Mengenal Felix

Saat berdiskusi dengan beberapa teman di sebuah kedai kopi, nama Felix K. Nesi sedang menjadi trending topic. Yang kami diskusikan tentunya bukan masalah kesehatan apalagi masalah politik. Membaca dan menulis adalah topik pembicaraannya.

Pembicaraan menjadi kian seru ketika membahas Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. Felix menjadi juara pertama pada sayembara itu dengan novelnya: Orang-Orang Oetimu. Siapa orang ini? Kurang lebih begitu tanya saya dalam hati.

Beberapa teman terus membicarakannya selama diskusi kami. Apalagi ada seorang teman yang sempat hadir saat pengumuman pemenang sayembara itu. Ia begitu antusias dan heboh menceritakan Felix. Ini orangnya.

Saya hanya diam sambil pelan-pelan menyeruput kopi. Tidak tahan untuk tidak bicara, saya berbisik pelan ke teman yang duduk di samping saya: “Ada buku Felix yang bisa saya baca?”

“Saya ada bukunya. Usaha Membunuh Sepi. Tapi masih dipinjam orang e.”  

“Kapan bisa saya pinjam?”

“Minggu depan.”

Alhasil, saya mendapatkan buku itu 2 minggu kemudian. Usaha Membunuh Sepi ternyata adalah kumpulan cerita pendek. Ada 9 cerita di dalamnya. Karena hanya 79 halaman, cepat sekali saya menghabiskannya.

Tentang Kematian 

Setelah membaca 2 atau 3 kali kumcer ini barulah saya mendapat ide untuk ditulis. Ide itu adalah tentang kematian. Dari 9 cerita, hanya 2 cerita yang tidak sedikitpun menyinggung kematian: “Belis” dan “Indra”. Sisanya, pasti ada cerita kematian atau usaha pembunuhan.

Apa itu kematian? Siapa yang (harus) mati? Mengapa kematian itu terjadi? Dimana saja kematian ini dikisahkan? Kapan kematian seharusnya ada?

Kurang lebih begitu alur tulisan ini yang akan saya uraikan. Bagi Anda yang sedang membaca tulisan ini, tidak perlu berpikir terlalu serius. Ini hanyalah tulisan santai dan ditulis hanya untuk mengingatkan, bahwa saya telah membaca buku ini. Orang Kupang bilang: “Sante sa.”

Apa itu Kematian?

Mati itu artinya sudah hilang nyawa. Kematian terkadang datang tanpa kita ketahui bahkan tidak diminta. Tiba-tiba kematian berada di depan mata. 

Dari cerita pertama berjudul “Ponakan”, penulis menulis begini:

“Saya tarik lebih kuat lagi dan saya ikatkan pada batang pohon. Ia tergantung. Matanya lebih melotot lagi dan lidahnya mulai terjulur keluar. Mulutnya mengeluarkan suara-suara aneh.” (Hal.8)

Kematian bagi si anak adalah sesuatu yang tidak ia ketahui dan minta. Yang ia tahu nafasnya tiba-tiba sesak akibat ikatan tali di lehernya. Setelah itu gelap, mati.

Kematian yang tidak disangka-sangka seperti di atas juga bisa ditemukan pada cerita ke-5: “Pembual”. Mati karena diracun.

“Daripada terus kepikiran, kukasih dia minum air mineral yang sudah kukasih racun. Dia meninggal malam sesudahnya.”(Hal.36)

Siapa yang harus mati?

Cerita kedua: ”Sang Penulis”. Dalam cerita ini kematian digambarkan begitu menyeramkan. Seekor anjing dan seorang istri menemui kematian dengan sedih. 

“Waktu anjing sial itu masih kecil, masih muat dalam genggaman tangan, saya lemparkan keras-keras ke tembok. Kepalanya pecah. Darah dan otaknya berceceran.” (Hal.15)

“Jika saja kepada perempuan ini Agus bisa menceritakan dengan gamblang bagaimana ia menghantam gigi istrinya dengan palu lalu memotong jemarinya dengan gergaji. Bagaimana Agus menusukkan linggis ke dalam kemaluan perempuan itu dan mengoyak isi rahimnya……..(Hal.16).

Yang harus mati tidak saja manusia. Anjing pun demikian. Manusia dan hewan tidak paham mengapa mereka harus mati sebelum waktunya. 

Mengapa Kematian itu terjadi?

Ada banyak alasan sebuah kematian itu datang. Tetapi, ada juga sebuah kematian muncul tanpa alasan. 

Seperti cerita yang ke-8: “Kenangan”. Di dalamnya ada kisah “Nenek Meninggal” (Hal. 49). Kematian nenek adalah kematian dengan alasan yang kuat: semua manusia akan mati jika telah tua.

Lebih lanjut, dalam cerita ke-3: “Sebelum Minggat”, seseorang akan sangat ingin mengirimkan kematian bagi orang lain karena ia berselingkuh (walaupun belum terbukti). Ini jelas beralasan.  

“Ia sangat ingin meludahi wajah istrinya dan memukulnya dengan sangat keras.” (Hal.20-21). 

