteau. 

Idenya dalam setiap tulisan selalu memberi pukulan di pikiran dan hati. Relung-relung kejiwaan kita disentuh dengan elusan bahkan kadang-kadang dengan goresan. Contoh yang paling jelas adalah saat membaca tulisan dengan judul “Terjebak Sebagai Tokoh”.

Sang tokoh sangat gemar menghadiri undangan-undangan. Undangan apa saja. Mulai dari undangan acara permandian anak, undangan sambut baru, undangan mendoakan anak melanjutkan sekolah, undangan persiapan pernikahan, pernikahan, dan masih banyak lagi (undangan-undangan itu adalah versi saya, bukan versi Couteau).

Di semua acara itu, sang tokoh disambut dengan senyum bahagia oleh tuan acara dan para undangan lain. Seakan-akan sang tokoh adalah raja atau dewa. 

Karena itu semua, sang tokoh merasa bahwa mobil yang dipakainya untuk datang ke semua acara itu tidak lagi bergengsi. Ia memutuskan mengganti kendaraan yang lebih baik dan tentu lebih mahal. Pokoknya harus membeli mobil baru walaupun tidak selalu tahu bagaimana membayarnya nanti. 

Apakah Anda mempunyai pengalaman seperti itu? 

Saya coba memberi analogi lain yang lebih sederhana atau mungkin saja lebih rumit. Tidak apa-apa, yang penting Anda tetap tehibur. 

Pesta pemilihan kepala daerah baru saja berlalu. Rikus senang bukan main. Bupati yang selama ini didukungnya menang. Setelah pelantikkan, Rikus mendapat proyek bernilai 100 juta. 

Saat mendapat dana pengerjaan awal sebesar 30 persen, Rikus langsung membeli motor terbaru. Karena memiliki motor baru tanpa plat nomor, Rikus rajin berkunjung ke teman-temannya dimana saja berada. Di dalam maupun di luar kota, bahkan lintas kabupaten. 

Tujuannya hanya satu. Rikus ingin mengatakan kepada semua orang bahwa: Bupati saya menang dan saya mendapat proyek. Karena sibuk silahturahim ke semua teman-temannya, Rikus lupa mengerjakan proyek. Ia didenda karena tidak menyelesaikan pekerjaannya dan cicilan motornya macet. 

Akhirnya, niat Rikus menikah di akhir tahun batal total. Motor disita, dan ia harus berhutang banyak untuk membayar denda proyek. Tidak berhenti di situ. Rikus segera putar otak. 

Periode pelelangan proyek berikutnya, Rikus minta jatah lagi. Yang berkuasa tidak memberikan, sebab rekam jejak pengerjaan proyek sebelumnya merugikan negara. Muncul dendam. Hati Rikus panas membara. 

“Saat kau maju kemarin, saya menjual harga diri dan tanah. Saat sudah jadi, kau campakkan!” Begitu teriak Rikus di depan teman-temannya setelah meneguk beberapa gelas sopi.

Lima tahun kemudian, pesta demokrasi pemilihan bupati digelar lagi. Rikus membela mati-matian calon bupati yang baru. Kemana-mana ia katakan: “Ini dadaku, mana dadamu? Ini bupatiku, mana bupatimu? Bupatiku setia, Bupatimu ingkar janji!”

Kisah di atas terlalu panjang dan melebar kemana-mana. Maksud saya, kembali ke tulisan Couteau, seringkali kita hidup dalam alam perasaan, bukan kebutuhan. 

Dalam tataran perasaan dan kebutuhan semuanya baik. Membeli mobil tentunya baik. Namun apakah itu perlu karena kebutuhan?

Membicarakan hal di atas, tiba-tiba teringat seorang kenalan yang sukses di kota saya. Sukses menurut saya adalah mempunyai tabungan yang cukup, mempunyai aset yang terus menghasilkan, anak sekolah di perguruan tinggi bergengsi, hubungan suami-istri harmonis dan sehat-sehat saja. 

Sejak saya kecil hingga berusia kepala tiga, mobil kenalan saya itu tidak pernah diganti. Setiap pagi, ia dan istrinya berangkat kerja dan pulang saat sore hari menjelang malam dengan mobil yang sama, selama 30an tahun. 

Awalnya saya berpikir, mungkin karena mobil itu adalah buatan Jepang, makanya tahan lama. Coba kalau buatan Ch*n* atau T*ngger*ng, mungkin besi-besinya sudah tidak kuat lagi menyokong body mobil tersebut. Ternyata, saya salah. Bukan itu jawaban yang diberikan oleh kenalan itu, saat saya bertanya: “Mengapa tidak pernah mengganti mobil baru?”

“Tuhan memberikan semuanya dalam jumlah yang tepat sesuai kebutuhan. Tangan dan kaki masing-masing cukup dua. Mata yang hanya dua itu sebenarnya masih bisa ditambahkan dua lagi di belakang kepala agar bisa melihat orang-orang yang berbicara dibelakang kita. Namun, menurut Tuhan, itu tidaklah perlu. Jadi, mata cukup dua saja.” Ia menarik nafas sebentar, lalu meneruskan.

“Kita juga harus meniru prinsip itu. Jika mobil yang dipakai masih berjalan dengan baik karena selalu dirawat dengan baik, maka untuk apa menggantikan dengan mobil baru? Apalagi jika menambah satu mobil lagi? Apakah kita bisa menyetir sekaligus dua mobil? Saya membutuhkan mobil ini hanya untuk ke kantor dan balik ke rumah. Itupun jarak tempuhnya kurang lebih satu kilo. Sebenarnya saya ingin sekali membeli motor, bukan mobil pada 30 tahun yang lalu. Namun, karena wilayah kita adalah kota hujan, saya khawatir jika hujan saya tidak bisa ke kantor untuk bekerja. Jika tidak bekerja, saya tidak mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan. Itu dosa.” Ia berhenti sejenak sambil minum sedikit kopi dari cangkir. Masih dengan mata penuh semangat ia lanjut menjelaskan.

“Jika ingin sukses, jangan lupa membaca buku Desi Anwar. Judulnya: Hidup Sederhana. Kamu tahu Desi Anwar?”

Tanpa sadar saya menggelengkan kepala dengan mata masih terus menatapnya. 

“Wah, katanya kamu penulis. Kok tidak tahu Desi Anwar? Zaman sekarang memang berbeda dengan zaman saya muda dulu. Zaman dulu, kalau bilang penulis, ya, penulis. Pasti ia adalah penulis buku, novel, cerpen atau apa pun yang aktivitasnya menulis setiap hari. Zaman sekarang, kalau bilang pekerjaannya adalah penulis, masih harus ditanyakan lebih lanjut. Apakah betul pekerjaan sehari-harinya menulis atau membuat status di media sosial?” Tawa dan senyumnya berderai membuat kedua matanya hampir tertutup sama sekali. 

Karot, 27 Februari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.