Dimana kematian itu terjadi?

Kematian itu bisa terjadi di luar rumah. Seperti di sabana dalam cerita pertama: “Ponakan”. Bisa juga di dalam rumah, tepatnya di kamar mandi. Mari baca kutipan dari cerita ke-4: “Usaha Membunuh Sepi” berikut ini.

“Seperti kulit, seperti kulit dengan tonjolan tulang…Seperti…itu tumit! Tumit manusia yang menyembul dari kamar mandi. Entah tumitmu, entah tumit siapa. Jika masih menyatu pada kepala, tubuhnya tentu tergeletak di kamar mandi….”(Hal.34)

Kapan kematian seharusnya ada?

Tidak seorang pun tahu kapan tiba sebuah kematian. Penulis pun demikian. Dalam keadaan paling buruk pun, kematian itu bisa datang dan bisa pula tidak datang.

Ada satu adegan pembunuhan yang begitu sadis, namun korbannya belum juga mati. Seperti pada cerita terakhir “Penumpang Gelap”. 

“Namun sebelum kau menemukan apa-apa, ia telah berdiri, mengeluarkan tangannya dari dalam jaketnya dan menikam perut dan dadamu beberapa kali.”(Hal.74)

Anda bisa membaca dan membayangkan sendiri akibat dari tikaman pada perut dan dada. Tidak hanya sebuah tetapi beberapa tikaman. Namun, tokohnya belum juga mati. Itulah sebuah misteri kematian. 

Jadi, hasil pembacaan saya akan kumcer Usaha Membunuh Sepi adalah: tentang kematian. Penulis ingin menyampaikan tentang apa itu kematian, siapa yang (harus) mati, mengapa kematian itu terjadi, dimana saja kematian itu hadir, serta kapan kematian itu seharusnya ada. 

Semua hal tentang kematian, dibahas lengkap. Mengapa tentang kematian? Pertanyaan ini akan saya tanyakan kepada penulis, jika bertemu nanti. Tetapi, bisa jadi penulis sama sekali tidak berniat menulis tentang kematian atau bahkan bisa jadi karena (tema) kematian sangat dekat dengan kehidupan penulis saat menulis kumpulan cerita ini?.

Pertanyaan untuk Anda

Bagi Anda yang belum membaca buku kumcer Usaha Membunuh Sepi, tetapi sedang membaca tulisan ini, cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di bawah ini. Semuanya tentang kematian. Jangan takut. Anggap saja ini adalah refleksi atau renungan kita pribadi. 

Menurut Anda, apa itu kematian? Apakah seseorang yang telah hilang nyawa juga nafasnya dikatakan mati? Bagaimana dengan semangatnya? Bagaimana dengan ajaran-ajaran atau tulisan-tulisanya selama hidup? Apa yang seharusnya dilakukan selama hidup agar jika mati kita tetap dikatakan hidup?”

Fiksi Etnografis

Membaca 9 cerita dalam buku ini adalah membaca tentang Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam kumcer ini, penulis mengisahkan suasana sabana dan budaya memelihara sapi. Kedua hal itu langsung menyentuh hati saya. 

Kisah tentang kekurangan air di wilayah Nusa Tenggara Timur sangat khas. Untuk mendapatkan air, warga harus mengendarai motor dengan jerigen-jerigen digantungkan pada kedua sisinya. Jaraknya juga tidak main-main, hingga mencapai 7 km. 

Tak heran jika dewan juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 menulis: Felix mampu menggambarkan budaya, suasana kehidupan, karakter orang timur dengan sangat kental dan akurat: sebuah contoh fiksi etnografis yang digarap dengan baik. 

Novel “Orang-Orang Oetimu” sangat saya nantikan. Saya ingin sekali membaca fiksi etnografis itu. 

Ilustrasi Kumcer

Dalam buku kumcer ini ada 3 ilustrasi atau gambar yang menurut saya sangat indah. Ilustrasi pertama berjudul “Ponakan”, kedua berjudul “Lelaki Tua”, yang terakhir berjudul “Terikat dalam Keraguan”.

Saat melihat dan menikmati tiga ilustrasi tersebut saya teringat akan sebuah buku karya Iksaka Banu. Judulnya “Semua Untuk Hindia“. Letak Perbedaannya adalah jumlah dan hubungan ilustrasi dengan kisah-kisahnya.

Dalam buku “Semua untuk Hindia” ada 13 cerita dengan 13 ilustrasi menarik. Lebih penting lagi, semua ilustrasi itu sangat berhubungan dengan cerita yang disampaikan. Bahkan, hanya dengan melihat ilustrasi, saya sudah langsung ingat akan cerita yang dimaskud.

Berbeda dengan “Usaha Membunuh Sepi”, ada 9 cerita, tetapi hanya ada 3 ilustrasi. Tiga ilustrasi itu sangat indah dan artistik. Tetapi, sampai sekarang saya belum mendapatkan benang merah dengan cerita-cerita yang hendak disampaikan. 

Karot, 15 Januari 2020

Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *